Sertifikasi untuk Meningkatkan Popularitas Destinasi Wisata Halal

Friday, 05 May 17   35 Views   1 Comments   Harry Purnama
Wisata halal GMTI

Indonesia mulai naik popularitasnya sebagai destinasi wisata halal yang ramah muslim. Hal itu berdasarkan hasil riset terbaru Global Muslim Travel Index yang dikeluarkan oleh MasterCard Crescent Rating. Hasil riset Global Muslim Travel Index menunjukkan bahwa Indonesia sukses meningkatkan posisinya selama dua tahun berturut-turut di antara negara-negara anggota OKI (Organisasi Kerja Sama Islam).

Pada tahun 2016, Indonesia berada di posisi keempat di belakang Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki. Pada tahun ini, Indonesia menggeser posisi Turki untuk menempati peringkat ketiga. Nilai wisata halal di seluruh dunia diperkirakan tumbuh menjadi US$220 miliar pada 2020.

Sementara itu, untuk negara non anggota OKI, Singapura berhasil mempertahankan posisi puncak, diikuti oleh Thailand, Inggris, dan Hong Kong. Jepang berhasil naik dua peringkat menjadi peringkat keenam, sementara Spanyol memasuki peringkat 10 besar untuk pertama kalinya.

Fazal Bahardeen, Chief Executive Officer CrescentRating dan HalalTrip, mengatakan, Indonesia sudah dikenal dan memiliki standar halal sebab mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Untuk memajukan wisata halal, Indonesia tidak boleh hanya memfokuskan pada peningkatan posisi, tetapi juga bagaimana cara menyosialisasikannya.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Republik Indonesia Arief Yahya mengatakan, tahun lalu Indonesia berhasil memperoleh 12 dari 16 piala pada ajang World Halal Tourism. Hal inilah yang menyebabkan naiknya peringkat Indonesia dalam GMTI. Arief mengatakan bahwa destinasi di Indonesia yang sudah siap menyambut wisatawan muslim dunia adalah Sumatera Barat, NTB, dan Aceh.

“Dari ketiga tujuan itu, Lombok adalah yang paling siap. Pertumbuhannya wisatawan muslimnya mencapai 50 persen, yakni dari 1 juta turis muslim pada 2015 menjadi 1,5 juta turis muslim pada 2016. Sebab, di daerah itu hotelnya juga sudah banyak menyediakan fasilitas musala,” kata Arief.

Arief menambahkan, untuk meningkatkan daya saing wisata halal, setiap industri di Indonesia disarankan melakukan sertifikasi halal, dan bagi yang mengeluarkan sertifikasi juga harus memberikan kemudahan.

(Baca juga: Potensi Besar Wisata Halal di Jawa Timur)

“Makanan di Indonesia sudah halal by default. Inilah yang menjadi keunggulan dan kelemahan negeri ini,” kata Arief Yahya. Oleh karena itu, penekanan sertifikasi halal pada restoran-restoran di Indonesia menjadi salah satu pekerjaan rumah Kementerian Pariwisata agar potensi wisata halal di Indonesia meningkat.

Selain itu, pemerintah juga akan meluncurkan aplikasi online yang berisi segala bentuk informasi tentang wisata halal di Indonesia bagi para turis muslim mancanegara yang ingin berkunjung ke Indonesia. Salah satu contoh informasi adalah restoran-restoran mana yang sudah bersertifikasi halal dan tempat ibadah terdekat.

Penilaian GMTI dilakukan berdasarkan empat kriteria strategis utama, yakni akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan, yang selanjutnya dibagi menjadi 11 sub bagian. Hal ini termasuk kedatangan muslim, konektivitas udara, batasan visa, kesesuaian sebagai tujuan liburan keluarga, kemudahan komunikasi, tingkat layanan dan fasilitas yang disediakan, pilihan akomodasi, dan inisiatif pemasaran. Setiap kriteria kemudian diberikan bobot untuk membentuk keseluruhan skor indeks.

Penulis: Ahmad Baihaki dan Dimas Aulia