Flores: Potensi di Pusaran Cincin Api

Monday, 24 August 15   4 Views   0 Comments   Venue

Flores dibekali dengan bahan baku pariwisata yang berlimpah, baik di darat maupun di bawah permukaan laut. Bahan baku alam dan budaya Flores itu pun menanti dipoles agar lebih memikat wisatawan.

Flores yang dalam bahasa Portugis berarti ‘Pulau Bunga’ ternyata cukup banyak mengoleksi gunung api. Sekitar 14 gunung api aktif menghuni daratan berluas 14.300 kilometer persegi ini. Bila disandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia, koleksi gunung api yang dimiliki Flores hanya kalah dari Pulau Jawa, yang mengoleksi sekitar 35 gunung api.

Satu dari belasan gunung api itu adalah Gunung Kelimutu dengan tinggi 1.690 meter dari permukaan laut yang tersohor karena memiliki danau tiga warna. Danau yang masing-masing bernama Tiwu Ata Mbupu (danau arwah para orang), Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (danau arwah muda-mudi), dan Tiwu Ata Polo (danau arwah para tukang tenung) terbentuk dari aktivitas vulkanis Gunung Kelimutu ribuan tahun lalu.       

Serupa dengan Kelimutu, lanskap Flores yang terpaku oleh banyak gunung itu sangat potensial untuk dikembangkan sebagai obyek wisata. Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Flores Destination Management Organization, setidaknya ada 85 lokasi yang memiliki potensi pariwisata di rute Trans Flores, jalan utama yang membelah Pulau Flores. 

“Masih banyak lagi daya tarik wisata yang belum tereksplorasi karena terletak di pedalaman Pulau Flores yang masih sulit dijangkau. Meski begitu, keindahan pariwisata Flores yang masih perawan dan apa adanya kami yakin sangat mampu memikat wisatawan dari seluruh dunia,” ujar Andre Dhenameda, Program Operation Director Flores Destination Management Organization. 

Apa yang diungkapkan oleh Andre bukan sekadar bahasa promosi. Ketika VENUE diundang oleh Flores Destination Management Organization untuk bertandang ke Flores pada April lalu, hal itu memang benar adanya: Flores punya potensi pariwisata, tapi belum ditunjang oleh infrastruktur yang memadai. 

Pantai Blue Stone yang terletak tidak jauh dari jalur Trans Flores merupakan salah satu contohnya. Di sepanjang garis pantainya banyak bertaburan batu berwarna biru, hijau, dan cokelat keunguan. Tak hanya apik dipandang mata, batu-batu itu juga merupakan sumber nafkah masyarakat lokal. Banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari memungut batu untuk dijual Rp15.000-20.000 per karungnya. Meskipun terus diambil, jumlah batu warna-warni itu tak lantas menyusut. Itu karena setiap ombak yang mencapai garis pantai selalu membawa bebatuan itu dari laut. 

Obyek lainnya adalah Taman Laut Riung 17 yang berada di Kabupaten Ngada. Keeksotisan alam bawah lautnya tidak kalah dengan Taman Laut Bunaken di Manado. Di lokasi ini juga terdapat Pulau Kelelawar, sebuah pulau mungil yang menjadi habitat ribuan kelelawar. Selain itu, juga terdapat Pulau Rutong, salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan panorama Taman Laut Riung dari pucuk ketinggian. Dari tempat ini, dasar laut yang menopang pulau-pulau kecil di Taman Laut Riung terlihat cukup jelas.

Puas menikmati keindahan laut, wisatawan dapat menikmati pesona pemandangan Gunung Inerie dari Bajawa, Ibu Kota Kabupaten Ngada, yang berudara dingin. Di Bajawa, wisatawan juga dapat menyaksikan proses matahari terbenam di balik Gunung Ebulobo. Selain itu, turis juga bisa menaiki lembah untuk mengenal lebih dekat Desa Adat Bena, Tololela, dan Gurusina serta pemandian air panas Malanage.

Bagi pencinta kopi, jangan lupa mengunjungi pabrik kopi tradisional di Bajawa milik Papa Wiu di Mangulewa Ngada. Untuk urusan akomodasi, pengunjung tidak perlu khawatir karena di Bajawa terdapat Hotel Silverin yang menawarkan panorama pegunungan di Flores.

Suasana destinasi wisata di Flores

Minim Infrastruktur

Persoalan masih minimnya infrastruktur guna menunjang aktivitas pariwisata diungkapkan oleh Marianus Sae, Bupati Ngada. Menurut Marianus, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak dan sinergi antarkabupaten serta rambu-rambu dari Pemerintah Provinsi dan Pusat guna meningkatkan sektor pariwisata yang memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat Flores.

Hal yang sama juga dirasakan Marmi Kusuma, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ende. “Kurang dan rusaknya infrastruktur penunjang menjadi kendala utama untuk memajukan pariwisata Ende. Kami terkendala dengan ketersediaan dan penanganan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan,” kata Marmi.

Meskipun infrastruktur masih minim, tren kunjungan wisatawan ke Ende menunjukkan angka positif. Pada tahun 2013, jumlah kunjungan wisatawan ke Ende berjumlah sekitar 34.000 turis, kemudian naik menjadi 52.000 turis pada tahun 2014.

Lebih lanjut Marmi menjelaskan, untuk ketersediaan hotel di wilayah Ende sebetulnya sudah cukup, meskipun di beberapa sisi harus dilakukan peningkatan. Saat ini terdapat 28 buah hotel dan homestay dengan jumlah kamar 392 unit. Sayangnya jumlah tenaga kerja di sektor ini hanya 124 orang, atau sekitar satu orang menangani empat kamar untuk delapan jam kerja. Tak ayal kualitas pelayanan pun menjadi tidak maksimal. Tampaknya persoalan pariwisata di Flores tidak melulu soal infrastruktur, melainkan juga sumber daya manusianya. (Baca: Lembang, Sajian Pelengkap Kota Kembang)

Penulis: Nila Sofianty