Mengubah Kawasan Tambang Menjadi Obyek Wisata

Monday, 15 August 16   0 Views   0 Comments   Venue

Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, berupaya membenahi diri dalam mengembangkan industri pariwisata. Kota yang dahulu bertumpu pada sektor pertambangan batu bara ini semakin menggeliat untuk menata akomodasi, museum, tempat rekreasi, dan bangunan-bangunan tua di kota agar siap menyambut para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Kami ingin membuktikan kepada dunia bahwa kawasan tambang bisa disulap menjadi tempat pariwisata yang banyak diminati wisatawan ke depannya,” kata Efriyanto, Kepala Dinas Pariwisata Sawahlunto.

Efriyanto menuturkan, mata pencaharian masyarakat Sawahlunto dulunya adalah di industri pertambangan batu bara. Sekarang ini, masyarakat beralih profesi seiring kondisi tambang yang sudah tidak bisa diharapkan sehingga mereka memutuskan untuk berdagang, jasa usaha homestay, dan industri kerajinan.

Efriyanto menilai, perkembangan kota Sawahlunto menunjukkan tren yang signifikan terhadap industri pariwisata. Ia menyebutkan, setelah menggalakkan sektor pariwisata, Sawahlunto menjadi kota ketiga dengan angka kemiskinan terendah di seluruh Indonesia, setelah Tangerang Selatan dan Denpasar.

“Tantangan terbesar adalah mengubah mindset masyarakat Sawahlunto agar bisa memberikan jasa atau pelayanan untuk para tamu wisata, dan kami ingin agar pariwisata Sawahlunto meningkat, untuk itu perlu gerakan bersih lingkungan dan ramah senyum,” ucap Efriyanto.

Efriyanto mengatakan, kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik ke Sawahlunto pada tahun 2014 sebanyak 647.000 wisatawan, pada 2015 mencapai 810.000, dan tahun ini ditargetkan 1 juta wisatawan. Dari segi PAD, pada tahun lalu Sawahlunto menghasilkan Rp3,5 miliar, dan pada tahun ini ditargetkan mencapai Rp4 miliar.

Beberapa obyek wisata di Sawahlunto antara lain Lubang Mbah Soero, Museum Goedang Ransoem, Museum Kereta Api, Silo, dan Danau Biru. Rencananya, pemkot Sawahlunto juga akan membuat diorama Sawahlunto dengan menggunakan dana APBN sebesar Rp3,5miliar.

Penulis: Ahmad Baihaki