Ketika Kalimantan Utara Mulai Bersolek

Wednesday, 08 November 17   10 Views   0 Comments   Harry Purnama
Kalimantan Utara
Foto: Venuemagz/Erwin

Pada 25 Oktober 2012, dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2012, Kalimantan Utara (Kaltara) resmi melepaskan diri dari Kalimantan Timur. Triyono Budi Sasongko, Pejabat Gubernur Kaltara, mengatakan, proses pemekaran Kaltara dari Kaltim telah dimulai sejak awal tahun 2000-an.

Kala itu, dengan luas mencapai 211.440 kilometer persegi, Kaltim dinilai tidak optimal dalam mengembangkan kawasan utara wilayahnya sehingga masyarakat lebih banyak mendapatkan pelayanan publik dari Malaysia. Maklum, sisi utara Kaltim saat itu berbatasan langsung dengan Sabah dan Serawak, Malaysia Timur.

Kini, sejak dinyatakan berdiri sendiri, Kaltara menaruh perhatian lebih pada dasar-dasar pemerintahan daerah. “Kami ingin struktur pemerintahan efisien dan efektif. Sekarang ini, lembaga yang terbentuk meliputi sekretariat daerah dengan tiga asisten, DPRD, dan kantor dinas berbekal 10 unit kerja,” kata Budi.

Dengan luas wilayah mencapai 85.618 kilometer persegi, provinsi termuda di Indonesia ini terdiri dari lima kabupaten/kota, di antaranya Tarakan, Bulungan, Malinau, Nunukan, dan Tana Tidung. Untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan, Kaltara hanya didukung 854 Aparatur Sipil Negara (ASN) dari kebutuhan ideal sebanyak 2.635 orang.

Guna memenuhi kekurangan sumber daya manusia tersebut, Kaltara berkoordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB) dan Badan Kepegawaian Negara (BKN). “Tahun 2015, ada moratorium sehingga tidak ada penerimaan ASN. Kami mengusulkan kepada BKN juga Kementerian PAN-RB agar diberikan dispensasi untuk menambah ASN,” jelasnya.

Meski masih sangat muda, Kaltara membuktikan diri mampu bersaing dengan provinsi lainnya dengan menorehkan sejumlah prestasi. Pertama, Kaltara menempati peringkat teratas dalam rekrutmen ASN berbasis teknologi informasi dalam BKN Award 2015.

Kedua, tercatat sebagai provinsi terbaik ketiga dalam tingkat kejujuran paling tinggi atau paling sedikit ditemukan kecurangan dalam penyelenggaraan Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat SLTA. Penghargaan tersebut, menurut Budi, didapatkan berdasarkan indeks integritas UAN per provinsi yang dipaparkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ketiga, dalam pengelolaan dana pembangunan dan anggaran tahun 2014, Kaltara mendapat predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) murni dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Semua prestasi tersebut merupakan awal yang baik bagi Kaltara untuk membangun daerah yang lebih maju,” ungkap Budi.

Istana Kesultanan Bulungan Kalimantan Utara

Istana Kesultanan Bulungan di Kalimantan Utara. Foto: Venuemagz/Erwin

Melepas Belenggu Keterisolasian

Pembangunan infrastruktur menjadi prioritas utama pemerintah Provinsi Kaltara. Berbekal investasi Rp1,4 triliun yang bersumber dari APBN, Kaltara mulai membenahi infrastruktur vital, mulai dari jalan, bandara perintis, dermaga, hingga jembatan. Transportasi udara, kata Budi, cukup penting untuk menjangkau kawasan perbatasan dan pedalaman.

“Saat ini kami tengah memperpanjang landasan pacu sejumlah bandara perintis, seperti di Long Apung Malinau dan Krayan  Nunukan. Kami berharap investasi dari pemerintah pusat dapat mencapai Rp2,2 triliun. Dengan begitu dana tersebut akan difokuskan untuk mempercepat pembangunan Kaltara,” terang budi.

Tidak hanya infrastruktur, Kaltara juga menaruh perhatian lebih pada keterisolasian informasi. Tahun lalu, Kaltara telah mengoperasikan satu unit Base Transceiver Station (BTS) yang dipusatkan di Desa Long Nawang, Kabupaten Malinau. Sementara pada tahun 2015, Kaltara akan dan telah merampungkan pembangunan 36 BTS dengan 10 di antaranya telah beroperasi.

Potensi Pariwisata

Untuk wisata alam, Kaltara bergantung pada hutan dan sungai yang berpotensi besar dikembangkan menjadi wisata petualangan maupun pusat penelitian, sebut saja Hutan Lindung Sungai Sesayap, Hutan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), wisata bahari Pantai Tanah Kuning/ Mangkupadi, Pantai Karang Tigau, wisata alam Sungai Kayan/Sungai Bahau Malinau, wisata Purbakala berupa kuburan batu kuno dan wisata padang ilalang banteng liar kalimantan di Malinau, wisata alam Gunung Rian, Persemaian Inhutani yang berada di Kabupaten Tana Tidung, air terjun Ruab Sebiling, dan air terjun Long bawan.

“Kami optimistis semua potensi ini akan dapat menarik perhatian wisatawan. Apalagi saat ini sudah ada penerbangan langsung dari Jakarta menuju Tarakan yang merupakan pintu masuk utama ke Kaltara,” ungkapnya.