Ketika Bumi Sriwijaya Bertumpu pada MICE

Friday, 13 January 17   27 Views   0 Comments   Venue

Gegap gempita pesta pembukaan SEA Games ke-26 di Stadion Gelora Sriwijaya, Kompleks Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, lima tahun silam, masih segar di ingatan. Kala itu, event olahraga akbar di Asia Tenggara itu mendatangkan 5.500 atlet, 700 jurnalis asing, lebih dari 2.300 wartawan nasional, serta 16.000 penonton.

Namun, perjalanan menuju “pesta” itu diakui Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan, tidak semudah perkiraan. Setidaknya ada tiga permasalahan utama yang dihadapi Palembang kala itu. Pertama, ketidaktersediaan venue yang layak. “Yang kami miliki hanya lahan rawa seluas 325 hektare di Seberang Ulu, Palembang, yang dapat digunakan untuk lokasi pengembangan venue,” katanya.

Kedua, ketidakpastian dana pengembangan venue dari pemerintah pusat. Ketiga, waktu yang sangat minim. “Sisa waktu hanya 11 bulan. Untuk mengejar ketertinggalan, Kompleks Olahraga Jakabaring digarap 5.000 pekerja. Saya pun sampai memindahkan kantor ke Jakabaring untuk memastikan semua berjalan baik. Meski ada kekurangan, Palembang sukses menjadi tuan rumah,” imbuhnya.

Sejak menjadi tuan rumah SEA Games ke-26, Palembang menjadi venue langganan berbagai sports event berskala internasional. Islamic Solidarity Games ke-3 yang digelar di Kompleks Jakabaring, pada 22 September-1 Oktober 2013 adalah salah satunya. Diikuti 56 negara anggota Islamic Solidarity Games, event tersebut melibatkan 3.257 delegasi dan 13 cabang olahraga. Pada 9-12 Desember 2014, Jakabaring kembali menjadi tuan rumah ASEAN University Games (AUG) yang melibatkan 11 negara dan 20 cabang olahraga.

Pada 4-18 November 2015, Jakabaring juga dipercaya untuk menjamu perhelatan Asian Canoe Championship. Kompetisi prakualifikasi Olimpiade Rio de Janeiro 2016 tersebut melibatkan 300 atlet kano dari 40 negara. “Bersamaan dengan itu, Palembang juga menggelar Congress of the Federation of Asian Canoe pada 3 November 2015 dan Asian Dragon Boat Championships pada 4 November 2015,” ujar Alex.

jakabaring

Ahmad Zazuli, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Palembang, menuturkan, perhelatan sejumlah event internasional sukses melambungkan nama Palembang sebagai salah satu destinasi MICE nasional. “Kami harus jeli membidik peluang. Untuk konvensi bertaraf internasional, Jakarta dan Bali masih mendominasi, jadi tidak perlu memaksakan diri untuk berkompetisi dengan mereka. Namun, hanya Palembang yang memiliki venue olahraga megah berstandar internasional. Di sinilah kami masuk. Sports tourism adalah kekuatan kami,” katanya.

Sektor MICE, menurut Anton Wahyudi, Ketua ASITA Sumatera Selatan, merupakan penggerak ekonomi terbaik daerah. “Bayangkan, kalau kota ini mampu menggelar dua event MICE per bulan dengan minimal peserta 100 orang. Anggap saja spending mereka mencapai Rp5 juta per hari tiap orang untuk akomodasi, kuliner, dan berbelanja. Dengan demikian, dari satu event dengan masa tinggal tiga hari, Palembang mampu meraup pendapatan Rp1,5 miliar. Dampak ekonominya besar,” ujarnya. 

Hitung-hitungan menggiurkan inilah yang menurut Ahmad membuat pihaknya bergerak agresif memperluas pasar MICE Palembang. Selain memperkuat sports event, Palembang juga akan menyeriusi pasar MICE lainnya, seperti korporasi, asosiasi, kementerian, dan BUMN.

Meski potensi itu menggiurkan, Ahmad mengakui, ada lima tantangan utama yang harus dijawab Palembang untuk menjadi destinasi MICE. Pertama, citra Palembang yang terkenal sebagai destinasi mahal. “Banyak yang mengeluh kuliner di Palembang mahal, hotel pun begitu. Untuk itu, kami akan mengajak Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan pelaku industri pariwisata untuk duduk bersama membahas ini. Kami akan membahas lebih lanjut insentif seperti apa yang harusnya diberikan untuk menggaet lebih banyak wisatawan MICE,” tuturnya.

Kedua, promosi yang kerap terbentur anggaran cekak pemerintah daerah. Hal ini, menurut Ahmad, dapat disiasati dengan promosi digital yang jauh lebih murah dan efisien. “Namun, promosi digital juga bukan tanpa kendala. Kami terbentur dengan sumber daya manusia (SDM) yang masih belum sepenuhnya mengerti teknologi. Ini pekerjaan rumah yang harus kami benahi pada masa depan,” ujar Ahmad.

Ketiga, belum matangnya destinasi wisata yang dapat ditawarkan kepada turis MICE untuk kegiatan post tour. Ahmad menjelaskan, saat ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Palembang tengah melakukan validasi data terkait potensi wisata lokal. Sejumlah perwakilan Visit Indonesia Tourism Office (VITO) di Singapura dan Malaysia pun didatangkan ke Palembang untuk bertemu agen perjalanan lokal. “Dari pertemuan itu, kami mengetahui bahwa ada keterikatan sejarah antara Palembang dengan Singapura dan Malaysia. Oleh karena itu, kami akan fokus menjual wisata sejarah dan budaya untuk post tour,” katanya.

Keempat, menyinergikan antarpelaku industri MICE dan pariwisata. Menurut Tazbir Abdullah, Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintahan Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata, sinergi apik akan meningkatkan daya saing sebuah destinasi. MICE, menurut dia, memungkinkan sekelompok orang menyambangi sebuah kawasan dengan spending besar dan kemungkinan menjadi repeat visitors di kemudian hari.

“Ada asosiasi seperti ASITA dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) yang bertugas menjual destinasi. Ada pemerintah daerah yang melindungi dan memfasilitasi pelaku industri untuk mempromosikan destinasi. Ada juga pelaku industri kecil dan menengah (UKM) yang memperkenalkan kuliner dan kerajinan tangan lokal kepada wisatawan. Semua ini harus bersinergi dengan baik untuk membesarkan destinasi,” kata Tazbir.

Kelima, ketersediaan aksesibilitas, infrastruktur, dan akomodasi. Menyambut Asian Games yang rencananya akan digelar pada 28 Agustus 2018, Palembang mengejar pembangunan sejumlah proyek utama. Salah satunya adalah perluasan bandara yang ditargetkan mampu menampung 3,6 juta penumpang per tahun hingga menambah 10.000 kamar hotel baru. Kompleks Olahraga Jakabaring pun tengah mengalami renovasi dengan menambah sejumlah gelanggang dan convention hall.

“Apabila kelima tantangan ini terjawab dengan baik, saya optimistis Palembang dapat bersaing dengan Jakarta dan Bali sebagai destinasi MICE dan wisata. Kuncinya memang sinergi yang diikuti percepatan infrastruktur,” imbuh Tazbir.

Penulis: Harry Purnama