Ragam Pesona Wisata Religi Kabupaten Cilacap

Thursday, 14 July 16   18 Views   0 Comments   Venue

Kabupaten Cilacap yang terletak di pesisir Selatan Pulau Jawa menyimpan banyak keindahan wisata sekaligus budaya. Kabupaten yang berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia ini menjadi salah satu tempat tujuan wisata, khususnya wisata religi yang layak untuk dikunjungi.

Banyaknya tempat-tempat wisata religi di kabupaten ini berkaitan dengan agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat pesisir Cilacap. Akulturasi budaya Sunda dan Jawa Banyumasan membuat kegiatan-kegiatan seperti ziarah, ritual agama dan budaya, maupun napak tilas, cukup banyak dilakukan. Uniknya, pelaku wisata religi di sini tidak hanya berasal dari masyarakat Cilacap, tetapi juga dari luar Jawa.

Destinasi pertama yang dapat dikunjungi adalah Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Gunung Selok. Destinasi yang terletak di kawasan hutan buatan yang dikelola oleh KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Banyumas Timur ini berada tepat di puncak bukit dan hutan yang asri. Pemandangan indah Pantai Laut Selatan tampak dari sana.

Tiga tempat peribadatan agama yang berbeda dapat kita temui sepanjang perjalanan, mulai dari bangunan Pura Hindu yang terdapat di sekitar pintu masuk dan wihara yang berada di dalam kompleks padepokan Buddha Agung Sang Hyang Gunung Jati. Tidak jauh dari sana, terdapat kompleks petilasan Jambe Lima dan Jambe Pitu, serta makam Kyai Syeh Mahmud.

Selain tempat-tempat tadi, di sekitar Gunung Selok juga terdapat beberapa gua yang sering dikunjungi peziarah, di antaranya Goa Rahayu, Goa Pakuwaja, dan Goa Nagaraja.

Tidak jauh dari Gunung Selok terdapat Gunung Srandil. Gunung ini juga menjadi lokasi favorit para peziarah yang rutin melakukan ritual setiap malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada bulan Sura (bulan pertama penanggalan Jawa).

Gunung Srandil merupakan sebuah bukit kecil di dekat Pantai Srandil. Di gunung yang terletak di Desa Glempang Pasir, Kecamatan Adipala, ini terdapat beberapa obyek ziarah berupa dua makam prajurit Diponegoro bernama Kuncisari dan Danasari yang kemudian disebut makam Sukmasejati, dan beberapa petilasan. Adapun petilasan tersebut bernama Eyang Guru Agung Sultan Mursid, Nini Dewi Tanjung Sekar Sari, Eyang Semar atau Kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Amung Rogo, Eyang Juragan Dampu Awang atau Sampokong atau Sunan Kuning, Eyang Langlang Buana, dan Mayang Koro atau Hanoman. Masih di gunung yang sama, terdapat juga wihara Buddha Tri Ratna. Wihara ini masih rutin digunakan untuk peribadatan.

Destinasi wisata religi lainnya terdapat di sisi barat Pulau Nusakambangan, yakni Gua Masigitsela. Gua ini berdekatan dengan Desa Kleces, Kecamatan Kampung Laut. Untuk menuju ke sana, para peziarah harus melewati hutan bakau Segara Anakan.

Nama Masigitsela berasal dari kata Masigit yang berarti ‘masjid’ dan sela yang berarti ‘batu’. Peziarah yang datang ke gua ini umumnya adalah umat muslim. Sebelum memasuki gua, peziarah biasanya melakukan mandi kungkum atau berendam di sebuah kedung atau mata air yang berada 100 meter di pinggir jalan menuju ke lokasi gua, kemudian melakukan salat di musala yang berada di sebelah kedung tersebut.

Gua lain yang dapat dikunjungi di Pulau Nusakambangan adalah Gua Bendung atau Gua Maria. Gua ini terletak tidak jauh dari lokasi Gua Masigitsela. Gua ini pertama kali ditemukan oleh tentara Belanda yang menduduki Cilacap, lalu diberi nama Gua Bendung. Di dalamnya terdapat stalagmit yang bentuknya menyerupai Bunda Maria sehingga kemudian gua ini disebut pula Gua Maria. Umat nasrani dari berbagai kota di luar Cilacap sering berziarah ke sini.

Setelah mengunjungi berbagai destinasi wisata religi, Anda juga dapat melihat ritual adat nelayan, Sedekah Laut. Sedekah Laut merupakan atraksi wisata budaya khas Cilacap yang diadakan sekali dalam setahun sebagai wujud rasa syukur nelayan Cilacap atas limpahan hasil laut yang diperolehnya.

Penulis: Harry Purnama