MEGABUILD Indonesia 2016 Lakukan Edukasi Publik

Wednesday, 02 March 16   0 Views   0 Comments   Venue

Sektor manufaktur, konstruksi, dan transportasi merupakan sektor-sektor penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di tahun 2015. Sektor konstruksi sendiri tumbuh dari 6,82 persen pada kuartal ketiga 2015 menjadi 8,24 persen pada kuartal keempat 2015. Pertumbuhan di sektor konstruksi tersebut menjadi peluang bagi penyedia produk serta teknologi konstruksi dan bangunan. Karena itulah, Reed Panorama Exhibitions (RPE) kembali menggelar pameran bahan bangunan, arsitektur, dan konstruksi bertajuk MEGABUILD Indonesia.

MEGABUILD Indonesia 2016 akan diselenggarakan pada tanggal 17-20 Maret 2016 di Jakarta Convention Center. Pameran yang telah memasuki tahun ke-15 ini akan menghadirkan lebih dari 1.000 brand ternama. “MEGABUILD Indonesia 2016 diikuti lebih dari 230 perusahaan dari 19 negara, antara lain Korea Selatan, Jepang, Cina, Italia, Malaysia, Singapura, India, Australia, Austria, Jerman, Turki, dan Thailand,” ujar James Boey, General Manager Reed Panorama Exhibitions.

Perhelatan MEGABUILD 2015 berhasil dikunjungi sekitar 31.000 orang dan 230 perusahaan dari 14 negara. Dengan total luas area pameran 30.000 meter persegi, MEGABUILD Indonesia 2016 diharapkan akan dikunjungi lebih dari 35.000 pengunjung. Berbagai kegiatan dan program pun dihadirkan oleh Reed Panorama Exhibitions untuk mencapai target pengunjung tersebut, antara lain Jakarta Design Conference, Design Week Professional Network Gathering, Indonesia Architecture Design Roadmap Workshop, dan seminar Green Building Digital Day oleh Green Building Council Indonesia.

Pada tahun ini, pameran MEGABUILD Indonesia 2016 digelar bersamaan dengan pameran KERAMIKA 2016 (pameran khusus industri keramik) dan Jakarta Design Week 2016 sehingga dapat dikatakan ini merupakan event mahaakbar karena mampu menyelenggarakan tiga event besar dalam waktu dan tempat yang bersamaan. Tujuan pelaksanaan ketiga event tersebut secara bersamaan adalah agar para pelaku di bidang properti dapat menemukan segala kebutuhannya hanya di satu tempat.

Stevanus J. Manahampi, Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia Chapter Jakarta, mengatakan, pameran ini tidak hanya menyajikan produk maupun teknologi baru di industri bahan bangunan, tetapi juga akan memberikan informasi dan pengetahuan kepada segenap pengunjung mengenai produk dan teknologi serta perkembangannya. “Fokus utama kami adalah melakukan edukasi kepada publik dan pemerintah mengenai profesi arsitek dan sarjana arsitek, sebab pemerintah sendiri juga tidak mengerti,” ujar Stevanus.

Sementara itu, mengenai tantangan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) di dunia arsitek, Stevanus mengatakan bahwa hal tersebut bukan menjadi masalah besar. “Dari sisi kemampuan, orang Indonesia memiliki kemampuan luar biasa. Kita tidak harus takut soal itu, kita hanya kurang percaya diri,” tegasnya.

Namun, Stevanus menyayangkan bahwa arsitek di Indonesia banyak yang lebih mementingkan mendapat uang dengan cara instan, yakni lebih mengarah ke proyek rumah tinggal. Mereka seharusnya cenderung mengambil proyek dengan kompleksitas lain, seperti rumah sakit, hotel, dan lainnya. Masuknya arsitek asing ke Indonesia disebabkan adanya peluang tersebut untuk mengerjakan sebuah proyek yang tidak bisa dikerjakan oleh arsitek Indonesia. Stevanus mengimbau, khususnya kepada pemerintah yang memiliki peranan, untuk terus mendukung arsitek lokal, pasalnya ada kekhawatiran arsitek luar akan terlalu banyak menjajaki Indonesia.

Penulis: Ahmad Baihaki