Anang Sutono, Direktur Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung: “SDM Pariwisata, Quality or Die!”

Wednesday, 15 November 17   9 Views   0 Comments   Harry Purnama
Anang Sutono

Bagaimana konsep pariwisata yang benar? Pariwisata bukan sekadar bicara soal devisa dan uang. Pariwisata yang benar adalah bila kegiatan itu mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Begitulah keyakinan DR. Anang Sutono, M. Par, CHE, Direktur Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB).

“Bila pariwisata tidak meningkatkan kualitas hidup manusia, berarti ada yang salah dalam pariwisata itu,” papar Anang.

Konsep pariwisata, menurut Anang, pada titik filosofis dan strategis memaksa para pelaku industri pariwisata berpikir ulang bagaimana sebuah bisnis pariwisata dijalankan. Perpaduan antara modal sosial dan keindahan alam hanyalah angin lalu bila tidak ditopang dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam mengelola pariwisata. Persoalannya, terjadi jurang yang menganga lebar antara ketersediaan dan kebutuhan SDM pariwisata yang andal. Sebagai pendidik dan insan pariwisata, ia menaruh perhatian besar terhadap hal itu.

Ia dan kawan-kawannya di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung membuka pintu lebar-lebar bagi perguruan tinggi lain yang ingin berkonsultasi, berbagi kurikulum, hingga literatur. Ia ingin mendorong tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan pariwisata yang berkualitas. Menurutnya, lembaga pendidikan pariwisata hanya dapat dibentuk bila memiliki leadership yang kuat dan jaringan kerja yang luas. Selain itu, kultur perguruan tinggi yang selalu ingin menjadi yang terbaik juga mutlak dibutuhkan.

Quality or die, budaya ini harus dimulai di lembaga pendidikan sehingga industri dapat memperoleh SDM terbaik,” kata Anang.

Mewarisi nama besar STPB, Anang menekankan keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara industri pariwisata dengan lembaga pendidikan bukanlah pada hasil, namun pada proses belajar-mengajar. Sejak tahun 1962, para pendiri STPB sudah menerapkan keterkaitan dan kesepadanan tersebut. Tanpa melibatkan industri, proses belajar-mengajar di lembaga pendidikan tidak akan ada artinya.

Itulah mengapa ia selalu mengundang alumni dan non-alumni dalam industri pariwisata untuk memberi kuliah umum. “Tujuannya agar mahasiswa mengetahui isu terkini dan apa yang dibutuhkan industri,” papar Anang.

Dengan segala kesiapan yang dimiliki STPB, tidaklah berlebihan bila Anang mengaku termasuk orang yang tidak takut dengan kehadiran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Di tengah kepungan mendung Kota Bandung, ia berbagi pengalaman sebagai praktisi perhotelan dan pengajar kepada redaksi VENUE, Ludhy Cahyana, Nurdin Alfahmi, dan Erwin Gumilar. Di ruangannya yang lapang dan bersahaja, pria ramah itu bertutur soal peran SDM pariwisata dalam pembangunan pariwisata nasional dan impiannya mengenai sebuah kampus ramah lingkungan sebagai aksi lembaga pendidikan pariwisata terhadap pemanasan global. Berikut nukilannya.

Bagaimana awal Anda mengenal lalu jatuh cinta dengan pariwisata?

Secara tidak langsung, dari zaman dahulu kala kita sudah cinta pada republik pariwisata ini. Saat saya masih kecil, di kampung ada aktivitas yang dinamakan nyadran (rangkaian budaya berupa pembersihan makam leluhur, menabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur). Ritual ini dilakukan sebelum puasa. Kultur ini terbentuk secara alamiah, masyarakat berkumpul dan berbondong-berbondong.

Sejak belajar pariwisata, saya semakin paham, fenomena kehidupan sehari-hari kalau diberikan interpretasi, itulah pariwisata. Nyadran menciptakan kegembiraan semua orang yang hadir, dari orang tua, ayah dan ibu, anak-anak, hingga cucu, meskipun hanya spontanitas tanpa ada undangan. Namun, masyarakat memiliki komitmen untuk berkumpul. Tentunya itu tidak mudah. Contoh lainnya adalah Grebek Suro.

Perjalanan berikutnya, saya memutuskan untuk berkuliah di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) Solo. Di situlah untuk pertama kali saya mengenal dunia perhotelan dan pariwisata. Kemudian pada tahun 1998 saya bekerja di sebuah hotel ternama di Solo, dari door man hingga menjadi resepsionis. Lalu berkesempatan kuliah di Scuola Internationale di Science Turistiche, Roma, Italia, dengan spesialisasi manajemen hotel atas beasiswa UNWTO dan Kementerian Luar Negeri Italia. Seterusnya, saya tidak bisa meninggalkan pariwisata.

Anang Sutono

Selain dari bangku kuliah, apa yang Anda pelajari dari pariwisata Italia?

