Menyiapkan Bali sebagai Destinasi Wisata Gastronomi Dunia

Tuesday, 27 September 16   0 Views   0 Comments   Venue

Kuliner menjadi salah satu unsur pembentuk pariwisata. Bahkan, di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, sudah ada tur khusus wisata gastronomi, tidak hanya sebatas wisata kuliner. Di Indonesia sendiri, wisata kuliner masih menjadi pemanis atau pelengkap dari tur wisata ketika mengunjungi suatu daerah, sedangkan wisata gastronomi masih sangat jarang.

Apa yang membedakan wisata kuliner dengan wisata gastronomi? Wisata kuliner identik dengan mencicipi makanan khas setempat, sedangkan wisata gastronomi lebih dari itu. Wisata gastronomi melihat asal-usul, seni, budaya, bahan yang digunakan, maupun pengetahuan tentang masakan itu. Gastronomi tidak hanya menelusuri asal karakteristik suatu bahan makanan, melainkan juga memetakan makanan di seluruh dunia dan menghubungkannya dengan kondisi geografis, masyarakat, dan budaya setempat. Dengan kata lain, wisatawan tidak hanya mencicipi makanan yang sudah jadi, tapi juga mengetahui bahan yang digunakan, cara memasaknya, dan makna filosofis di balik makanan tersebut.

Lokot Enda, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Kementerian Pariwisata, mengatakan, “Wisata gastronomi itu ada story telling mengenai makanan itu, bukan hanya asal enak saja, tapi kenapa ada makanan ini, cara makannya bagaimana, dan sebagainya.”

Inisiatif untuk memopulerkan indonesia sebagai tujuan gastronomi dunia sebenarnya telah dimulai oleh William Wongso, seorang penggiat masakan Indonesia dan pendiri organisasi Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI), dengan mengadakan tur Wongso Peterson Culinary Tour. Para pesertanya adalah foodies dari Australia dan Amerika Serikat yang rata-rata sudah berusia lanjut. Mereka rela menempuh jarak ribuan kilometer dan menghabiskan uang ribuan dolar untuk mencicipi kuliner khas Indonesia.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kuliner di Indonesia sangat memikat para pencinta kuliner dunia. Sayangnya hal tersebut belum dikelola dan dipromosikan dengan sangat baik, terutama menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata gastronomi.

Untuk lebih memopulerkan Indonesia sebagai destinasi wisata gastronomi dunia, Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan STP Trisakti akan mengadakan konferensi gastronomi internasional pertama di Indonesia. Tourism Gastronomy Destination International Conference (TGDIC) akan diadakan pada 14-15 November 2016 di Jakarta Convention Center.

Lokot mengatakan, kurang populernya Indonesia sebagai destinasi wisata gastronomi karena belum banyak tulisan akademis yang membahas mengenai potensi gastronomi di Indonesia. Padahal, Indonesia memiliki banyak kuliner khas yang masing-masing memiliki sejarah dan budaya tersendiri. Karena itu, ia berharap konferensi ini akan memberikan masukan yang berarti bagi dunia gastronomi Indonesia.

“Kita berharap akademisi juga menyumbangkan pemikiran dan gagasan yang dapat mengembangkan gastronomy tourism ini. Mereka (STP Trisakti) punya resources yang bagus sehingga dapat memberikan prospek atau gambaran bahwa gastronomy tourism ini adalah salah satu produk unggulan. Dulu ini bukan suatu prioritas, dan ini suatu peluang karena di luar negeri sudah mengembangkannya. Ini bisa menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan gastronomy tourism,” ujar Lokot.

Menjadikan Bali sebagai destinasi wisata gastronomi dunia

Konferensi yang juga didukung oleh GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) dan AGI (Asosiasi Gastronomi Indonesia) ini akan menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri dengan berbagai topik diskusi menarik, antara lain Profesor Michael Hitchcock dari Universitas London, Profesor Theodore Benetatos dari Universitas Luzern, pakar fine dining Indonesia Andrian Ishak, praktisi industri kuliner Indonesia Sisca Soewitomo, serta Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Tourism Gastronomy Destination International Conference 2016 ini terbatas untuk 300 orang peserta, dengan biaya pendaftaran Rp700.000 untuk mahasiswa, Rp1,3 juta untuk akademisi, dan Rp2 juta untuk umum. Selain konferensi internasional, akan ada juga call of paper pada acara ini.

“Hasil dari call of paper tersebut akan dipublikasikan di publikasi internasional yang akan menaikkan peringkat individu maupun institusi tersebut,” ujar Myrza Rahmanita, Kepala Program Studi S2 Pariwisata STP Trisakti.

Didien Junaedi, Ketua Umum GIPI, mengatakan, selain untuk tujuan akademis, Tourism Gastronomy Destination International Conference juga bertujuan memberi edukasi kepada masyarakat.

Langkah kedua yang akan dilakukan untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata gastronomi adalah memasukkan Bali ke dalam UNWTO Gastronomy Network. “Apabila sudah terdaftar di UNWTO Gastronomy Network, itu akan menjadi promosi gratis, dan kita akan terkenal menjadi destinasi gastronomi,” ujar Lokot Enda.

Lokot menambahkan, akan sangat sulit apabila pemerintah ingin mempromosikan Indonesia secara keseluruhan, karena itu pihaknya memilih daerah yang telah siap terlebih dahulu, yakni Bali. Apalagi, di Bali sudah ada restoran yang terkenal akan gastronominya, lokasinya ada di daerah Ubud. Lokot mengatakan, Bali sudah siap dari sisi 3A, yakni akses, atraksi, dan amenitas. Restoran ini termasuk dalam amenitas.

“Nanti Bali kita jadikan hub juga, agar orang-orang lanjut ke daerah lain,” ujar Lokot.

Target terdekat adalah Bali ditetapkan menjadi gastronomy tourism destination pada tahun 2017. Ujar Lokot, butuh waktu antara dua hingga tiga tahun agar Bali dikenal sebagai destinasi wisata gastronomi, sebab membangun destinasi dan promosinya tidak mudah.

Selain Bali, Kementerian Pariwisata juga telah mengidentifikasi daerah lain yang berpotensi menjadi destinasi wisata gastronomi, yaitu Solo, Yogyakarta, dan Semarang. Pemilihan destinasi-destinasi tersebut utamanya berdasarkan pada makanan dan budaya yang dimiliki, lalu dukungan pemerintah daerah, infrastruktur, dan fasilitas pendukung. Destinasi-destinasi tersebut akan digarap secara bertahap supaya fokus.

“Kalau Bali sudah gol, jadi mudah untuk mengembangkan daerah lain karena sudah tahu kekurangan dan apa saja yang harus dilakukan,” kata Lokot.

Penulis: Harry Purnama