Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia: Brand Karnaval Indonesia

Friday, 15 January 16   0 Views   0 Comments   Venue

Berbicara soal manfaat ekonomi dari perhelatan sebuah karnaval, Rio de Janeiro dapat menjadi contoh yang bagus. Menurut data Plano de Turismo da Cidade do Rio de Janeiro (Perencanaan Pariwisata Rio de Janeiro), karnaval yang berlangsung di Rio sejak 1723 itu berhasil menyumbang pendapatan US$628 juta terhadap perekonomian Brasil pada tahun 2012. Ketika karnaval berlangsung, tingkat hunian hotel mencapai 90 persen, dan membuka 250.000 lapangan pekerjaan.

Meskipun belum sehebat Rio, Indonesia mempunyai karnaval yang mulai mendunia, yaitu Jember Fashion Carnaval (JFC). Benih karnaval yang ditanamkan Dynand Fariz sejak 14 tahun lalu di kota mungil penghasil tembakau, kopi, dan kakao itu mulai memetik hasil. “Pada 2014, perolehan dari parkir, restoran, dan kaki lima mencapai sekitar Rp3 miliar dalam sehari. Itu (berkah ekonomi) mulai terasa sejak 4-5 tahun lalu,” kata Dynand.

Karnaval yang diikuti oleh lebih dari 1.300 peserta dan dikunjungi ribuan penonton itu pun berhasil menarik perhatian lebih dari 3.000 jurnalis serta fotografer nasional dan internasional. Hal itu kemudian berdampak pada kunjungan turis yang meningkat, pertumbuhan hotel, dan penambahan pendapatan daerah dari sektor pariwisata. 

Prestasi JFC itu sampai di telinga Achyaruddin yang saat itu menjabat Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif, dan Event Kementerian Pariwisata. Achyaruddin pun memimpikan agar berkah yang dinikmati Jember dari perhelatan karnaval menular ke sejumlah destinasi pariwisata di Nusantara. Kemudian, ia bersama Dynand dan sejumlah pelaku karnaval menggagas pembentukan Asosiasi Karnaval Indonesia (AKARI).  

Menurut Achyaruddin, AKARI ini merupakan organisasi tempat berhimpunnya para pelaku karnaval di Indonesia. AKARI kemudian diminta untuk menjalankan program acara bertajuk Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia (WACI) yang diselenggarakan pada 23 Agustus 2015, sehari sebelum acara grand carnaval JFC berlangsung di Jember. “Nah, melalui WACI inilah kesuksesan JFC dapat ditularkan ke daerah lainnya,” kata Achyaruddin.

Acara perdana WACI ini diikuti oleh tim karnaval dari tujuh provinsi yang telah memiliki DPD AKARI: Jawa Timur (sebagai tuan rumah), DKI Jakarta, Bali, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan Bangka Belitung. Setiap tim karnaval itu berjumlah 50 orang yang telah lulus seleksi dan mendapatkan pelatihan dari AKARI. Mereka tampil dalam satu catwalk sepanjang 2,6 kilometer di Jember. 

Adapun pelatihan yang diberikan meliputi pembuatan konsep, pengemasan karnaval, manajemen acara, hingga pemahaman mengenai standar pelaksanaan sebuah karnaval yang benar. Tujuannya sederhana, yakni agar karnaval di pelbagai daerah punya kualitas yang setara dengan JFC.

Meski demikian, bukan berarti mereka harus meniru JFC secara utuh. Pasalnya, kreativitas berbasis kearifan lokal juga merupakan faktor kunci sekaligus pembeda antara satu karnaval dengan yang lain. Batik, yang menjadi kekuatan Solo misalnya, dijadikan bahan utama dalam pembuatan kostum peserta karnaval.

