Khaoyai, Thailand: Surga MICE di Perbukitan Hijau

Friday, 10 November 17   7 Views   0 Comments   Harry Purnama
Trip Thailand Khaoyai 1

Pada tahun 1984, Thailand mulai membangun dasar sektor MICE melalui pembentukan Thailand Incentive and Convention Association (TICA) yang diikuti dengan peresmian Queen Sirikit National Convention Center tujuh tahun kemudian. Keseriusan mereka menggarap sektor MICE ditunjukkan dengan membentuk Thailand Convention and Exhibition Bureau (TCEB) pada tahun 2002. Biro inilah yang kemudian menetapkan lima kota utama MICE Thailand: Bangkok, Phuket, Khon Kaen, Pattaya, dan Chiang Mai.

Dalam perkembangannya, Thailand tidak hanya membenahi infrastruktur, akomodasi, dan destinasi semata. Pematangan sumber daya manusia (SDM) dan perlindungan kepada pelaku industri MICE terus dilakukan.

Pada 2015, Negeri Gajah Putih itu mengamankan posisinya sebagai raksasa MICE di pasar ASEAN dengan meluncurkan tiga kampanye pemasaran untuk tahun fiskal 2016 (Oktober 2015-September 2016). Kampanye yang diperkenalkan di Bangkok, 26 Agustus silam, itu bertujuan untuk menggaet lebih banyak wisatawan MICE internasional dan memperluas pasar potensial hingga Afrika Selatan, Eropa Timur, dan Timur Tengah.

Nopparat Maythaveekulchai, Presiden TCEB, mengatakan, TCEB mulai mengaplikasikan tiga kampanye pemasaran itu pada Oktober 2015. Kampanye andalan Thailand tersebut, yaitu “Promosi Pengunjung” yang diperuntukkan bagi segmen konvensi. Program ini memungkinkan penyelenggara event mendapatkan dukungan penuh dari TCEB dalam hal pemasaran sebuah event MICE.

Promosi ini, menurut Nopparat, bertujuan untuk meningkatkan komposisi wisatawan MICE dari negara-negara ASEAN +6 yang merupakan kumpulan 10 negara anggota ASEAN ditambah Cina, India, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. “Ini bertujuan untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan MICE, terutama yang melibatkan lebih dari 300 peserta,” kata Nopparat.

Kedua, kampanye “Thailand Connect …Connect beyond the Capital… Fly to Explore Our Diverse Destination” yang mempertemukan segmen meeting dan insentif. Selain untuk kepentingan MICE, program ini juga ditargetkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan leisure ke Thailand.

Nopparat menjelaskan, TCEB memberikan hak istimewa kepada organizer yang menggelar event di lima kota utama MICE Thailand. Keistimewaan itu, jelasnya, berupa subsidi penerbangan domestik yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan rekanan TCEB.

Thailand Khaoyai

Ketiga, kampanye “Thailand BIG Thanks” yang memberikan penawaran khusus bagi kelompok korporasi asing yang memasukkan Thailand dalam kegiatan meeting atau insentif. Kampanye ini ditujukan untuk meningkatkan jumlah event konvensi berskala besar atau mega-event di Thailand.

Sepanjang tahun 2014, Thailand telah kedatangan 919.164 wisatawan MICE dengan jumlah pengeluaran mencapai US$2,69 miliar atau sekitar Rp38,36 triliun. Dari angka itu, subsektor konvensi menyumbang US$891,23 juta (Rp12,7 triliun) dan pertemuan sekitar US$839,10 juta (Rp11,97 triliun). Sementara subsektor insentif berkontribusi US$509,10 juta (Rp7,26 triliun) dan pameran sekitar US$453,87 juta (Rp6,47 triliun).

Tahun 2015, Thailand memancang target kunjungan wisatawan MICE di angka 1.036.300 dengan pengeluaran mencapai US$3,55 miliar. Untuk itu, negara berluas 513.120 kilometer persegi itu menawarkan Khao Yai sebagai destinasi andalan baru yang siap memanjakan wisatawan MICE.

Terletak 205 kilometer di timur laut Kota Bangkok, dibutuhkan waktu tiga jam perjalanan untuk mencapai Khao Yai. Bagi sebagian besar warga Thailand, area perbukitan dengan luas 2.000 kilometer persegi ini dikenal sebagai kawasan taman nasional yang terdaftar dalam situs bersejarah UNESCO sejak tahun 2005.

Dilengkapi pusat konvensi, 184 hotel dengan jumlah kamar 7.024, taman hiburan, taman nasional, ranch, dan beragam aktivitas seru bagi wisatawan insentif melambungkan nama Khao Yai sebagai destinasi baru MICE di Thailand. Meski terbilang pemain baru, pada 2014 Khao Yai telah disambangi 3.808.476 wisatawan domestik dan 359.953 wisatawan mancanegara.

