PHRI Harus Berperan Aktif Cegah Terorisme

Tuesday, 26 April 16   3 Views   0 Comments   Venue

Peran serta aktif PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) sangat diharapkan terkait pencegahan terorisme di segala sisi kehidupan karena aliran terorisme belakangan makin meluas di masyarakat yang otomatis memengaruhi semua sektor kehidupan, termasuk pariwisata yang sangat sensitif terhadap isu keamanan.

Hal tersebut disampaikan oleh Brigjen Herwan Khaidir, Direktur Perlindungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), saat menjadi narasumber pada Rapat Kerja Nasional I PHRI yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, 20-24 April 2016 lalu. “Terorisme merupakan ancaman bagi keamanan dan kedamaian. Tidak semata-mata TNI dan Polri, tetapi masyarakat, dalam hal ini PHRI, harus membantu memberantas hingga ke akarnya,” ujar Brigjen Herwan Khaidir.

Menurut Herwan, khusus Bali yang memiliki hotel dan restoran sangat banyak, peran serta semua pihak amat diharapkan. “Kalau kita bicara tentang perhotelan, pasti sistem keamanannya. Rasa nyaman dan keamanan itu yang mahal harganya. Keamanan itu ‘kan sebuah sistem, berarti orang yang mengawasi itu harus memberikan punish and rewards. Bagaimana kalau kita bicara tentang masalah keamanan lalu pihak hotel sendiri tidak mau mengeluarkan biaya, ‘kan repot juga kalau begitu. Jadi, artinya keamanan sangat mahal. Peralatan yang canggih juga harus didukung SDM yang memiliki kualifikasi bagus, bukan sembarang orang dipakaikan baju satpam, jadi ya harus terlatih,” ujar Herwan.

Selain atraksi dan destinasi, pariwisata yang dijual adalah jasa karena di Bali hotel bertaburan di mana-mana. Jadi, masyarakat juga harus peduli agar wisatawan yang datang merasa aman. Dalam masyarakat, kontribusi pecalang juga penting, misalnya dalam 1×24 jam tamu harus lapor sehingga budaya yang ada dalam masyarakat perlu dijaga dan ditingkatkan.

Untuk itu, Herwan berharap agar PHRI dapat mengambil peran untuk menggalang keamanan untuk meminimalisir berkembangnya aliran radikalisme. Apalagi, saat ini teroris selalu merencanakan dengan baik aksinya.

Senada dengan Brigjen Khaidir, sebelumnya di tempat yang sama Kapolda Bali Inspektur Jenderal Sugeng Priyanto juga meminta pengelola tempat wisata di Bali, termasuk hotel dan restoran, untuk bisa mendeteksi dini ancaman terorisme. Berbagai upaya bisa dilakukan, mulai dari melatih tenaga pengamanan hingga menyiapkan sarana pendukung.

“Satuan pengamanan harus dilatih deteksi dini untuk setiap kondisi yang patut diduga berpotensi mengganggu keamanan,” ujar Sugeng. Kepolisian, lanjut Sugeng, siap membantu hotel dan restoran bila membutuhkan pelatihan untuk satuan pengamanan dalam upaya pencegahan tindakan teror. Dengan adanya tenaga keamanan yang terlatih, diharapkan petugas tidak lengah dalam memeriksa setiap pengunjung, termasuk tamu yang menginap di hotel.

Sugeng juga mengimbau agar setiap hotel dan restoran dilengkapi dengan kamera pengawas atau CCTV dan pendeteksi logam di setiap pintu masuk. Jika petugas keamanan terlatih untuk mencegah aksi teror, keberadaan CCTV bisa membantu polisi. Selain itu, pengelola hotel dan restoran juga diharapkan mendayagunakan aparat keamanan adat Bali atau pecalang untuk membantu pengamanan wilayah. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap aksi terorisme dan aksi kejahatan lain mengingat Bali merupakan daerah tujuan wisata dunia.

Penulis: Nila Sofianti