Majapahit Travel Fair 2017 Fokus Garap Wisata Petualangan

Friday, 07 April 17   6 Views   0 Comments   Venue

Dinas Pariwisata Jawa Timur bekerja sama dengan Debindo Mitra Tama dan Asosiasi Tur dan Agen Perjalanan Indonesia (ASITA) kembali menggelar Majapahit Travel Fair (MTF) ke-18. Perhelatan ini akan digelar pada 13-16 April 2017 di Grand City Convex, Surabaya, Jawa Timur.

“Perhelatan ini memiliki nilai strategis bagi Jawa Timur karena menjadi etalase provinsi sebagai salah satu destinasi utama nasional. Dulu, Jawa Timur adalah tempat transit para wisatawan yang ke Bali dari Yogyakarta. Namun, dua tahun terakhir tidak lagi,” ujar H. Jarianto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur.

Dadan mengatakan MTF kali ini bakal menghadirkan suasana petualangan sejak di pre-function room Grand City Convex. Misalnya, area itu nantinya bakal berhias climbing wall, tenda, dan peralatan petualangan lain yang menjadi pajangan peserta.

Jarianto menyebutkan, kondisi alam Jawa Timur sangat memungkinkan untuk wisata petualangan, seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan kawasan wisata alam di Batu yang sangat pas untuk mountain running, panjat tebing, atau mendaki gunung. Selain itu, wisata religi juga menjadi potensi yang tak dapat diabaikan. “Ada lima dari sembilan wali penyebar Islam di Jawa yang dimakamkan di Jawa Timur, dan dua presiden RI dimakamkan di Jawa Timur,” papar Jarianto.

Jarianto menargetkan 120 buyer potensial dari 16 negara akan hadir di Majapahit Travel Fair 2017. Mereka diharapkan mampu menghasilkan total transaksi sebesar Rp56 miliar atau tumbuh 2,5 persen dibandingkan penyelenggaraan pada tahun lalu. “Syukur-syukur bisa mencapai Rp 60miliar,” ujar Jarianto.

Di antara 90 buyer yang akan datang ke MTF 2017 antara lain berasal dari negara Malaysia, Singapura, Myanmar, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam, Jepang, Belanda, Italia, India, Cina, Hong Kong, Bangladesh, dan Saudi Arabia. Sementara itu, 66 seller yang berpartisipasi berasal dari 38 industri pariwisata Jawa Timur dan 28 industri pariwisata dari luar Jawa Timur, yakni Jakarta, Bali, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, NTB, dan Kepulauan Riau.

Esthy Reko Astuti, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, mengapresiasi perhelatan Majapahit Travel Fair 2017. Esthy senang karena setiap tahun jumlah buyer kian meningkat. Namun, ia tetap meminta dukungan para wartawan dan kawula muda yang aktif di media sosial untuk memviralkan pariwisata nasional, khususnya Jawa Timur.

“Pertambahan buyer ini menandakan paket-paket wisata yang ditawarkan para seller kita menarik dan banyak diminati para buyer sehingga meningkatkan inbound ke Indonesia,” ujar Esthy.

Esthy Reko Astuti mengatakan, hasil dari kegiatan MTF yang terus meningkat ini sekaligus untuk mengejar target yang diberikan Menteri Pariwisata Arief Yahya agar banyak event yang menjual pariwisata dalam negeri. Jawa Timur diperkirakan bakal menyumbang 625.000 wisatawan mancanegara dari target nasional 15 juta wisman.

Majapahit Travel Fair 2017 terdiri beberapa kegiatan utama, antara lain Travel Exchange (Travex) yang mempertemukan seller dengan buyer dalam round table/table top yang akan berlangsung di Hotel Vasa Surabaya pada 13 April 2017. Selain Travex, ada juga pameran di Exhibition Hall Grand City Convex Surabaya pada 13-16 April 2017 yang diikuti 150 peserta. Pameran ini terbuka untuk umum dan berlangsung dari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Bagi para buyer, tersedia program fam trip.

“Kita ajak para buyer mengunjungi daya tarik pariwisata di Kabupaten Sumenep, Madura. Travex MTF tahun ini mengajak Pemkab Sumenep untuk menjadi tema pada rangkaian pelaksanaan Travex, termasuk dalam acara jamuan makan bagi buyer dan seller,” kata Jarianto.

Dadan Kushendarman, Direktur Utama Debindo Mitra Tama, mengatakan, para peserta pameran MTF yang sifatnya B2C juga diajak fam trip ke kawasan Malang Raya, terutama di Batu. Jawa Timur meyakini target kunjungan wisman bakal naik. Pasalnya, mereka memiliki 400 kegiatan penunjang wisata, 70 di antaranya adalah festival, dan dari 70 festival itu terdapat 10 festival berkelas internasional.

Penulis: Ludhy Cahyana