Program Membangun Pariwisata dari Perbatasan

Monday, 28 August 17   29 Views   0 Comments   Harry Purnama
program cross-border
Idle capacity di penyeberangan feri ke Batam-Bintan akan dimanfaatkan dengan paket bundling. Foto: Dok. Venuemagz

Dalam laporan terbaru mengenai jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, I Gede Pitana, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, mengatakan bahwa meskipun jumlah kunjungan wisman pada semester pertama 2017 telah mencapai target, yakni mencapai 6.478.069 wisman, namun jumlah wisman dari negara tetangga Malaysia dan Vietnam justru mengalami penurunan.

“Kita tahu penyebabnya. Pertama, ekonomi Malaysia sedang mengalami penurunan. Kedua, Malaysia dan Singapura sudah memiliki Bandung, Medan, dan Aceh yang lain, namanya Vietnam. Vietnam bisa jual jauh lebih murah daripada Indonesia,” ujar Pitana.

Karena itu, Kementerian Pariwisata melalui Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara akan memperkuat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang ada di perbatasan negara.

“Kita punya program cross-border yang kita lakukan di Batam dan Bintan untuk menyembuhkan jumlah wisman dari Malaysia dan Singapura,” ujar Pitana.

Program di Batam dan Bintan ini akan memanfaatkan idle capacity dari jumlah kursi kapal feri yang berangkat dari tiga titik, yaitu Tanah Merah, Johor, dan Harbor Front, ke Batam-Bintan. Pitana mengatakan, dalam sehari ada 22.800 kursi feri yang masuk ke Batam-Bintan. Pada saat akhir pekan, okupansinya mencapai 90 persen, sedangkan ketika tengah pekan masih di bawah 20 persen.

“Itulah yang akan kita manfaatkan dengan cara bundling dengan hotel, spa, golf, dan shopping sehingga harganya jadi lebih murah. Yang akan dilakukan adalah melakukan subsidi kecil, tetapi value-nya sangat besar. Subsidi kita sebenarnya per kepala hanya US$3, tapi value-nya US$28, karena bukan hanya Kemenpar yang berkontribusi, tapi swasta juga berkontribusi,” ujar Pitana.

Melalui program bundling dan subsidi tersebut, harga feri dari Tanah Merah ke Batam yang awalnya Sing$48 menjadi hanya Sing$20. “Syaratnya adalah para wisatawan itu tidak boleh hanya naik feri, tapi juga harus menginap di hotel. Harga hotelnya juga dari 100 dolar turun menjadi hanya 60 dolar. Golf biasanya Rp1 juta, menjadi Rp590.000. Bundling seperti ini yang kita kembangkan dan kita jual,” ujar Pitana.

Selain itu, untuk mengantisipasi naiknya jumlah wisman pada weekday, pemerintah juga mendorong agar kegiatan-kegiatan di Batam-Bintan diadakan tidak hanya pada saat weekend, tapi juga pada saat weekday.

Program cross-border di Batam-Bintan ini diharapkan dapat diterapkan di perbatasan lain yang ada di Indonesia, terutama di perbatasan darat. “Kita memasang perangkap di 8 area, 30 titik, dengan 214 kegiatan di sepanjang 2017,” ujar Pitana.

Untuk kegiatan yang diadakan di perbatasan, Pitana mengatakan bahwa jenis aktivitas yang diselenggarakan berbeda-beda, tergantung karakteristik negara tetangganya. Di Batam-Bintan, jenis kegiatan yang cocok diselenggarakan adalah balap sepeda, lomba lari, golf, dan shopping. Di Atambua, aktivitas yang cocok adalah balap kuda, motocross, atau musik reggae. “Di Papua adalah lomba panjat pinang, dan di Entikong adalah musik dangdut,” ujar Pitana.

Bintan Golf

“Target kita adalah hampir 3,2 juta wisman dari program cross-border. Untuk melakukan itu kita tentunya melakukan riset. Setiap kegiatan nantinya yang mendata jumlah wisman yang datang adalah BPS dan imigrasi, bukan Kemenpar,” ujar Pitana.

“Wisman cross-border pada periode Januari sampai Juni 2017 meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu, yaitu 857.954 dari 403.385 pada 2016,” kata Pitana.

Devisa Wisman Perbatasan Masih Kecil

Meskipun sumbangan wisman dari daerah perbatasan mencapai lebih dari 20 persen dari total kunjungan wisman pada 2017 yang 15 juta wisman, namun sumbangsih devisa dari perbatasan masihlah kecil.

“Saya jujur mengatakan pembelanjaan wisatawan cross-border kita sangat kecil dibandingkan wisatawan biasa. Kalau Singapura dan Malaysia itu pengeluarannya setengah daripada wisatawan normal yang rata-rata US$1.108. Malaysia hanya US$750, dan Singapura hanya US$680. Sementara itu, rata-rata pengeluaran wisatawan cross-border hanya US$250, sedangkan wisatawan darat dari Entikong, Atambua, dan Jayapura itu rata-rata hanya US$50,” ujar Pitana.

Namun, Pitana meyakini bahwa program cross-border ini tidaklah semata-mata untuk meningkatkan penerimaan devisa Indonesia. Program ini merupakan salah satu cara yang disebut dengan “membangun dari beranda depan”–meminjam istilah yang pernah dilontarkan Presiden Joko Widodo. Pariwisata merupakan entry point yang sangat bagus dalam membangun beranda depan, sebab begitu pariwisatanya jalan maka yang lain akan mengikuti.

“Ini sangatlah penting. Meskipun kami membutuhkan statistik kedatangan turis, tapi nilai lainnya adalah ‘membangun dari depan’ itu seperti yang diinstruksikan Presiden. Kalau dibangun, pasar akan bergerak, craft dan kuliner juga akan bergerak,” ujar Pitana.