Surga Di Pusat Tambang

Monday, 21 September 15   4 Views   0 Comments   Venue

Oleh sejumlah penyelam, alam bawah laut Kepulauan Derawan dijuluki surga level dua, setelah Raja Ampat di Papua. Titik selam di Kepulauan Derawan menawarkan segalanya, dari hewan laut makro hingga pelagis. Wajar bila kemudian Kepulauan Derawan diusulkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2005.

Ada dua akses untuk menjangkau Kepulauan Derawan: melalui Berau di Kalimantan Timur atau Tarakan di Kalimantan Utara. Ketika mengunjunginya, saya memilih lewat Tarakan karena biayanya lebih ekonomis. Selain itu, Tarakan lebih ramai. Mafhum, banyak perusahaan tambang yang bermarkas di sini.  

Imbas dari bertenggernya perusahaan tambang di Tarakan adalah bermunculan hotel berbintang yang menawarkan kamar-kamar serta ruang meeting. Salah satu hotel besar yang telah beroperasi di Tarakan adalah Swiss-Belhotel Tarakan. Hotel ini memiliki ballroom berkapasitas 400 orang yang dapat dibagi menjadi tiga ruangan.

Para pekerja serta tamu bisnis di perusahaan-perusahaan minyak itulah yang menjadi pasar penting bagi pariwisata Kep. Derawan. Mereka umumnya bepergian dalam rombongan besar dengan menyewa kapal‚??mengingat tidak ada transportasi umum yang dapat mengantar ke Kep. Derawan. Para pekerja itu juga tidak memiliki banyak pilihan hiburan selama akhir pekan di Tarakan, namun entah mengapa banyak toko dan restoran yang tutup.

Salah satu pintu masuk ke Tarakan adalah Bandara Internasional Juwata, bandara pertama di Indonesia yang mengimplementasikan sistem green airport di apron saat pengisian bahan bakar avtur. Bandara ini juga memiliki nilai historis bagi Indonesia. Pada 11 Januari 1942, untuk pertama kalinya pesawat tempur milik Jepang mendarat untuk memulai merebut Indonesia dari Belanda.

Tak jauh dari bandara, sekitar 15 menit berkendara, terdapat Pelabuhan Tengkayu I. Pelabuhan ini menjadi titik tolak para turis menuju Kep. Derawan dengan menggunakan speedboat. Sepintas, tempat ini tidak tampak seperti pelabuhan: lebih mirip dermaga di tepian sungai yang lebar dan panjang.

Begitu speedboat melaju ke luar dari dermaga, barulah terlihat bahwa ini adalah pelabuhan dari sebuah kota terkaya ke-17 di Indonesia. Speedboat yang kami tumpangi meliuk-liuk di antara belasan kapal kargo raksasa yang sedang berlabuh. Tak hanya kapal kargo, ada juga tugboat yang sedang menarik gunungan aspal maupun hasil perut bumi lain. Tak heran bila di daratan terlihat banyak “pompa angguk” sedang menyedot sumber daya alam yang melimpah dari “perut” Tarakan.

Dengan kondisi laut yang tenang, perjalanan menuju Kep. Derawan memakan waktu dua setengah jam. Bila laut berombak, waktu tempuhnya mencapai tiga jam. Setibanya di Pulau Dewaran, tampak jajaran penginapan yang didirikan di atas air.

Itulah ciri khas Pulau Derawan. Penginapan-penginapan, dari yang murah hingga yang mahal, dibangun agak menjorok ke tengah laut. Cukup bagus memang, karena tamu dapat langsung menikmati udara laut begitu membuka pintu penginapan, tetapi di sisi lain, penginapan-penginapan ini membuang limbahnya langsung ke laut.

Ikan nemo di Kepulauan Derawan

Keluarga Derawan

Kep. Derawan terdiri atas empat pulau besar, yaitu Maratua, Sangalaki, Derawan, dan Kakaban. Sebenarnya, ada satu lagi pulau bernama Samama, tetapi lokasinya agak terpisah jauh.

Menurut cerita penduduk lokal, Kep. Derawan adalah sebuah keluarga, dan tiap nama pulau memiliki arti masing-masing. Samama berarti ‘mama’, Sangalaki berarti ‘anak lelaki’, Kakaban berarti ‘kakak’, Derawan berarti ‘perawan’, dan Maratua berarti ‘mertua’. Oleh karena itu, sudah sepantasnya keluarga ini bersatu, tidak dipisahkan berdasarkan wilayah administratif.

Derawan menjadi pulau yang paling ramai dikunjungi karena di pulau ini terdapat banyak penginapan bertarif murah, selain satu-satunya pulau yang ramai penduduk. Dari Berau, kabupaten di Kalimantan Timur, transportasi umum menuju Derawan juga tersedia, jaraknya pun cukup dekat, sekitar 30 menit. Karena itulah banyak penduduk dari Balikpapan maupun Berau yang menghabiskan waktu untuk pelesir ke Derawan tiap akhir pekan, layaknya penduduk Jakarta yang menghabiskan akhir pekan di Kepulauan Seribu. Untuk menuju pulau-pulau lain, Anda harus menyewa perahu.

