Mengemas Trip Raja Ampat

Monday, 19 December 16   0 Views   0 Comments   Venue

Berluas 46.000 kilometer persegi, dengan 85 persennya berupa lautan, Kepulauan Raja Ampat tak ubahnya sebuah akuarium raksasa. Alam bawah lautnya mengoleksi lebih dari 500 jenis karang, 1.000 jenis ikan, dan 600 spesies moluska. Jumlah itu mewakili 75 persen biota laut dunia.

Meskipun agak terlambat, hal itu disadari dapat menjadi bekal untuk mengembangkan industri pariwisata di Raja Ampat oleh pemerintah daerah. Oleh karena itu, pasca-menjadi daerah otonom pada tahun 2003, Raja Ampat serius menggarap potensi pariwisata baharinya.

Promosi pun gencar dilakukan dan berbagai infrastruktur secara bertahap dibangun. Hasilnya, kunjungan wisman berhasil ditingkatkan, dari sekitar 1.000 menjadi 18.000 wisman per tahun (target 2015). Kunjungan turis itu menjadi berkah bagi masyarakat Raja Ampat, juga pemerintah daerah. Pada 2015, pendapatan daerah dari penjualan tiket masuk kawasan wisata Raja Ampat mencapai Rp6 miliar. 

Meskipun yang bertandang masih didominasi wisatawan mancanegara, tren kunjungan wisatawan domestik mengalami peningkatan. Setidaknya itu dirasakan oleh Heriyadi, travel planner, yang telah menjual paket wisata Raja Ampat sejak empat tahun lalu. “Sebelumnya saya membawa satu grup per tahun. Namun, tahun ini saya membawa dua grup ke Raja Ampat. Dalam satu grup, pesertanya sekitar 11-12 orang,” kata Heriyadi. 

Kegiatan wisata yang ditawarkan pun tidak melulu diving, tetapi juga menjual keeksotisan lanskap Raja Ampat yang didominasi panorama bebatuan karst dan pulau-pulau kecil yang terserak di antara pasir putih dan birunya laut. Menurut Heriyadi, beberapa obyek wisata yang saat ini menjadi tren di kalangan travelers di antaranya adalah bentang alam karst di Painemu.

Berada di ketinggian 100 meter di atas permukaan laut, obyek wisata yang dapat ditempuh 1,5 jam dengan speed boat dari Waisai, Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat, menawarkan pemandangan hamparan bukit karst yang menghijau di antara birunya laut. Obyek serupa Painemu juga terdapat di Wayag, dengan bentangan karst yang lebih luas.

Desa Wisata Arborek juga masuk dalam daftar obyek yang ditawarkan oleh travel planner di Raja Ampat. Desa mungil berpopulasi sekitar 40 kepala keluarga ini merupakan salah satu titik snorkeling terbaik. Kerumunan ikan beraneka warna yang berenang di sela-sela rimbunnya terumbu karang menjadi daya tarik utama tempat ini.    

Selanjutnya adalah Pasir Timbul, pulau pasir dengan lebar kurang lebih dua meter dan panjang 100 meter. Pulau ini hanya dapat dinikmati pada pagi atau sore hari, ketika air laut sedang surut. Perairan di sekitar Pasir Timbul ini juga tersohor sebagai titik snorkeling favorit para wisatawan karena memiliki air yang jernih, mengoleksi pelbagai jenis ikan, dan terumbu karang yang masih dalam kondisi baik.

Atraksi wisata lain yang tidak kalah menarik ialah menyaksikan burung cenderawasih menari di Desa Sawinggrai di Pulau Gam. Tarian erotis burung pejantan untuk merayu betina ini hanya dapat dinikmati pagi hari (06.00-08.00) dan sore hari (16.00-17.00). Dari Waisai, perjalanan menuju Desa Sawinggrai berdurasi sekitar tiga jam perjalanan.

Untuk menikmati paket wisata itu, biaya yang harus dikeluarkan wisatawan terbilang lumayan. Jumlahnya kurang lebih sekitar Rp15 juta. Angka itu setara dengan paket wisata yang ditawarkan biro perjalanan untuk pelesiran ke beberapa negara di Eropa.

Namun, besarnya biaya tersebut tidak mengurangi minat wisatawan untuk bertualang ke Raja Ampat. Hal itu tecermin dari kenaikan kunjungan wisatawan dan meningkatnya investasi di sektor pariwisata. Menurut Yusdi Lamatenggo, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat, saat ini sudah ada beberapa investor yang akan membangun resor untuk memenuhi kebutuhan akomodasi wisatawan.

 “Saat ini baru ada 13 resor. Namun, tahun depan akan bertambah, sebab sudah ada empat investor yang akan membangun resor baru, salah satunya Swiss-Belhotel yang akan membangun resor di Pulau Gam,” kata Yusdi. 

