ASEAN Literary Festival 2017 Satukan Para Penulis di ASEAN

Thursday, 03 August 17   0 Views   0 Comments   Dimas Aulia
ASEAN Literary Festival

ASEAN Literary Festival akan kembali dilaksanakan untuk keempat kalinya. Bertempat di Kota Tua Jakarta, acara yang akan dilaksanakan dari 3 hingga 6 Agustus 2017 ini merupakan bagian dari rangkaian ulang tahun ASEAN ke-50 yang jatuh pada 8 Agustus 2017. Tujuan diadakannya acara ini di area Kota Tua karena selain ingin mengenalkan obyek wisata ini ke kancah dunia, juga sebagai program UKP Kota Tua yang ingin menjadikan lokasi ini sebagai World Heritage. Pada acara ini, para pelaku literatur Indonesia dan dunia berkumpul berbagi pengalaman dan ilmu.

ASEAN Literary Festival 2017 mengambil tema “Beyond Imagination”. Festival ini nantinya akan dihadiri perwakilan kedutaan negara ASEAN dan juga para penulis mancanegara, seperti Andrew Fowler, Clara Chow, Han Zaw, Hariz Fadyylah, Gudrun Ingratubun, J. Casey Hammond, Kooky Tuason, Low Kok Wai, dan Marius Hulpe.

Festival yang dilaksanakan sejak tahun 2014 ini menjadikan budaya dan sastra sebagai unsur penting keberlangsungan ASEAN dan telah mendeklarasikan dirinya menjadi sebuah komunitas. Festival yang nantinya akan dihadiri oleh lebih dari 20 negara ini menghadirkan program-program seperti diskusi umum, workshop, talk show, pertunjukan cerita Panji Indonesia, puisi, dan musik.

Darmawati, Kasubag Kerja Sama Ditjen Kebudayaan, mengungkapkan bahwa kegiatan penyatuan kawasan ASEAN untuk sekarang hanya berada pada level kalangan atas, sedangkan yang menjadikan ASEAN sebuah komunitas adalah keberagaman budaya dan masyarakatnya. Sehingga diharapkan dengan adanya acara ini komunitas ASEAN itu dapat dibumikan dan disatukan sesuai dengan tujuan awal didirikan.

Selain itu, pada acara ini juga akan ada Jambore Nasional Sastra untuk para siswa yang masih bersekolah. Acara ini bertujuan menanamkan kecintaan terhadap literatur sejak dini. Terhitung sudah ada 500 peserta yang akan ikut jambore literatur nasional ini. Jambore ini sendiri berisi kegiatan pelatihan dan workshop, merangkai puisi, melukis lagu, dan lain-lain.

Okky Mandasari, Direktur Program ASEAN Literary Festival, mengatakan, para penulis di ASEAN tidak tahu sama sekali tentang tetangganya masing-masing. Mereka kebanyakan hanya tahu penulis-penulis dari negara barat. Jadi, ASEAN Literary Festival 2017 diharapkan menjadi wadah silaturahmi para penulis di kawasan ASEAN untuk saling berkenalan dan berbagi ilmu satu sama lain.

“Kita sebagai negara terbesar di ASEAN haruslah menjadi model dan pemimpin. Karena itu, saya berharap tidak hanya Indonesia yang mengadakan acara seperti ini, tapi juga negara tetangga, karena salah satu hal yang akan menyatukan kawasan ASEAN adalah literatur. Dan juga kita sebagai masyarakat Indonesia yang kaya akan budaya juga harus terus menjaga, merawat, dan melestarikan literatur yang telah lama ada karena itu adalah identitas kita juga,” ujar Okky.

ASEAN Literary Festival 2016 dikunjungi oleh lebih dari 4.000 orang. Dan diharapkan dengan pemindahan lokasi yang lebih besar tahun ini dapat menarik lebih dari 20.000 pengunjung. Apalagi akan ada lebih dari 80 penerbit dan komunitas yang akan mengisi acara, stan, ataupun mengadakan aktivitas di lokasi ASEAN Literary Festival 2017 ini.

Para penulis lokal juga akan hadir di acara ini, seperti Arswendo Atmowiloto, Goenawan Muhammad, Candra Malik, Febri Indiani, Dwitasari, Haidar Bagir, Hikmat Darmawan, Ira Lathief, Maria Hartiningsih, Martin Aleida, penyair M. Aan Mansyur, dan kartunis kondang Muhammad “Mice” Misrad.

Selain itu kumpulan literatur kuno Indonesia atau dalam bahasa para penulis “Panji” juga akan menjadi daya tarik utama ASEAN Literary Festival 2017 karena selain usianya, Panji ini ditulis oleh banyak pengarang dari zaman dulu.