Mengintip Peluang Industri Halal di INALEC 2017

Thursday, 19 October 17   14 Views   0 Comments   Ahmad Baihaki
Indonesia International Halal Lifestyle Expo & Conference 2017
Foto: Venuemagz/Erwin

Untuk kedua kalinya, Indonesia Halal Lifestyle Center menyelenggarakan acara Indonesia International Halal Lifestyle Expo & Conference (INALEC). Acara yang diadakan pada 19-21 Oktober 2017 di Balai Kartini ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bagi pelaku industri terhadap segmen bisnis halal. Berbicara mengenai industri halal, Indonesia memang jauh tertinggal dibanding Thailand, Malaysia, dan Singapura.

“Saya pikir saat ini belum telat, meskipun Bangladesh dan Pakistan bisa menyalip Indonesia. Begitu pun Afrika. Nigeria berpeluang besar menyalip dalam hal industri halal. Pameran ini bertujuan untuk memajukan industri halal,” ujar Bambang Brodjonegoro, Kepala Badan Pembangunan Nasional (Bappenas). Ia yakin, bila Indonesia tidak menggencarkan promosi industri halal ke tingkat global, bisa tertinggal dari negara-negara lainnya.

Sementara itu, Sapta Nirwandar, Ketua Halal Lifestyle Center, mengatakan, Indonesia sebagai negara mayoritas muslim bisa menjadi konsumen industri halal, tetapi juga bisa menjadi produsen. Namun, perlu kesadaran masyarakat maupun pelaku industri untuk memanfaatkan ini.

Indonesia memang jauh tertinggal dalam menggarap pasar halal. Pasalnya, negara-negara di kawasan Asia, bahkan Rusia, gencar melaksanakan pameran dan konferensi halal setiap tahun. “Negara-negara seperti Taiwan, Korea, dan Rusia yang mayoritas penduduknya non-muslim justru giat mempromosikan gaya hidup halal,” ujar Sapta. Menurut Sapta, mereka melihat pasar halal bukan hanya untuk wisatawan muslim, tapi juga non-muslim.

Pemerintah menargetkan pada 2020 kehadiran wisatawan muslim sebanyak 5 juta wisatawan dari 168 juta wisatawan muslim yang berkeliling dunia. Menurut Sapta, untuk membangun kesadaran prospek bisnis industri halal tidaklah mudah, mengingat tren persaingan bisnis halal semakin ketat. Pasalnya, negara-negara seperti Jepang, Korea, Thailand, dan Chile sangat serius pula menggarap bisnis industri halal.

“Semoga dengan pameran dan konferensi ini akan ada kerja sama dengan pelaku industri untuk bersama membangun industri halal di Indonesia,” ujar Sapta.

Indonesia International Halal Lifestyle Expo & Conference pada hari pertama dibuka dengan konferensi yang membahas tentang “Halal Industry, Cultural, and Technology”. Pada tahun kedua penyelenggaraan INALEC, penyelenggara mengundang pembicara dan peserta dari mancanegara, misalnya dari London, Dubai, Thailand, dan Korea Selatan.

Hermawan Kartajaya, pakar pemasaran sekaligus Founder dan Chairman MarkPlus, mengatakan, untuk memajukan industri halal di Indonesia, para pelaku harus menguasai pasar. “Misalnya, pelaku industri perhotelan harus menguasai pasar, dan jangan langsung membuat hotel untuk segmen wisatawan halal,” ujar Hermawan.

Menurutnya, untuk membangun destinasi halal harus disiapkan destinasinya dahulu. Branding juga penting, bukan sekadar halal, tapi juga berkualitas dan berinovasi. Kemudian, baru masuk ke segmen promosi.

Hermawan mencontohkan Korea Selatan yang memiliki budaya K-POP yang mendunia. Mereka dengan mudah membuka segmen wisata halal, hanya dengan menambahkan makanan halal serta tempat ibadah. “Besarkan dan buatlah event ini bersinar agar menguasai pasar untuk event industri halal. Kedua, jadilah champion industri halal, kemudian membuat tren gaya hidup halal,” kata Hermawan.

Indonesia International Halal Lifestyle Expo & Conference 2017 diselenggarakan selama tiga hari dan diikuti 151 peserta, yang dibagi menjadi 45 peserta luar negeri dan 106 peserta dalam negeri.  Untuk pameran menampilkan produk-produk unggulan yang mencakup gaya hidup halal, seperti makanan, pariwisata, fashion, kosmetik, pendidikan, finansial, farmasi, rekreasional, layanan kesehatan, kebugaran, seni, dan budaya. Acara ini juga didukung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Masyarakat Ekonomi Syariah, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian Koperasi dan UKM.