Merandai Medan

Thursday, 14 April 16   0 Views   0 Comments   Venue

City tour adalah istilah jamak bagi sebuah tur yang berlangsung singkat ke banyak obyek sekaligus di suatu kota. Medan punya potensi besar untuk menggarap bisnis ini demi menaikkan PAD dan melecut perekonomian. Kota ini memiliki banyak obyek menarik. Kulinernya telah tersohor. Aset sejarahnya berlimpah. Sebagai hub bisnis di ujung barat negeri, Medan juga tidak kesulitan untuk memikat tamu MICE. 

Untuk melacak magnet-magnet Medan, penulis menghubungi beberapa tokoh pariwisata lokal, seperti Solahuddin Nasution, Ketua ASITA Sumut; serta Mercy Panggabean, Marketing Director Wesly Tour & Travel. Keduanya mengakui, Medan punya daya tarik turisme, tetapi belum digarap serius.  

Banyak pelaku pariwisata belum menawarkan city tour. Menurut Solahuddin, paket ini dapat menjadi menu pembuka sebelum wisatawan bertolak menuju destinasi utama di Sumatera Utara, seperti Danau Toba, Bukit Lawang, maupun Tangkahan.

Komentar senada dilontarkan Maruli Damanik, Ketua DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumatra Utara. Menurutnya, kekayaan budaya Sumatra Utara dapat menjadi daya tarik untuk mendukung MICE di Medan. Ia mengambil contoh ajang Batak Orchestra Tobatak. Pentas musik Batak berisi 84 musisi orkestra ini dapat menjadi inspirasi bagi pelaku MICE di Medan. “Ini bisa dikemas agar menjadi pendukung MICE di Medan,” ujar Maruli yang telah melirik peluang industri MICE dengan membuka unit usaha di bidang event MICE.

Corat-coret hasil diskusi dengan pelaku MICE di Medan kemudian menghasilkan sebuah itinerary yang layak dikemas dalam paket city tour. Perjalanan diawali dengan mengunjungi Istana Raja Maimun, berlanjut ke rumah Tjong A Fie, naik becak motor ke Pajak Ikan Lama, hingga santap siang di Tip Top: restoran yang berdiri sejak tahun 1934.

Istana Ikonis

Berdasarkan data Badan Warisan Sumatera, setidaknya ada 600 bangunan bersejarah di Kota Medan. Istana Raja Maimun merupakan ikonnya yang paling terkenal.  

Istana Raja Maimun menyimpan riwayat yang menarik untuk ditelusuri. Konon, strukturnya dirancang oleh arsitek Italia. Facade-nya merupakan kombinasi eklektik antara gaya Moghul, Timur Tengah, Spanyol, Belanda, dan Melayu. Istana kebesaran Kesultanan Deli ini selesai dibangun pada tahun 1888, di masa pemerintahan Sultan Mahmud Al Rasyid.

Di istana berluas 2.772 meter persegi yang bermukim di Jalan Brigadir Jenderal Katamso itu tersimpan pelbagai barang peninggalan Kesultanan Deli dan perabotan kuno dari masa penjajahan Belanda. Salah satu artefak yang impresif adalah meriam buntung atau lazim disebut meriam putung oleh masyarakat setempat. Meriam ini punya kaitan erat dengan legenda Putri Hijau, putri jelita yang menampik pinangan Raja Aceh. Atas keberaniannya, sang putri berkembang menjadi simbol perlawanan dan kemandirian kaum wanita di zamannya.

Museum Raja Maimun

Jejak MICE

Jalan Kesawan (Jalan Ahmad Yani), jalan tertua di Medan, mengoleksi banyak aset tua warisan zaman kolonial, contohnya Hotel Natour Dharma Deli (dulu bernama Hotel De Boer), Kantor Pos Medan, Gedung Stasiun Kereta Api, dan Rumah Tjong A Fie. Aset yang disebut terakhir ini sangat laris di kalangan pelancong.

Tjong A Fie adalah taipan asal Guangdong yang merantau ke Medan (1860-1921). Rumahnya di Jalan Kesawan No. 105 bercerita banyak tentang kehidupan bisnis di Medan pada masa silam. Tak heran jika bangunan ini telah diberi stempel cagar budaya.

Rumah itu sebenarnya tidak hanya berstatus situs wisata, tetapi juga “aset MICE nasional”. Di lahan 6.000 meter persegi, bangunan bertingkat dua ini memiliki sekitar 40 ruangan, beberapa di antaranya sengaja dirancang sebagai ruang pertemuan Tjong A Fie dengan para tamu. Selain itu, terdapat sebuah ballroom berukuran 15 x 7 meter di lantai dua yang lazim digunakan untuk kenduri.

Ruang pertemuan di kediaman Tjong A Fie terpecah menjadi tiga ruangan berdasarkan garis ras: ruang pertemuan tamu bangsa Eropa (Belanda), ruang pertemuan etnis Melayu, dan ruang pertemuan untuk menjamu tamu dari kalangan etnis Tionghoa. Ketika itu, ruang-ruang tersebut berperan penting dalam lobi-lobi bisnis dan negosiasi. Di situlah terjadi proses rembuk antara Tjong A Fie dengan para tamu dalam menetapkan sebuah keputusan.

Nuansa MICE pun bertambah kental dengan rencana pembangunan hotel persis di belakangan rumah. Pengelola rumah, Tjong A Fie Memorial Institute (TTAFMI), memastikan proses pembangunan hotel yang berbentuk pagoda itu tidak akan menodai nilai sejarah rumah.

Santap Sejarah

Di Medan, aset sejarah tak hanya dapat dilihat, tetapi juga dinikmati. Masih di Jalan Kesawan, terdapat restoran Tip Top yang telah berusia lebih dari delapan dekade. Restoran yang namanya bermakna ‘sempurna’ ini awalnya bernama Jangkie (1929). Pada tahun 1934, restoran direlokasi ke pusat bisnis di Jalan Kesawan. Bagi organizer yang tengah menggelar acara di Medan, restoran tua yang bangunannya masih terjaga keasliannya ini dapat menjadi tempat alternatif untuk menjamu para delegasi.

Tip Top menawarkan beragam menu Eropa (Belanda), Cina, dan Indonesia. Beberapa andalannya adalah steak lidah, omelet, cap cay, kari kambing, dan gado-gado. Camilan juga tersedia. Tip Top menjajakan aneka kue dan es krim dengan rasa yang membuat lidah terlena. Kue di sini ditanak menggunakan tungku kayu sehingga aroma harumnya lebih sedap.

Belanja di Pajak

Setiap city tour wajib memasukkan agenda belanja oleh-oleh dalam itinerary. Di Medan, salah satu tempat ideal untuk melakukannya adalah Pajak Ikan Lama. Lokasinya masih di kawasan Kesawan. Agar pengalaman belanja lebih autentik, kita dapat menjangkaunya dengan menaiki becak motor, alat transportasi khas Medan.

Pajak adalah istilah lawas untuk pasar. Pajak Ikan Lama dirintis pada 1890-an sebagai wadah jual-beli hasil tangkapan para nelayan di perairan Belawan. Seiring waktu, produk yang dijajakan kian variatif, hingga tempat ini pun berkembang menjadi pasar rakyat yang megah. Produk lain yang marak diperdagangkan di sini adalah tekstil berharga miring. Kita dapat menemukan banyak turis Negeri Jiran berbelanja di sini, terutama menjelang Lebaran.     

Penulis: Tonggo Simangunsong