Natuna, Turisme Di Ladang Gas

Friday, 18 September 15   9 Views   0 Comments   Venue

Sulit membayangkan sebuah kawasan ladang gas berubah menjadi destinasi wisata. Ketika uang melimpah bisa didapat dari perut bumi, keindahan di atasnya kerap kali dinafikan. Namun, Kepulauan Natuna adalah sebuah antitesis. Stakeholder lokal ingin daerahnya memikat turis sejak dini. Mereka tidak mau daerahnya menjadi Belitung, pulau yang baru merekah sebagai destinasi setelah bisnis tambang melempem‚??ketika warganya “terpaksa” mencari sumber pendapatan baru.

Kepulauan Natuna merupakan gugusan 154 pulau di bagian utara Selat Karimata. Di rahimnya, tersimpan 222 triliun kubik gas. Ini menjadikannya sebagai salah satu ladang gas terbesar sejagat. Tak hanya memiliki gas, tapi Natuna juga memiliki kekayaan lain yang tak kalah prospektif, yakni alam yang menawan.

“Agar pariwisata Natuna berkembang, hal pertama yang harus dilakukan ialah pengemasan produk yang bagus. Potensi dan keunikan yang dikemas secara baik akan mampu mengundang wisatawan. Dan itu telah dilakukan oleh Thailand dan Malaysia sehingga pariwisata mereka berkembang,” kata Prof. Azril Azahari, Ketua Program Studi S2 Pariwisata STP Trisakti.

Ada dua objek unggulan di Kepulauan Natuna yang saat ini sedang dikembangkan, yaitu Pulau Senoa dan Teluk Depih. “Kami akan fokus mempromosikan dua objek itu sebagai destinasi wisata unggulan di Natuna,” kata Syamsul Hilal, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kepulauan Natuna.

Pulau Senoa hanya berjarak 20 menit dengan berperahu dari Pulau Natuna Besar. Keasrian lokasi ini telah terlihat dari atas perahu. Air laut yang jernih memungkinkan mata melihat ikan-ikan yang hilir-mudik di antara terumbu karang.

Setiba di Pulau Senoa, pulau tak berpenghuni yang memiliki pantai berpasir putih sepanjang dua kilometer, wisatawan diundang untuk melakoni beragam aktivitas bahari, semisal berenang, snorkeling, dan memancing. Kegiatan lain yang dapat dilakukan adalah mendaki bukit karang untuk menyaksikan panorama Gunung Ranai, Batu Sindu, dan Pantai Tanjung dari ketinggian. Di lokasi ini juga terdapat gua-gua tempat bersarang burung walet.  

Menyelam di Natuna

Sementara Pantai Teluk Depih dipilih sebagai objek unggulan karena keunikan perairan pesisirnya yang dangkal. Bagian yang dangkal itu dimulai dari bibir pantai hingga 100 meter ke arah laut lepas. Dengan garis pantai yang melengkung, Teluk Depih juga menyerupai sebuah telaga besar yang memungkinkan para wisatawan berenang dengan bebas dan aman.

Menurut Syamsul, deretan tebing yang mengelilingi teluk juga dapat dijadikan sebagai tempat melakukan panjat tebing. Lokasinya pun hanya sekitar 15 kilometer dari Ibu Kota Kabupaten Natuna. Selain itu, ada juga Alif Stone Park yang lokasinya hanya berjarak tempuh sekitar 10 menit dari pusat kota. Deretan bebatuan yang tersusun rapi sepanjang bibir pantai ini mirip dengan yang terdapat di Belitung.

Namun, Natuna tidak hanya menjual pemandangan. Di sini, turis juga dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat. Salah satunya dengan mengunjungi Sedanau, pulau yang berpopulasi di bawah 10.000 jiwa dan merupakan salah satu pusat ekonomi Kepulauan Natuna. Di pulau yang sering disebut Pulau Terapung ini, wisatawan dapat menyaksikan aktivitas masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai peternak ikan kerapu. Ikan-ikan di sini umumnya diekspor ke daerah lain, salah satunya Hong Kong.

Untuk urusan perut, kuliner khas lokal yang layak dicicipi adalah table mando, yang lazim disebut piza Natuna. “Table mando ini berbahan dasar sagu yang diracik bersama bawang merah, bawang putih, cabai, parutan kelapa, dan ikan (biasanya tongkol),” kata Prof. Azril.

Mencicipi piza di Laut Cina Selatan tentu pengalaman yang layak dijual. Makanan unik ini dibuat dengan cara yang sederhana. Pertama, sagu disangrai, kemudian dimasukkan parutan kelapa dan daging ikan yang telah diasapi. Selanjutnya, adonan dicampur bawang merah, bawang putih, dan cabai. Air ditambahkan agar adonan tampak lengket menyerupai piza. Kemudian, adonan dicetak sesuai selera.    

Menurut Prof. Azril, modal lain Natuna untuk menjadi destinasi wisata adalah posisinya yang strategis. Kepulauan ini berada pada jalur pelayaran internasional dan berdekatan dengan sejumlah negara, semisal Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Kamboja. Potensi geografis serupa sudah dimanfaatkan oleh Bintan untuk mendulang turis reguler dari Singapura. Di Bintan, bahkan telah terdapat hotel-hotel berbintang internasional, di antaranya Banyan Tree, Club Med, Angsana, dan World Hotels. Agar turisme tak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mampu menjaga keasrian alam, Prof. Azril menyarankan agar pola pengembangan turisme di Natuna berbasis eko-wisata, bukan mass tourism.

Suasana perkampungan di Natuna

Isu Infrastruktur

Berita tentang kemolekan alam Natuna telah sampai ke telinga pelaut-pelaut asal Australia. Mereka mendesak pemerintah daerah untuk segera membangun marina untuk kapal yacht. “Pemerintah akan segera melakukan survei untuk menentukan tempat bersandar yacht di Natuna. Soalnya, banyak permintaan dari pemilik yacht asal Australia,” kata Syamsul.

Bila tempat bersandar yacht telah tersedia, aliran turis berkantong tebal asal Australia pun diharapkan meningkat sehingga membawa kemaslahatan untuk masyarakat lokal. Mafhum, pengeluaran pemilik yacht setiap kali berlabuh mencapai ribuan dolar.

Besarnya turunan ekonomi dari aktivitas yacht ketika berlabuh di sebuah destinasi itu kemudian menginspirasi empat provinsi‚??Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat‚??untuk bersinergi membuat kegiatan bertajuk Sail Karimata.

Selain membangun dermaga, Natuna juga membangun bandara baru, tidak jauh dari bandara lama (Bandara Ranai). Bandara baru tersebut diharapkan mampu membuat aliran turis mengalir deras. Saat ini, Natuna baru terhubung dengan empat kota: Pontianak, Pekanbaru, Tanjung Pinang, dan Batam. Rute-rute itu dilayani oleh tiga maskapai, yaitu Riau Air, Wings Air, dan Trigana.

Meski agak terlambat, kesadaran Natuna untuk memajukan sektor pariwisata patut diacungi jempol. Berbeda dari Belitung, Dubai dan Abu Dhabi adalah dua contoh baik perubahan visi daerah tambang yang menjadi destinasi wisata. Sebelum kekayaan di perut bumi ludes dikuras, pemerintah Dubai dan Abu Dhabi meluncurkan proyek-proyek kolosal terstruktur untuk menjadikan daerahnya magnet pariwisata dunia.

Penulis: Harry Purnama