Italia memiliki budaya pariwisata yang kuat. Selama di sana, saya menjelajahi Italia dari ujung satu ke ujung yang lain, hingga kota-kota kecil. Italia memiliki pariwisata yang lengkap, budaya, sejarah, kulinernya kuat, pantainya bagus, dan gunungnya banyak. Sebagai orang pariwisata, saya harus bepergian untuk mempelajari semuanya.

Yang saya petik dari Italia adalah rakyat di negara itu serius dan sadar bahwa Italia adalah wisata. Mereka melestarikan budaya, seperti di Trastevere. Orang membuat piza seperti awal makanan itu dibuat. Mereka memakai tungku besar. Lalu di Firenze, masyarakat mempersilakan turis melihat proses pembuatan wine yang tong-tongnya dimasukkan ke dalam gua.

Orang Italia merasakan pariwisata ada dalam darah mereka. Saya melihat mereka memiliki kebanggaan yang sangat tinggi terhadap leluhur.  Mereka sangat bangga pada masa lalu dan percaya diri terhadap masa depan.

Bagaimana mempertemukan budaya dan industri pariwisata seperti yang Italia lakukan?

Budaya itu kolektivitas dan konsep budaya itu aktivitas keseharian yang terakumulasi. Saat masyarakat menghargai dan bangga terhadap budaya leluhur, itu sudah menjadi modal. Jika telah memiliki kapital dan peluang, yang diperlukan adalah komitmen untuk mewujudkannya.

Namun, antara budaya dan industri harus ada transformasi dan sinergi atau aliansi yang kuat. Industri mampu berlari kencang bila modal budayanya kuat. Dengan begitu industri pariwisata tidak kehilangan identitas. Jadi, ketika wisatawan berbondong-bondong ke Italia, mereka sudah memiliki kesadaran atau mental yang kuat bahwa pariwisata dapat meningkatkan kualitas hidup rakyat Italia.

Begitu juga dengan bangsa Indonesia, bila modal budaya beraliansi dengan industri, pariwisata akan berpeluang besar untuk dapat meningkatkan kualitas hidup. Bila pariwisata tidak dapat meningkatkan kualitas hidup manusia, itu berarti ada sesuatu yang salah dengan pariwisata. Kualitas hidup bukan uang semata, tetapi juga makin hari hidup makin baik, ada rasa aman, makin sehat, dan tingkat harapan hidup lebih tinggi.

Bagaimana peran perguruan tinggi menciptakan peluang dalam industri pariwisata?

Naif bila Indonesia tidak memiliki identitas budaya dan komitmen menjunjung tinggi warisan leluhur, tetapi mengelola pariwisata. Untuk itu, mindset harus dibalik: dengan pendidikan, bangsa ini harus mampu menjadi identitas budaya dan berkomitmen menjaga warisan leluhur agar pariwisata di republik ini menjadi lebih baik.

Namun, hanya pendidikan berkualitas yang memiliki kekuatan meningkatkan kualitas hidup manusia; begitu juga pariwisata. Keduanya memiliki tujuan yang sama. Kalau kita sepakat bahwa kualitas pendidikan dapat meningkatkan pariwisata, maka sebuah lembaga pendidikan harus memiliki kualitas kepemimpinan dan kualitas budaya. Mengelola sekolah tanpa memiliki kultur, pemimpin, dan nilai hidup yang baik pasti akan rusak.

Ada semacam hipotesis, bila budaya dan pemimpin berkualitas, maka yang lahir adalah lembaga pendidikan berkualitas. Itulah hal paling fundamental dalam pariwisata.

Bagaimana cara STPB menciptakan keterkaitan dan kesepadanan dengan industri?

Dahulu kami memiliki program sandwich system, bekerja sama dengan Swisscontact. Setelah belajar di STPB, mereka magang di luar negeri. Setelah satu semester atau setahun, mereka akan kembali, lalu ke luar negeri lagi. Sampai akhirnya tidak ada mahasiswa lagi di kampus. Rupanya, setelah magang di luar negeri, mereka tidak kembali lagi. Mereka sudah menjadi general manager di luar dan dalam negeri. Ada ribuan ijazah di brankas kami yang belum mereka ambil.

Anda menakhodai sebuah lembaga pendidikan pariwisata tertua dan melegenda di Indonesia, terobosan apa yang Anda lakukan?

Justru ini tantangan saya dalam memimpin sebuah sekolah yang namanya sudah berkibar dan melegenda. Untuk membuat terobosan, saya menjumpai para direktur yang sudah memimpin sekolah ini dan para dosen senior. Saya mendengarkan mimpi semua direktur yang belum dan sudah terwujud. Saya menjadi pendengar yang baik dan mencoba mengidentifikasi visi mereka saat itu.

