Evolusi Pusat Perbelanjaan Menjadi Tempat Pameran

Wednesday, 04 October 17   15 Views   0 Comments   Ahmad Baihaki
Mal saat ini semakin sering dipakai untuk lokasi pameran maupun kegiatan lainnya. Foto: Venuemagz/Erwin

Pusat perbelanjaan saat ini tidak lagi hanya menjadi tempat untuk berbelanja, tetapi juga telah menjadi tempat untuk aktivitas lain, seperti kegiatan bisnis, pameran, hingga aktivitas keluarga sembari mengisi waktu liburannya pada akhir pekan. Hal itu disampaikan oleh Steve Subadi J. Sudijanto, Senior Associate Director Retail Services Colliers International.

Steve menjelaskan, nyawa dari sebuah pusat perbelanjaan itu tergantung dari ramainya pengunjung. Karena itu, apabila pengunjungnya sedikit, maka pusat perbelanjaan itu tidak akan bertahan. Seperti yang baru-baru ini terjadi terhadap Matahari yang menutup dua gerainya di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai. Hal itu salah satunya juga dipicu oleh kebijakan perusahaan yang ingin lebih fokus mengembangkan bisnis berbasis daring.

Oleh karena itu, untuk menyiasati agar tidak ada gerai yang lagi tutup dan pusat perbelanjaan tetap ramai pengunjung, pengelola mal bisa memperbanyak orang yang meeting di restoran pada hari biasa atau mengadakan pameran di akhir pekan. “Karena akan ada anak-anak muda atau keluarga yang ingin mendapatkan hiburan selain aktivitas berbelanja di mal,” ujar Steve.

“Pameran itu penting diadakan. Apabila tidak ada aktivitas lain di mal, otomatis si penyewa akan kehilangan transaksi, sebab dari sisi pengunjungnya saja sudah sedikit, dan dampaknya para penyewa ruang di mal akan lebih memilih tidak menyewa tempat,” kata Steve.

Colliers Internasional mencatat, sejak satu dekade lalu tingkat okupansi retail di Indonesia mencapai titik terendah 83,3 persen. Pada kuartal ketiga 2017, angka itu turun 2,3 persen. Di sektor ritel, berdasarkan permintaan, kategori pakaian anak-anak dan bayi, pakaian olahraga, baju dan tas sebanyak 60 persen, 30 persen F&B, dan sisanya seperti kesehatan, kecantikan, dan perhiasan.