Mencari Jawara Baru Banten

Tuesday, 05 April 16   3 Views   0 Comments   Venue

Daeng tampak serius menakhodai gerak kapalnya ketika siang akhir Oktober lalu dia membawa saya berlayar dari dermaga Karangantu, Serang, menuju Pulau Tunda di Provinsi Banten. Seperti kebanyakan nelayan, lelaki berusia 60 tahun itu berperawakan kurus dengan kulit terbakar dan sedikit keriput.

Perjalanan menuju Pulau Tunda dari Karangantu membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam menggunakan kapal nelayan. Untuk akses yang lebih cepat tersedia dari Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, dengan perjalanan sekitar satu jam.

Sebagian besar wisatawan memilih berangkat dari Karangantu karena sewa kapal lebih murah. Kapal dengan kapasitas 20 penumpang biasanya disewakan Rp3 juta per unit atau sekitar Rp150.000 per orang. Bandingkan dengan harga sewa kapal dari Kepulauan Seribu yang bisa mencapai Rp500.000 per orang. 

Kondisi geografis Banten dengan garis pantai sepanjang 1.500 kilometer dan dikelilingi Laut Jawa, Samudra Indonesia, dan Selat Sunda menjadi daya tarik utama pariwisata lokal. Inilah yang mendasari Dinas Pariwisata Provinsi Banten menjajaki dan menggali potensi wisata Pulau Tunda.

Pulau Tunda

Menurut Daeng, Tunda adalah pulau subur yang dihuni 1.200 kepala keluarga. Sekitar 85 persen penduduknya berprofesi sebagai nelayan, dan sisanya adalah petani. “Di sini semuanya bisa ditanam, mulai dari kacang, semangka, pepaya, ubi, dan singkong. Apa pun tumbuh di Pulau Tunda,” kata Daeng dengan logat Sunda kental.

Hasil budi daya laut yang ada di pulau tersebut juga terkenal berkualitas dan segar. “Ikan dan udang di Pulau Tunda berbeda dengan hasil tangkapan di tempat lain. Dijamin lebih besar dan segar!” tuturnya.

Pulau Tunda merupakan satu dari deretan pulau kecil di Banten yang menyimpan pesona wisata bahari. Pesona utama pulau ini terletak di bawah laut, dengan air jernih dan jajaran terumbu karang terawat. Bila beruntung, wisatawan dapat bertemu penyu ketika snorkeling. Di Pulau Tunda, wisatawan dapat menikmati matahari terbit dan terbenam dengan pemandangan lumba-lumba berlompatan di kejauhan dan ekosistem bakau yang cukup populer di kalangan peneliti.

Tak hanya potensi alam yang memikat, produksi kapal nelayan buatan penduduk lokal pun menjadi daya tarik tersendiri. Inilah yang membuat penduduk lokal menjulukinya “Bunaken Banten”. Meski tak seramai Kepulauan Seribu, tapi Pulau Tunda memiliki sejumlah homestay sebagai tempat menginap. Rumah penduduk juga dapat menjadi alternatif penginapan.

Selain Pulau Tunda, Banten masih memiliki Pulau Sangiang yang terletak di perairan Selat Sunda. Sejatinya, Pulau Sangiang merupakan taman wisata alam yang dikelola Kementerian Kehutanan. Pulau Sangiang dihuni lebih dari 50 kepala keluarga yang bermukim di perkampungan bernama Lagoon Waru. Mereka umumnya nelayan perantau dari Serang dan Lampung.

Sayang, meski ada rumah penduduk, wisatawan tidak bisa menginap di Pulau Sangiang karena minimnya fasilitas. Itu sebabnya kebanyakan wisatawan yang menyambangi Sangiang hanya menjadikannya sebagai destinasi one day trip.

Untuk menuju Pulau Sangiang dapat ditempuh dari Anyer dan Carita menggunakan speed boat dengan waktu tempuh satu hingga dua jam. “Sebaiknya datang ke Pulau Sangiang dari pagi, kemudian kembali ke Anyer sebelum sore. Ombaknya besar, bisa menyulitkan perjalanan dari dan menuju pulau,” kata Syafei, juru mudi speedboat.

Serupa dengan Pulau Tunda, potensi utama Pulau Sangiang adalah daya tarik bawah laut. Kawasan ini memiliki sejumlah titik selam menawan, seperti Gunung Gede, Goa Kelelawar, dan Tanjung Bajo. Di tiga titik inilah sering kali ditemukan ubur-ubur, hiu, dan penyu. Sementara untuk snorkeling, wisatawan dapat menjelajahi Batu Raden dengan kecantikan terumbu karang yang tak kalah menarik.

Sebagian besar wilayah Pulau Sangiang tertutup hutan dengan beragam vegetasi, seperti cemara laut, bayur, ketapang, nyamplung, waru laut, walikukun, bakau, dan cantigi. Hutan tersebut juga menjadi habitat sejumlah fauna yang dilindungi, seperti lutung, kucing hutan, landak, biawak, elang laut, dara laut, raja udang, belibis, kuntul karang, camar, pelatuk besi, burung cangak, dan ular sanca.

