The Warehouse Hotel, Warisan Sejarah yang Dipugar dengan Cermat

Tuesday, 26 September 17   9 Views   0 Comments   Harry Purnama
The Warehouse Hotel

The Warehouse Hotel dibangun pada 1895 di sepanjang Singapore River sebagai bagian dari rute perdagangan Selat Malaka. Pada waktu itu, daerah ini merupakan sarang komunitas rahasia, aktivitas bawah tanah, dan penyulingan minuman keras. Hari ini, meski sebagian besar dari sejarah itu telah hilang, The Warehouse Hotel telah dipugar dengan cermat menjadi hotel independen dengan 37 kamar yang berfokus pada warisan dan budaya lokal. Dibuka sejak Januari 2017, hotel ini menyajikan keramahtamahan dengan kamar yang sarat sejarah, hidangan lokal klasik, dan koktail kreasi sendiri di kawasan Roberson Quay yang semarak.

The Warehouse Hotel merupakan hotel perdana dari perusahaan perhotelan terkemuka Singapura The Lo & Behold Group dan merupakan bagian dari portofolio Design HotelsTM. Properti ini dimiliki oleh I Hotels, didesain oleh badan lokal Asylum, dan perusahaan lokal Zarch Collaboratives memimpin rehabilitasi arsitekturalnya.

Chris Lee, Kepala Desainer dan Pendiri Asylum, telah mengembangkan bangunan yang penuh gaya dan bernuansa misterius seperti bangunan aslinya yang berfungsi sebagai gudang selama puncak perdagangan rempah-rempah di Singapura. Dekorasi dan perabotannya merupakan perpaduan masa lampau dan era modern Singapura, menghadirkan suasana bernuansa industri namun tetap ramah.

“Fokus kami adalah melindungi warisan properti sekaligus menciptakan perspektif yang baru. Lingkungannya hangat dan modern agar tidak terkesan hanya tenggelam dalam sejarahnya di masa lampau,” ujar Chris.

Bar lobi The Warehouse Hotel yang khas menyajikan koktail kreasi sendiri dengan infusi alkohol dan essence buatan sendiri. Sebagai penghormatan pada tiga era masa lalu hotel yang berbeda, menu minumannya mencerminkan perjalanan bangunan ini. Para tamu akan menikmati cita rasa perdagangan rempah-rempah, merasakan berada di tengah-tengah penyulingan ilegal, dan akhirnya tenggelam di era 80-an yang memukau—saat bangunan ini menjadi diskotek paling terkenal di Singapura pada masa itu.

Seluruh kuliner di The Warehouse Hotel dirancang oleh Chef Willin Low yang juga merupakan chef untuk restoran andalan hotel: Po. Sebagai pendiri Wild Rocket—salah satu dari 50 restoran terbaik di Asia, pelopor Mod-Sin ini telah membangkitkan kembali cita rasa masa lalu yang begitu disukai dan menyajikan berbagai hidangan lokal favorit dengan interpretasi baru dengan hanya menggunakan bahan-bahan Asia terbaik eksklusif untuk hotel. Hidangan khasnya termasuk Charcoal-grilled Iberico Satay, Spicy Tamarind Barramundi, dan Carabinero Prawns & Konbu Mee. Po merupakan sebuah bentuk penghormatan untuk popo—Bahasa Mandarin untuk nenek—serta kekayaan warisan kuliner Singapura.

The Warehouse Hotel memiliki 37 kamar yang elegan yang terbagi atas enam tipe yang didesain dengan nuansa minimalis. Dengan tiga atap pelana yang khas dan dinding batu asli, kamar-kamarnya didesain untuk menonjolkan tata letak bangunan yang sudah ada—membuat setiap kamarnya berbeda. Bar lobi dan ruang penerimaan tamu sangat ideal untuk relaksasi dan menikmati suasananya yang semarak, sementara kolam renang tanpa batas di atap dengan pemandangan ke arah sungai menghadirkan suasana yang tenang di tengah suasana perkotaan.

“Hotel adalah perpanjangan alami kekuatan kami sebagai grup, baik dalam konsep, desain, dan pengalaman tamu. Kami berupaya menyediakan layanan yang spontan, intuitif, dan informal. Kami ingin membangkitkan kenangan dan pengalaman pribadi yang berakar dalam budaya kita,” kata Wee Teng Wen, Managing Partner The Lo & Behold Group.