Jember Ditetapkan Sebagai Kota Karnaval oleh Kementerian Pariwisata

Monday, 31 July 17   16 Views   0 Comments   Harry Purnama
Jember Kota Karnaval
Foto: Venuemagz/Hakim

Menteri Pariwisata Arief Yahya menetapkan Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebagai Kota Karnaval melalui Surat Keputusan (SK). Ada beberapa alasan mengapa Kementerian Pariwisata memberikan predikat Kota Karnaval kepada Jember.

Taufik Rahzen, Staf Khusus Bidang Budaya Menteri Pariwisata, mengatakan, alasan yang pertama adalah tradisi karnaval yang sudah mengakar bertahun-tahun di Jember. Salah satunya adalah karnaval Tajem (Tanggul-Jember) yang sudah berlangsung lebih dari 30 tahun. Pada acara Tajem ini, masyarakat berjalan kaki dari Kecamatan Tanggul ke alun-alun Jember.

Alasan yang kedua tentu adalah keberadaan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang telah mendunia dan menjadi magnet utama di Jember. Jember Fashion Carnaval juga telah menginspirasi lahirnya fashion karnaval lain di Indonesia, seperti di Solo, Banyuwangi, Tenggarong, dan Cirebon. Taufik mengatakan, keunggulan dan kekuatan JFC adalah karena acara ini bersifat mandiri, seperti menggunakan SDM lokal serta dana yang digunakan juga berasal dari kantong sendiri.

Sementara itu, Arief Cahyono, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, mengatakan, manajemen penyelenggaraan Jember Fashion Carnaval telah profesional. Karena itu, tak heran apabila JFC telah hadir selama 16 tahun dan akan terus berlanjut. Selain itu, JFC juga tidak pelit berbagi ilmu penyelenggaraan sebuah karnaval fashion.

“Karena itu tidak diragukan lagi Jember bisa menjadi Kota Karnaval, sebab ia dimulai dari dalam dan melibatkan masyarakat,” ujar Taufik.

Arief sangat mengapresiasi penetapan Jember sebagai Kota Karnaval oleh Kementerian Pariwisata. Menurut Arief, dari dulu sebenarnya Jember sudah memiliki banyak obyek wisata, tapi tidak dikenal dengan baik karena dulu tidak ada pemicunya. Kehadiran JFC mempromosikan obyek wisata itu sehingga Jember mulai dilirik oleh wisatawan.

Karena sudah menjadi salah satu pemicu ditetapkannya Jember sebagai Kota Karnaval, pemkab Jember pun akan terus memberikan dukungan pada pelaksanaan JFC. Dynand Fariz, Presiden Jember Fashion Carnaval, mengatakan, pelaksanaan JFC edisi pertama hingga ke-8 masih bersifat mandiri dan tanpa sponsor. Namun, sejak JFC ke-9, Pemkab Jember telah memberikan bantuan berupa dana hibah.

“Akan tetapi, karena ada peraturan yang melarang hal tersebut, pada tahun ini pemkab mengalihkan bentuk dukungannya ke hal lain, seperti memfasilitasi rapat, fasilitasi tamu VVIP, pengamanan acara, bantuan pagar pembatas dari dinas perhubungan, dan sebagainya,” ujar Arief.

Meskipun telah ditetapkan sebagai Kota Karnaval, Arief mengatakan bahwa pemkab tidak akan membuat branding baru lagi karena biaya untuk mempromosikannya itu cukup mahal. Yang akan dilakukan adalah memperkuat branding yang sudah ada, apalagi tagline Jember yang sekarang, yaitu “Naturally Jember Lovely Destination”, desainnya sudah bernuansa karnaval.

Setelah menerima penghargaan sebagai Kota Karnaval, tentu Jember harus sudah memikirkan rencana ke depan apa lagi yang akan dilakukan. Dynand Fariz sendiri mengatakan bahwa pada tahun depan JFC akan menghadirkan sesuatu yang baru, salah satunya adalah keberadaan konser musik yang akan mengiringi pawai fashion di runway.

“Ke depannya JFC juga akan mulai menerima sponsor, tapi tidak sepenuhnya. Untuk di area VVIP dan runway tidak akan ada logo sponsor karena ini kepentingan publikasi internasional. Selain itu, tidak menutup kemungkinan ke depannya JFC ini akan menjadi pure bisnis, asalkan tidak menonjolkan kepentingan bisnis itu, seperti ada embel-embel brand di nama Jember Fashion Carnaval,” ujar Dynand.

Senada dengan Dynand, Taufik Rahzen pun mengatakan bahwa Jember harus sudah mempunyai blueprint pengembangan Jember sebagai Kota Karnaval. Ia mencontohkan, Jember harus mulai memikirkan untuk membangun museum fashion, akademi, maupun sekolah fashion di Jember.

“JFC tidak lagi bisa menjadi karnaval pariwisata, tapi harus menjadi pariwisata karnaval. Perbedaannya, apabila karnaval pariwisata, orang-orang datang hanya untuk menonton JFC. Sementara itu, apabila menjadi pariwisata karnaval, orang-orang dari berbagai daerah dapat berpartisipasi menjadi peserta karnaval. JFC menjadi sebuah bisnis baru. Orang-orang nanti akan mendapatkan paket wisata JFC, yang isinya sudah termasuk penginapan, transportasi, pelatihan menjadi model karnaval, difoto ketika sedang pawai, dan sebagainya. Kostum karnavalnya pun akan disediakan oleh panitia,” ujar Taufik Rahzen.