Selain pesona alam, Pulau Sangiang juga menyimpan peninggalan Perang Dunia II berupa reruntuhan bangunan dan menara pandang (mercusuar). Ada pula reruntuhan resor yang memperindah penampakan pulau.

Minim Fasilitas dan Partisipasi Lokal

Pulau Tunda dan Pulau Sangiang memang tengah dijajaki Dinas Pariwisata Provinsi Banten untuk dipromosikan sebagai destinasi wisata baru. Namun, menurut Sudirman, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DPD Banten, terdapat dua kendala utama dalam mempromosikan kedua pulau tersebut.

Pertama, minimnya kesadaran penduduk lokal akan potensi yang disimpan kedua pulau itu. Sudirman mencontohkan kepala desa Pulau Tunda yang masih belum tahu bagaimana mengembangkan potensi pariwisata pulaunya. “Sebagian besar warga masih menganggap skeptis kedatangan wisatawan akan membawa manfaat bagi mereka. Itu sebabnya, masih sedikit homestay yang layak di pulau ini,” katanya.

Data sahih terkait jumlah wisatawan yang menyambangi Pulau Tunda juga tidak diketahui pasti. Hal itu, menurut Sudirman, akibat kurangnya komunikasi antara penduduk setempat, pemerintah, dan biro perjalanan. Sejauh ini, diperkirakan ada 2.000 wisatawan yang mengunjungi Pulau Tunda setiap bulan.

“Tapi angka pastinya tidak diketahui. Pasalnya, tidak ada laporan dari pengelola atau agen wisata yang membawa turis. Jadi, tidak bisa diperkirakan ada berapa yang datang,” kata Rosyid, penduduk Pulau Tunda.

Snorkeling di Pulau Tunda

Dari segi peralatan pendukung wisata, Pulau Tunda saat ini baru menyediakan 40 set perlengkapan snorkeling. Kebanyakan wisatawan membawa peralatan pribadi atau menyewanya dari agen wisata. Sudirman mengaku, popularitas Pulau Tunda mulai merangkak naik dengan metode promosi dari mulut ke mulut.

“Biasanya wisatawan mengikuti open trip dari agen wisata di Jakarta atau Banten. Biayanya mulai dari Rp350.000, termasuk makan, peralatan snorkeling, dan akomodasi untuk dua hari satu malam,” ungkap Sudirman.

Kedua, minimnya akses transportasi. Akses dari Pulau Tunda ke Dermaga Karangantu hanya memanfaatkan kapal nelayan dengan waktu tempuh cukup lama. “Sebenarnya ada kapal feri dari Pulau Tunda ke Karangantu. Itu pun hanya beroperasi tiga kali sepekan, yaitu setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Kapal ini memang kebanyakan digunakan penduduk Pulau Tunda yang ingin menjual hasil pertaniannya ke Serang,” ujar Daeng.

Lain lagi dengan Pulau Sangiang. Selain minim fasilitas, kepemilikan pulau ini juga masih belum jelas. Sebagai taman wisata alam, Sangiang secara resmi dikelola oleh Kementerian Kehutanan sehingga izin mengunjungi pulau harusnya didapatkan dari pihak kementerian terkait.

Namun, wisatawan sering kali dimintai surat izin oleh PT Pondok Kalimaya Putih (PKP), sebuah perusahaan swasta yang pada era 90-an pernah beroperasi di pulau ini. Awalnya, PKP mengelola Pulau Sangiang dengan cetak biru mega proyek yang mengintegrasikan resor mewah, lapangan golf, dan rumah sakit setara standar internasional.

Seiring krisis moneter yang menerpa Indonesia pada 1998 disertai isu perusakan lingkungan, megaproyek PKP terbengkalai. “Harusnya PKP tidak memiliki wewenang lagi di sini. Namun, mereka masih sering meminta surat izin kepada wisatawan, seakan-akan pihak yang berwenang. Seharusnya Pemerintah Banten cepat menanggapi permasalahan ini,” keluh Sudirman.

Dinas Pariwisata Provinsi Banten menyadari masih banyak yang perlu dibenahi dari kedua pulau tersebut sehingga laik dipromosikan. “Yang utama adalah memberikan pengetahuan dan melatih warga agar sadar Sapta Pesona. Dengan begitu, mereka siap memberikan jasa wisata kepada turis yang datang,” kata Endrawati, Kepala Dinas Pariwisata Banten.

Endrawati menambahkan, rumah-rumah yang ada perlu dibina agar dapat dimanfaatkan sebagai homestay. “Pihak yang berwenang di pulau juga harus bersinergi dengan Kabupaten Serang agar potensi yang ada bisa dimaksimalkan dengan baik,” tambahnya.

Penulis: Mutya Hanifah