Menelusuri Jejak Budaya Arab di Kampung Al Munawar

Monday, 28 August 17   30 Views   0 Comments   Harry Purnama
Kampung Al Munawar
Foto-foto: Venuemagz/Harry

Kota Palembang terdiri atas empat suku dominan, yakni Cina, Padang, Jawa, dan Arab. Karenanya, dulu pemerintah kolonial Belanda mengelompokkan tempat tinggal suku-suku tersebut dengan tujuan memudahkan pengawasan, seperti suku Cina di Kampung Kapitan dan suku Arab di Kampung Al Munawar.

Kampung Al Munawar, atau biasa disebut juga Kampung Arab, awalnya adalah kampung yang tertutup. Tidak sembarang orang bisa masuk ke perkampungan ini, apalagi bertatap mata dengan perempuan-perempuan asli Kampung Al Munawar, sebab sudah menjadi budaya mereka untuk tidak bertemu dengan orang yang tidak satu keturunan.

Namun, sejak ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah, wisatawan pun mulai boleh masuk dan berkeliling di kampung yang usianya sudah ratusan tahun ini. Jika menggunakan mobil, Anda akan melalui pintu masuk sebuah gang kecil yang hanya muat satu mobil, lalu akan berujung di sebuah lapangan besar tempat memarkirkan kendaraan. Tiket masuk ke Kampung Al Munawar ini hanya Rp3.000 per orang, sudah termasuk biaya parkir.

Kampung Al Munawar

​Kampung Al Munawar juga bisa diakses melalui Sungai Musi, yakni menggunakan perahu dari dermaga di Benteng Kuto Besak. Jaraknya tak jauh, hanya sekitar 10 menit perjalanan. Sebuah masjid terapung yang terbuat dari kayu menyambut wisatawan yang datang melalui jalur sungai.

Di Kampung Al Munawar terdapat 18 bangunan—yang seluruhnya terbuat dari kayu, dan 8 bangunan di antaranya telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Bangunan yang tertua berada di dekat area parkiran, yaitu Rumah Gudang dengan usia lebih dari 300 tahun.

Di kampung ini tinggal 64 kepala keluarga yang merupakan generasi ke-7 dan ke-8 dari Abdurrahman Al Munawar, ketua pertama di kampung ini yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial Belanda.

(Baca juga: Tuan Kentang Penjual Kain Khas Palembang)

Aktivitas yang bisa dilakukan di kampung ini utamanya adalah wisata sejarah menelusuri bangunan-bangunan tua yang ada di tempat ini serta budaya yang melingkupinya. Selain itu, wisatawan juga bisa mencoba menikmati sajian khas Arab diiringi musik gambus—tentu dengan perjanjian terlebih dahulu dengan pengurus kampung agar disiapkan.

Kampung Al Munawar

Jalan penghubung antara dermaga dengan lapangan utama di Kampung Al Munawar.

Bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke kampung ini, sebaiknya datang sebelum sore hari karena setelah magrib semua penduduk harus berkumpul di musala untuk wirid dan mengaji. Kampung ini buka setiap hari bagi wisatawan, kecuali hari Jumat libur. Sayangnya, di kampung ini belum ada homestay bagi turis.

Irene Camelyn Sinaga, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, mengatakan, Pemerintah Kota Palembang sedang memprioritaskan pembangunan di sepanjang Sungai Musi, salah satunya adalah pengembangan Kampung Al Munawar.

“Kami lebih mencoba menggarap kampung-kampung karena di sana tradisinya masih ada,” ujar Irene.

Kampung Al Munawar