Khao Yai Convention Center

Tidak ada yang menyangka di tengah perbukitan nan hijau dan jauh dari pusat keramaian kota terdapat pusat konvensi Khao Yai Convention Center (KYCC). Venue 3.800 meter persegi yang beroperasi sejak akhir Juli 2014 ini terintegrasi dengan tiga hotel dan resor: The Greenery Resort, Botanica, dan Foresta.

Thailand Khaoyai Convention Centre

Gedung yang mengandalkan Grand Ballroom berluas 1.560 meter persegi dengan kapasitas mencapai 1.300 orang ini didukung lahan parkir yang dapat menampung hingga 300 kendaraan. Pusat konvensi ini juga memiliki exhibition hall dengan daya tampung sekitar 600 orang serta tujuh ruang pertemuan dengan luas 128-240 meter persegi. Rangkaian fasilitas tersebut membuat Khao Yai Convention Center kerap dipilih menjadi venue pameran, gathering, rapat, konser, kegiatan olahraga, hingga pesta pernikahan.

Farm Chokchai

Bagi wisatawan MICE, khususnya wisatawan insentif yang menginginkan pengalaman berbeda, Khao Yai menawarkan Chokchai: sebuah kawasan peternakan seluas 8.000 hektare yang dikelola oleh Khun Chokchai Bulakul. Lelaki yang menggemari kehidupan liar layaknya koboi ini mulai mengembangkan Chokchai pada tahun 1957 dengan 1.200 sapi di lahan 40 hektare yang terletak di dataran tinggi Pakchong, Nakhon Ratchasima.

Thailand Khaoyai Chokchai

Lima dekade kemudian, peternakan ini memiliki 8.000 sapi perah yang susu segarnya didistribusikan ke sejumlah kawasan di Thailand serta restoran steak berbahan baku impor dari Australia. Khusus untuk memanjakan wisatawan keluarga, Chokchai menyuguhkan pertunjukan koboi, kegiatan memerah susu sapi, membuat es krim, bercocok tanam, menunggang kuda, ATV, hingga berkemah di alam terbuka.

GranMonte

Pesona Khao Yai lainnya terletak di GranMonte, perkebunan anggur berluas 16 hektare yang terhampar di Lembah Asoke, sekitar 175 kilometer di timur laut Bangkok. Perkebunan anggur ini dimiliki dan dikelola oleh Visooth Lohitnavy bersama anak sulungnya, Nikki Lohitnavy, sejak tahun 1999.

Mereka menyadari bahwa perkebunan anggur bukanlah proyek jangka pendek, dibutuhkan persiapan matang untuk mendapatkan hasil maksimal. Visooth dan Nikki mulai menata kebun anggur, mulai dari saluran air, kawat, pagar, hingga persiapan benih.

“Untuk benih, kami memilih IAC572 dari Brasil karena ada kesamaan iklim dan kondisi tanah. GranMonte sekaligus menepis mitos kalau perkebunan anggur harus berada di atas atau di bawah 20 derajat garis ekuator,” ungkap Visooth.

Dia menambahkan, apabila umumnya perkebunan anggur dipanen dua kali dalam setahun, GranMonte hanya melewati satu kali panen yang dilakukan pada Januari hingga Maret. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan wine berkualitas prima yang diperoleh dari pengolahan anggur menggunakan mesin-mesin canggih yang didatangkan dari Perancis, Jerman, Italia, dan Australia.

“Anggur yang telah diolah kemudian dikemas dalam botol yang kami impor langsung dari Perancis. Inilah yang membuat wine buatan kami tidak jauh berbeda dari wine impor. Pasalnya, kami juga membayar pajak yang sama seperti yang dikenakan kepada para importir minuman jenis ini,” terang Nikki.

Dari sisi kualitas, GranMonte, yang memproduksi 120.000 botol per tahun ini, telah mengharumkan nama Thailand melalui kemenangannya dalam sejumlah kompetisi wine internasional. Penghargaan Hong Kong International Wine & Spirit Competition yang didapatkan tahun lalu melalui anggur berjenis Sakuna Rosé, Spring Chenin Blanc, dan Viognier merupakan salah satu contohnya. Selain itu, GranMonte juga memenangkan medali perak dalam ajang AWC Vienna 2014, sebuah kompetisi wine internasional dengan kualifikasi paling sulit.

“Semua keberhasilan ini memang tidak datang tiba-tiba. Saya bahkan harus kuliah Oenologist untuk mendapatkan hasil maksimal. Tentunya, kami bangga orang-orang dari berbagai negara datang ke GranMonte untuk mencicipi dan mempelajari wine Thailand,” imbuh Nikki.