Pameran Batik yang Gerakkan Ekonomi Jatim

Wednesday, 06 December 17   2 Views   0 Comments   Ludhy Cahyana
Batik Fashion Fair 2017
Foto: Venuemagz/Ludhy

Debindo Mitra Tama kembali menggelar Batik Fashion Fair 2017. Pameran yang digelar kedua kalinya ini merupakan kelanjutan pameran pertama yang sukses diikuti 100-an stan. Pameran yang dihelat pada 6-10 Desember ini diikuti oleh perajin, asosiasi yang berkaitan dengan fashion, pemerintah daerah, serta BUMN.

“Pameran ini merupakan seri dari pameran Batik, Bordir, dan Aksesoris yang biasa kami adakan pada Mei,” ujar Dadan Kushendarman, Presiden Direktur Debindo Mitra Tama.

Menurut Dadan, pameran ini membuka ruang bagi pelaku industri kreatif, terutama di bidang batik dan aksesori pendukungnya, untuk berkreasi. Dan tentu saja dengan jeda satu semester lebih, tak membuat pameran batik lainnya mengalami kejenuhan. “Justru ini merupakan cermin tren desain dan model batik yang bakal tren pada 2018,” ujar Dadan.

Batik Fashion Fair ini memicu permintaan yang tinggi dari peserta. Pada perhelatan akhir tahun 2017 ini, peserta mengalami kenaikan hingga 15 persen menjadi 190 peserta. Para desainer dan perajin dipertemukan dalam pameran ini untuk berbisnis sekaligus menciptakan tren batik pada tahun mendatang.

Untuk memajukan industri batik Jawa Timur, Debindo Mitra Tama bekerja sama dengan berbagai asosiasi menggelar seminar dan workshop berkaitan dengan batik. Dengan demikian, perajin dan peserta memperoleh pengetahuan mendalam selama pameran berlangsung.

Sementara itu, Fatma Saifullah Yusuf, Ketua Umum Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), mengatakan, batik secara konkret mampu menggerakkan ekonomi Jawa Timur. “Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mencapai 5,7 persen yang didukung oleh industri UKM, terutama batik,” ujar Fatma yang juga istri Wakil Gubernur Jaw Timur Syaifullah Yusuf.

Menurut Fatma, corak batik Jawa Timur yang berjumlah 1.120 motif dari 22 kabupaten/kota merupakan modal yang potensial untuk menjadikan batik komoditas utama. Namun, tantangan juga menghadang, misalnya batik Jawa Timur masih bergantung dengan pewarna sintetis yang harus diimpor dari India dan Cina.

“Problem lainnya adalah soal SDM yang semakin kurang karena generasi muda kurang begitu menggemari batik,” ujar Fatma. Selain itu, gempuran batik tekstil atau printing membuat harga batik jatuh. Di samping itu, kesadaran untuk mematenkan motif juga kurang, yang membuat motif batik ditiru oleh perajin lain.

Namun, pemerintah provinsi Jawa Timur terus mencari solusi, di antaranya dengan memberi pelatihan dalam membuat batik sekaligus membuat desain dan motif untuk pakaian batik. Pemprov juga memfasilitasi pengurusan paten dan mempromosikan karya batik perajin di dalam maupun di luar negeri.

Fatma berharap, pameran ini dapat membangun kesadaran masyarakat untuk mencintai batik. Sebab, menurutnya, batik tidak terikat waktu dan tempat, dan bisa digunakan kapan saja tanpa terkesan ketinggalan zaman.