Tingkat Okupansi Hotel Naik, Tapi Harga Lebih Murah

Monday, 11 January 16   4 Views   0 Comments   Venue

Tingginya pertumbuhan hotel di Indonesia, terutama di Jakarta, Surabaya, dan Bali, membuat setiap hotel berlomba-lomba menarik konsumen, salah satunya dengan menurunkan harga kamar. Dampaknya, secara keseluruhan, tingkat okupansi hotel di Jakarta, Surabaya, dan Bali pada kuartal ke-4 2015 meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Dari hasil riset Colliers International, tingkat okupansi rata-rata hotel di Jakarta pada kuartal ke-4 2015 naik 2,71 persen dibandingkan pada kuartal ke-3, tapi tingkat rata-rata harga harian menurun 0,15 persen. Pada 2015, terdapat tambahan 1.349 kamar hotel bintang lima, 1.496 kamar hotel bintang empat, dan 1.227 kamar hotel bintang tiga di Jakarta. Sementara itu, pada 2016, diprediksi akan dibuka lagi 1.717 kamar hotel bintang tiga, 3.559 kamar hotel bintang empat, dan 1.303 kamar hotel bintang lima.

“Jakarta selalu menjadi sasaran empuk. Meski keterbatasan lahan menjadi kendala, akan banyak pemain besar hadir pada tahun ini,” ujar Ferry Salanto, Associate Director Research Service Colliers International.

Hal yang sama juga terjadi di Bali yang tingkat okupansinya naik 2,04 persen dan rata-rata harga hariannya turun 1,90 persen. “Bencana alam erupsi Gunung Rinjani dan Raung turut berpengaruh, yang menyebabkan wisatawan tidak dapat keluar-masuk akibat penutupan Bandara Ngurah Rai,” ujar Ferry.

Pada 2016, Bali akan mendapat tambahan 1.551 kamar baru pada hotel bintang tiga, 3.515 kamar hotel bintang empat, dan 3.217 kamar bintang lima. Rinciannya adalah 16 hotel terbaru akan dibuka di daerah Jimbaran, 11 hotel di area Kuta, dan 3 hotel baru di daerah Nusa Dua.

Di antara Jakarta dan Bali, Surabaya menjadi kota yang tertinggi pertumbuhan okupansi hotelnya, yakni dengan 3,51 persen. Akan tetapi, harga rata-rata harian kamar hotel turun 1,38 persen. “Surabaya masih terus berkembang. Saat ini ada tujuh hotel yang baru beroperasi di selatan Surabaya. Hal ini karena akses yang dekat dengan central business dan Bandara Juanda,” kata Ferry.

Brand hotel harus melirik potensi di daerah yang belum banyak dibangun properti hotel, tapi mempunyai potensi pariwisata yang besar sehingga dapat menarik wisatawan,” ujar Ferry.

Penulis: Mikhail