Saya juga berhasil mengumpulkan mereka di satu forum yang santai namun penuh esensi. Saya mencoba mencerna, menganalisis, lalu merealisasikan pemikiran mereka. Saya sadar jabatan ini hanya sekilas, tetapi sekolah ini harus dibangun dengan kebersamaan. Semua orang sudah paham bahwa sekolah ini merupakan yang terbaik dan tertua. Bagi saya, ini adalah modal untuk melihat masa depan.

Kepercayaan dari end user memberikan saya kepercayaan diri. Filosofi saya, memiliki banyak teman dan memiliki jaringan kerja itu penting. Sejak dahulu, STPB ini memiliki banyak teman, hotel yang mengenal kami juga banyak. Itu karena alumni kami ada di semua hotel. Bahkan yang bukan alumni pun sangat senang diundang ke sini. Saya mengundang mereka untuk memberikan kuliah umum. Dengan demikian, mahasiswa selalu up to date dengan isu dan kebutuhan industri.

Kepercayaan publik sangat luar biasa terhadap kami. STPB hanya menerima 614 mahasiswa baru, namun yang mendaftar mencapai 4.000. Kami memiliki International Tourism and Hospitality Grand Recruitment, semacam job fair. Tahun lalu, tersedia 12.515 lowongan untuk seluruh posisi, namun yang melamar hanya 3.900. Jadi, ada jarak yang luar biasa. Dari para senior itu, kami membangun pendidikan pariwisata yang mendunia, namun tetap berkepribadian Indonesia.

Standar apa yang Anda terapkan di STPB?

Ada tiga paradigma. Ini bukan sekolah akademik atau teoritikal, tetapi sekolah yang harus praktik, teknikal, dan vokasional. Dengan demikian, membangun keterampilan para mahasiswa sebaik mungkin sesuai pilihan program studinya adalah paradigma pertama. Kedua, memberi pengetahuan dan perspektif yang bagus. Karakter mahasiswa dibangun menjadi skill. Kemudian ketiga, sikap atau attitude.

Kami tidak boleh bermain-main dengan kurikulum dan harus melibatkan industri sebagai end user kami. Tanpa melibatkan industri, kurikulum kami menjadi tidak benar. Kami juga tidak boleh mengandalkan 100 persen proses mengajar kepada dosen, kecuali dosen tersebut terus diajak jalan-jalan untuk mengetahui isu terkini. Itu karena saya berpendapat bahwa keterlibatan dosen dari praktisi sangat penting karena dapat mengangkat kepercayaan diri mahasiswa. Keterkaitan dan kesepadanan bukan hanya menjadi tujuan, tetapi justru terdapat pada proses. Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan 250 industri yang terkait dengan perhotelan dan pariwisata. Kami ingin industri dan masyarakat bertanggung jawab karena mereka user dari alumni STPB.

Apa rencana Anda untuk STPB pada masa mendatang?

SDM pariwisata memiliki daya yang kuat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Atasan saya, Menteri Pariwisata Arief Yahya, meminta kuantitas lulusan STPB juga ditingkatkan. Beliau meminta, pada tahun 2016, sekolah ini menerima 1.000 mahasiswa dan pada tahun 2019 menerima 3.000.

Kami tidak mampu karena kekurangan dosen. Soal fasilitas, kami bisa kejar. Namun, dosen yang berkualitas sangat sulit dicari. Untuk mengejar kuantitas, kami memerlukan kampus baru yang berwawasan lingkungan. Idenya bermula dari kesedihan saya terhadap perubahan cuaca yang dramatis. Semua orang mengetahui perubahan cuaca, namun yang diperlukan adalah aksi. Kampus kami nantinya akan dibangun di atas lahan 34 hektare di Dayeuhkolot, Buah Batu, Bandung, bersebelahan dengan STT Telkom. Kampus yang saya rencanakan itu dapat menjadi eco-campus pertama di Indonesia. Bagi saya, kampus harus mengubah pemikiran orang.

Dana yang akan dihabiskan mencapai Rp800 miliar. Dari 34 hektare hanya 30 persen yang berupa gedung, dengan kapasitas 11.000 mahasiswa, dan setiap tahun mampu meluluskan 11.000 orang. Sekolah itu nantinya ditanami pepohonan langka yang hanya ada di Indonesia, dan kendaraan bermesin dilarang masuk. Demikian juga halnya dengan merokok, akan dilarang di area kampus. Kami juga akan memasang tenaga listrik dari PLN, namun hanya untuk cadangan. Itu karena listriknya akan menggunakan tenaga matahari atau solar cell.

Saya orang yang suka bercerita mengenai ide sehingga bantuan datang satu per satu. Kawan di Swisscontact misalnya, memberikan bantuan ahli greenland scaping. Ada juga yang membantu memberikan pakar water and waste management, green behavior management, serta kawan dari Jepang yang membantu memberikan ahli renewable energy. Saya ingin kampus ini menjadi karya dan peran semua orang karena pemanasan global adalah masalah umat manusia. Ini juga sumbangan pariwisata terhadap aksi memerangi pemanasan global.