Belajar MICE Dari Hong Kong

Monday, 31 August 15   0 Views   0 Comments   Venue

Jalan bisnis MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) Hong Kong mulai benderang pasca-terbentuknya Meeting & Exhibition Hong Kong (MEHK) pada tahun 2008. Badan yang berada di bawah Hong Kong Tourism Board (HKTB) ini bertugas memasarkan Hong Kong sebagai destinasi MICE dunia. Di Indonesia, fungsinya kurang lebih mirip dengan Direktorat MICE yang dibentuk Kementerian Pariwisata pada tahun 2007, atau Jakarta Convention and Exhibition Bureau yang didirikan dua dekade lalu oleh Pemprov DKI Jakarta.

Keberadaan badan ini terbilang berhasil mendongkrak pamor Hong Kong sebagai kota MICE dunia. Berdasarkan ranking ICCA  (International Congress and Convention Association) pada 2013, Hong Kong menduduki peringkat ke-23 dunia, jauh di atas Bali (ranking 40) dan Jakarta (ranking 94). Sektor pameran di Hong Kong juga berkembang. Pada tahun 2012, berdasarkan catatan UFI, revenue bisnis pameran Hong Kong mencapai US$404 juta, sedangkan Indonesia hanya berhasil membukukan US$46 juta.

Ramainya kegiatan itu berdampak langsung pada peningkatan jumlah kunjungan turis MICE ke Hong Kong. Pada tahun 2013, dari 54 juta turis asing yang bertandang ke Hong Kong, sekitar 1,6 juta di antaranya merupakan turis MICE.

Aksesibilitas

Aksesibilitas di Hong Kong

Dalam menentukan sebuah destinasi wisata insentif atau kegiatan pertemuan, aksesibilitas merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan para event planner. Semakin mudah, nyaman, dan murah transportasi dari dan ke sebuah destinasi, peluang untuk terpilih menjadi tuan rumah sebuah acara internasional kian terbuka.

Perihal itu, Hong Kong telah memilikinya. Bandara internasional Hong Kong di Chek Lap Kok, yang dibangun di atas lahan reklamasi berluas 1.255 hektare, setiap harinya melayani lebih dari 1.100 penerbangan rutin dari dan ke 180 kota di dunia. Adapun jumlah manusia yang hilir-mudik di bandara ini mencapai lebih dari 60 juta penumpang pada tahun 2014.      

Sebagai “wajah” kota, bandara ini terhitung apik dan dibekali dengan sarana dan prasarana yang mumpuni.  Untuk akses menuju pusat kota misalnya, tersedia MTR (Mass Transit Railway) yang memungkinkan penumpang mencapai pusat kota hanya dalam waktu sekitar 24 menit. Turis juga dapat menggunakan bus, taksi, atau layanan rental mobil yang banyak tersedia di bandara. Bagi turis yang ingin melanjutkan perjalanan ke Daratan Tiongkok, bandara ini juga dilengkapi dengan pelabuhan feri yang melayani rute pelayaran ke sejumlah kota, seperti Macau, Guangzhou, Dongguan, dan Shenzhen.

Kawasan Bandara Internasional Hong Kong juga mengoleksi sejumlah hotel berbintang. Salah satunya ialah Regal Airport Hotel yang terletak di Terminal 1 bandara. Hotel berbintang lima ini memiliki 1.171 kamar dan 30 ruang pertemuan dengan ruangan terbesar berdaya tampung hingga 1.500 orang.

Fasilitas MICE berskala akbar juga terdapat di dalam kawasan bandara: Asia World Expo. Gedung berluas 70.000 meter persegi yang dibangun pada tahun 2005 itu terdiri dari 10 hall utama dan beberapa ruang meeting. Hall terbesar yang dimiliki Asia World Expo berukuran 10.000 meter persegi (tanpa pilar penyangga), memiliki ceiling setinggi 19 meter, dan dibekali sistem akustik yang baik. Berdasarkan data, berbagai kegiatan, seperti pameran, konferensi, konser, dan sport event yang berlangsung di Asia World Expo memberikan kontribusi perekonomian Hong Kong hingga HK13,4 miliar pada 2010.

Fasilitas MICE

Belajar MICE dari Hong Kong

Beranjak ke pusat kota, terdapat Hong Kong Convention and Exhibition Centre (HKCEC). Gedung yang dibangun di tepian Selat Victoria pada tahun 1988 ini boleh dibilang merupakan potret bisnis MICE di Hong Kong. Seiring dengan pertumbuhan MICE di sana, bentuk gedung yang menyerupai penyu itu telah dua kali mengalami perluasan area: tahun 1997 dan 2009. Bila seluruhnya dijumlah, nilai investasi untuk tiga tahap pembangun tersebut menelan biaya sekitar US$1,1 miliar. 

Berdiri di atas lahan reklamasi seluas 306.000 meter persegi, HKCEC kini memiliki ruang berluas 91.500 meter persegi yang disewakan untuk berbagai acara. Ruang-ruang itu terdiri dari exhibition hall (66.000 meter persegi), dua multipurpose hall (5.700 meter persegi), dua ruang teater (800 meter persegi), 52 meeting room (6.000 meter persegi), serta dilengkapi dengan tujuh buah restoran.     

Sejak tahun 1988 hingga akhir 2014, setidaknya tercatat ada 48.096 event yang berlangsung di HKCEC dengan total visitor mencapai 86 juta orang. “Ada sekitar 1.000 acara berlangsung di HKCEC setiap tahunnya. Tahun lalu, tercatat ada sekitar enam juta orang yang mengunjungi tempat ini,” kata Gloria Fong, Communication Manager HKCEC. 

Sang pengelola, Hong Kong Convention and Exhibition Centre Management Limited (HML), juga merancang venue terbesar di Hong Kong ini terkoneksi langsung dengan dua hotel berbintang yang masing-masing mengoleksi 857 kamar dan 549 kamar, apartemen, perkantoran, serta pusat perbelanjaan. Di sekeliling venue juga terdapat sekitar 6.000 kamar hotel yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

“Berbeda dengan turis leisure, keberadaan fasilitas (sarana) MICE merupakan hal penting. Hong Kong mempunyai fasilitas MICE yang baik itu,” kata Irene, Senior Manager Business Development MEHK.

Selain Asia World Expo dan HKCEC, Hong Kong juga memiliki Kai Tak Cruise Terminal, pelabuhan cruise yang dapat disulap menjadi ruang pameran, meeting, gathering, dan konferensi. Mengambil lokasi di bekas run way bandara lama??Kai Tak Airport??terminal cruise ini memiliki ruang serbaguna berluas 3.000 meter persegi dan ruang terbuka berukuran 850 x 30 meter yang berada persis di tepian Selat Victoria.    

Menurut Chris Ho, Senior Leasing Manager Kai Tak Cruise Terminal, bangunan yang mulai beroperasi pada 13 Juni 2013 ini telah banyak digunakan oleh beberapa perusahaan multinasional. “Ruang tunggu dan ruang pengambilan bagasi di terminal cruise ini juga dapat digunakan untuk venue acara. Biayanya sekitar HK$225.000 per hari,” kata Chris.

Di bagian roof top, terminal cruise ini memiliki sebuah taman hijau berukuran 23.000 meter persegi yang terbuka untuk publik. Dari tempat ini, pengunjung dapat menikmati panorama gedung pencakar langit yang berjajar di tepian Selat Victoria dan berlatar perbukitan yang mengelilingi kota.  

Penulis: Bayu Hari