Walaupun menjadi pulau yang paling banyak disinggahi turis, wisata sesungguhnya justru tidak terpusat di Pulau Derawan. Salah satu atraksi wisata di Pulau Derawan adalah menyaksikan ritual penyu merangkak ke pantai untuk bertelur. Namun, obyek wisata utama yang menjadi alasan para turis bertandang ke Kep. Derawan adalah ubur-ubur tak bersengat di Pulau Kakaban, serta titik-titik penyelaman yang tersebar di Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.

Pemandangan bawah laut di Derawan

Di Pulau Derawan, terdapat banyak dive center yang akan mengantar turis ke titik selam terbaik. Salah satunya “The Channel” yang menawarkan pemandangan penyu dan rombongan ikan besar, seperti tuna dan barakuda. Karena itulah titik selam di dekat Pulau Maratua ini juga disebut dengan “Big Fish Country”.

Titik selam lain yang juga terkenal di Kep. Derawan adalah Manta Parade, di sekitar Pulau Sangalaki. Di sini, Anda dapat melihat manta berenang secara berbaris dan berurutan: dari yang paling besar di depan, hingga yang paling kecil di belakang. Sayangnya pertunjukan seperti itu tidak berlangsung setiap hari, ada musim-musim tertentu rombongan manta itu bermigrasi ke tempat ini. Pulau ini juga merupakan tempat penyu bertelur. Sebab itulah tidak ada rumah penduduk di pulau ini, kecuali milik petugas penjaga pulau.

Usai menyelam di titik selam ini, Anda dapat singgah ke Maratua yang memiliki salah satu resor mewah di Kep. Derawan: Maratua Paradise Resort. Sama seperti di Derawan, bungalo di Maratua Paradise Resort juga banyak yang tersebar di atas permukaan air. Resor mewah lain di Maratua adalah Nabucco. Keduanya dimiliki oleh warga negara Malaysia.

Ubur-Ubur Tak Bersengat

Ubur-ubur tak bersengat di Danau Kakaban, Kep. Derawan

Pesona Danau Kakaban sudah terdengar hingga ke mancanegara. Di sinilah dapat dijumpai ubur-ubur tak bersengat yang sangat langka di dunia. Tempat lain untuk melihatnya adalah Republik Palau yang berada tidak jauh di atas “kepala burung” Pulau Papua.

Dahulu, ubur-ubur unik ini hanya dapat ditemui di Danau Kakaban. Seiring meningkatnya jumlah penduduk lokal di Indonesia yang sadar potensi besar dari pariwisata, warga mencari dan menemukan dua danau serupa yang menjadi habitat ubur-ubur tak bersengat, yakni di Misool dan Maratua. Tempat yang disebutkan terakhir ini masih sulit diakses dan belum banyak dikunjungi.

Danau Kakaban menjadi alasan orang-orang untuk berkunjung ke Kep. Derawan. Wisata ke Danau Kakaban juga menjadi salah satu pilihan untuk mengadakan acara pasca-meeting maupun outbound. Ketika saya berkunjung, ada beberapa kapal dari Tarakan yang membawa rombongan dari sebuah perusahaan oil and gas di Tarakan.

Untuk mencapai Danau Kakaban yang terletak di tengah pulau, pengunjung harus menapaki jembatan kayu yang dibangun menempel dan melintang dari satu pohon ke pohon lain. Pulau ini memang mirip hutan, vegetasinya rapat, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat jalan setapak di darat.

Danau Kakaban sepintas hanya seperti sebuah danau biasa dengan dermaga kecil berukuran sekitar empat kali dua meter. Begitu berdiri di dermaga, terlihat ubur-ubur yang berenang di permukaan. Ketika terjun ke danau, tak perlu berenang pun Anda sudah dikelilingi oleh ubur-ubur. Sebab itulah pemerintah setempat melarang pengunjung melakukan scuba diving maupun berenang menggunakan kaki katak (fins) di danau ini karena kibasan fins dikhawatirkan dapat melukai dan membunuh ubur-ubur.

Sebenarnya, populasi ubur-ubur di tempat ini sudah berkurang. Ekosistemnya terganggu oleh ratusan orang yang berenang hampir setiap hari di danau ini. Walaupun setiap pengunjung yang ingin masuk ke Danau Kakaban sudah dikenakan biaya tiket Rp10.000, akan lebih baik lagi apabila jumlah pengunjung yang datang per hari dibatasi, atau pengunjung diwajibkan berenang di danau secara bergiliran.

Sunset di Derawan

Penulis: Harry Purnama