Menurut Humphry Sinyal, Ketua Asosiasi Wisata Layar Indonesia, cara lain yang sedang menjadi tren di Raja Ampat ialah paket wisata liveaboard (LOB). Melalui paket ini, wisatawan dapat merasakan sensasi menjelajahi Kepulauan Raja Ampat dari atas pinisi. Bagaikan hotel berlayar, wisatawan pun tak direpotkan untuk mencari akomodasi yang jumlahnya masih sangat terbatas di Raja Ampat.

Mampu mengakomodasi sekitar 10 orang, paket LOB ini dapat menjadi alternatif bagi korporasi yang ingin memberikan wisata insentif kepada karyawan atau mitra bisnisnya. Adapun biaya yang dibutuhkan untuk menyewa kapal ini adalah sekitar Rp85 juta.

Meningkatkan Reputasi

Guna mendongkrak pamor sebagai destinasi wisata unggulan, pemerintah daerah tengah berjuang agar “akuarium raksasa” yang mengoleksi 75 persen biota bawah laut dunia dapat diakui sebagai World Heritage. Sementara perbukitan karst yang membentang di kepulauan ini diajukan untuk masuk dalam Global Geopark Network (GGN).

Selangkah lagi, impian Raja Ampat agar alam bawah lautnya diakui oleh UNESCO bakal terwujud. Saat ini, Raja Ampat sudah masuk dalam daftar tunggu UNESCO untuk dibahas dalam Sidang UNESCO. Sementara itu, untuk masuk dalam Jaringan Global Geopark, jalan panjang dan berliku harus dilalui Raja Ampat. “Saat ini, kami sedang mengajukan proposal Asia Pacific Geopark Network (APGN). Prosesnya masih panjang,” kata Yusdi.

Menurut Achyarudin, Pengamat Geopark, Raja Ampat ditargetkan masuk dalam GGN pada tahun 2019. “Saat ini masih dalam proses untuk menjadi geopark di level nasional. Targetnya pada tahun 2017. Setelah itu, baru diajukan masuk ke GGN pada tahun 2019,” kata Achyarudin.

Achyarudin menjelaskan, potensi Raja Ampat masuk dalam GGN cukup besar, sebab Kepulauan Raja Ampat terbentuk dari pergerakan Lempeng Pasifik dan pembentukan laut dalam pada 231-163 juta tahun lalu (Zaman Jura). “Tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan itu terkait dengan aksesibilitas, pemahaman masyarakat, dan political will dari pemerintah daerah,” ungkapnya.

Bila alam bawah laut telah menyandang status Warisan Dunia, dan bentangan karstnya masuk dalam Jaringan Global Geopark, reputasi Raja Ampat akan meningkat karena kualitasnya telah diakui dunia. Dampaknya adalah peningkatan kunjungan turis dan kesejahteraan ekonomi masyarakat akan terangkat.

How to Get There

Gerbang masuk utama ke Raja Ampat adalah melalui Sorong. Rute penerbangan Jakarta-Sorong telah dilayani oleh empat maskapai: Garuda Indonesia, Sriwijaya, Lion Air, dan Express Air. Durasi penerbangan sekitar empat jam dengan harga tiket Rp4-5 juta (pulang-pergi).

Dari Sorong, tersedia kapal cepat dari Pelabuhan Pelayaran Rakyat menuju Waisai dengan durasi perjalanan kurang lebih dua jam. Jadwal keberangkatannya pada hari Senin, Rabu, Jumat (pukul 09.00 dan 14.00) dan Selasa, Kamis, Sabtu, Minggu (pukul 14.00). Harga tiket ekonomi Rp130.000 dan tiket VIP Rp200.000. Di Waisai, speedboat menjadi transportasi utama. Biaya sewa speedboat mulai dari Rp6 juta hingga 15 juta, disesuaikan dengan kapasitas penumpang dan jarak tempuh.

Untuk akomodasi, sampai saat ini Waisai belum memiliki hotel berbintang. Wisatawan yang bertandang ke sini biasanya menginap di resor yang sebagian besar masih dikelola oleh pihak asing. Untuk menyiasati itu, Pemda Raja Ampat membentuk Kelompok Homestay yang saat ini telah berjumlah 52. Setiap homestay rata-rata memiliki 3-4 kamar. 

Namun, bila ada korporasi yang akan menyelenggarakan wisata insentif, di Sorong sudah tersedia beberapa hotel berbintang. Salah satunya adalah Swiss-Belhotel Sorong yang memiliki 126 kamar dan dilengkapi ruang pertemuan berkapasitas hingga 300 orang.

Penulis: Bayu Hari