Tak harus melulu soal fashion, menurut Dynand, beberapa tim karnaval juga dapat lebih menonjolkan unsur budaya, tarian, atau kearifan lokal lainnya. “Jakarta tampil dengan ondel-ondel dan noni Belanda. Bali memadukan karnaval dengan tarian khas pulau Bali. Keunikan dari masing-masing daerah itulah yang membuat WACI menjadi menarik dan menjadi etalase karnaval Indonesia,” kata Dynand.

Menurut Sri Wahyuni, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, sebagai etalase, WACI ini bukan sekadar ajang pembelajaran kreatif. “Upaya memfasilitasi daerah untuk tampil dalam satu catwalk ini merupakan kesempatan kami agar lebih dikenal oleh banyak orang dan kemudian datang ke Kutai Kartanegara untuk menyaksikan karnaval yang kami selenggarakan,” kata Sri.

Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia

Kapitalisasi Industri Karnaval

Selain kualitas karnaval, hal yang menjadi keautentikan JFC dibandingkan dengan karnaval lainnya adalah soal militansi peserta. Berkat sentuhan tangan dingin Dynand, JFC berhasil mengundang partisipasi aktif dari masyarakat Jember dan sekitarnya untuk turut serta. Para peserta JFC sifatnya suka rela: tanpa dibayar, malah justru keluar modal. 

Aris misalnya, salah satu relawan asal Bondowoso, untuk dapat tampil di JFC 2014, ia harus merogoh kocek hingga Rp3 juta untuk membuat kostum karnaval. Sama seperti peserta lainnya, Aris pun merancang, mencari bahan, dan membuat kostumnya sendiri agar dapat berkarnaval.

Militansi itu tak terasa di karnaval lainnya, termasuk di tim karnaval dari enam provinsi yang menjadi peserta WACI. Karnaval di enam provinsi itu lahir dari tangan pemerintah kota atau provinsi. “Biaya pelaksanaan Tenggarong Kutai Carnival (TKC) yang akan berlangsung pada Oktober mendatang masih sepenuhnya dari pemerintah kabupaten. Inisiasi karnaval pun datang dari pemkab,” kata Sri.       

Namun, Sri berharap, dalam lima tahun ke depan, TKC dapat mandiri. Untuk itu, mulai tahun ini Pemkab Kukar membentuk manajemen TKC yang bertugas untuk menyelenggarakan karnaval. “Jadi, mulai tahun ini kami hanya menyediakan dana, bahan untuk kostum, dan tempat. Untuk pelaksanaan, kami serahkan pada manajemen TKC,” kata Sri.

Selain itu, manajemen TKC pun mulai didorong untuk dapat bekerja sama dengan pihak ketiga (sponsorship). Dan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan karnaval, SDM di TKC disekolahkan ke Jember untuk mempelajari tentang manajemen karnaval hingga mendesain kostum. “Bila kualitasnya sudah bagus, demand melebihi supply, saya yakin TKC ini dapat mandiri,” kata Sri.

Menurut Dynand, mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah sangat penting. Pasalnya, besar kemungkinan karnaval tidak akan berjalan ketika dana dari pemerintah tak lagi mengalir. “Meskipun belum kuat, independensi itu mulai ada. Tanpa pemerintah, mereka berani jalan, “kata Dynand. “Babel itu dapat tampil di WACI karena berhasil membujuk pihak sponsor.”

Pentingnya independensi juga telah dipikirkan oleh Achyaruddin. Ternyata, itulah salah satu tujuan utama yang melatarbelakangi kelahiran AKARI. Organisasi nirlaba ini diharapkan mampu mengkapitalisasikan industri karnaval di Indonesia dan membuat WACI berumur panjang.   

“Jangan sampai ketika tidak ada dukungan, AKARI pun selesai. Organisasi ini yang nantinya menjadikan WACI sebagai brand karnaval Indonesia. Pada tahun 2019, selain provinsi, beberapa negara juga telah mengirimkan tim karnavalnya ke WACI,” kata Achyaruddin.

Penulis: Bayu Hari