Arief Yahya: “Indonesia Harus Incorporated”

Wednesday, 15 July 15   3 Views   0 Comments   Venue

Di sektor telekomunikasi, kepiawaian Arief Yahya telah teruji. Di bawah komando pria kelahiran Banyuwangi, 2 April 1961, ini kinerja PT Telekomunikasi Indonesia terus menunjukkan grafik positif. Pada tahun 2013 misalnya, PT Telekomunikasi Indonesia berhasil membukukan pendapatan usaha Rp83 triliun, dengan laba perusahaan Rp14,2 triliun. Prestasi itu naik sekitar 10 persen dari tahun sebelumnya, yang membukukan pendapatan Rp77,1 triliun dan laba Rp12,8 triliun.

Mungkin, prestasi gemilang yang diraih selama menjadi CEO PT Telekomunikasi Indonesia itulah yang mendasari Presiden Joko Widodo memilihnya menjadi Menteri Pariwisata. Di masa kepemimpinan Arief Yahya, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional diharapkan meningkat. Targetnya 20 juta wisman dan devisa Rp240 triliun.

Di sektor MICE, Arief mematok target satu juta wisman hingga tahun 2019. Selain meningkatkan gaung promosi, Arief mendukung terwujudnya national convention bureau guna memacu akselerasi industri MICE di Tanah Air. Menurutnya, agar target itu tercapai, seluruh stakeholder harus saling bekerja sama dan melakukannya secara incorporated: tidak berjalan sendiri-sendiri.

Untuk mengetahui gagasannya dalam pengembangan MICE di Indonesia, VENUE bertandang ke kantornya. Dalam sesi wawancara selama kurang lebih satu jam itu, beliau tampak percaya diri bahwa apabila pariwisata dan MICE Indonesia dibangun secara incorporated, target yang ditetapkan akan tercapai. Berikut ini hasil petikan wawancara VENUE, yang diwakili Bayu Hari, Pasha Ernowo, Siska Maria, dan Abdul Hakim (fotografer), dengan Menteri Pariwisata RI Arief Yahya beberapa waktu lalu.

 

Bagaimana peran pemerintah terhadap pembentukan national convention bureau?

Sejak hari pertama dilaporkan, semua bekerja sendiri-sendiri, dan hasilnya pasti kalah. Seharusnya, yang dilakukan adalah dengan bekerja bersama-sama. Itu karena yang bertanding bukan hotel dengan hotel, melainkan area dengan area lain, kota dengan kota lain, dan negara dengan negara lain. Oleh karena itu, saat kunjungan kerja ke Bali, saya minta Bali Convention Bureau diaktifkan supaya kita bisa menang saat bidding. Untuk itu, Indonesia harus incorporated.

Untuk namanya, boleh menggunakan Indonesia Convention and Exhibition Bureau (ICEB atau INACEB) dan seluruh resources ada di sana. Namun, menurut saya resources tidak harus dalam bentuk uang. Jadi, kalau kita punya uang Rp100 miliar, itu bisa untuk insentif.

Sekarang anggap saja sumbangannya 3,5 persen untuk MICE. Misalkan dari 10 juta wisatawan mancanegara, berarti hanya 350.000. Jika ingin mencapai satu juta turis MICE, dibutuhkan anggaran yang naik tiga kali lipat. Anggaran cash diperlukan untuk promosi, sedangkan sisanya bisa non-cash (insentif untuk pelaku MICE). Insentif itu diskon, jadi saat low season, berikan saja diskon.

Servis itu bersifat experiencing. Jadi, itu akan sulit kalau orang tidak mengalami. Kalau dalam telekomunikasi-mungkin dapat diterapkan di sini-ada istilah freemu: free ditambah premium. Jika kita ingin berjualan jaringan Internet nirkabel, apa sih susahnya bila kita berikan secara cuma-cuma terlebih dahulu? Ketika orang sudah merasakan, barulah kita jual. Misalkan hari ini gratis satu jam, besok 30 menit, dan esok harinya lagi 15 menit.

Hal yang sama juga untuk turis yang datang ke Indonesia. Akan tetapi menghitungnya harus long term, tidak bisa cepat. Jadi, misalkan kita memproyeksikan dari tahun 2016 ke tahun 2019, keuntungannya baru akan naik sekitar satu juta turis. Semua itu dapat tercapai kalau seluruh pelaku MICE kompak dengan filosofi Indonesia incorporated.

Apakah asosiasi sudah dirangkul?

Yang jalan itu B2B, pemerintah tidak bisa jalan. Oleh karena itu, tugas pemerintah hanya memfasilitasi, yang menjalankan adalah asosiasinya.

Asperapi yang bergerak di bidang pameran berada di bawah Kementerian Perdagangan. Bagaimana koordinasi dan kolaborasi antara pariwisata dengan perdagangan?

Trade Tourism Investment (TTI) memang harus dijadikan satu. Akan sulit membagi-bagi mana yang trade, tourism, atau investment. Sekali lagi, harus Indonesia cooperated. Jadi, kalau ada event trade, tourism dan investment akan diikutsertakan. Negara lain punya hal yang sama. Malaysia dan Thailand punya. Namun, di sana mungkin mulai lebih awal dan filosofinya benar, Malaysia cooperated dan Thailand cooperated.

Langkah strategis apa yang akan dilakukan untuk mengembangkan MICE?

Langkah strategis yang paling efektif untuk lima tahun ke depan adalah pricing. Pertama itu harganya, cost leadership, ambil yang natural. Jadi, tidak memerlukan uang. Misalkan untuk sewa ruang ada diskon, kita tidak rugi, hanya tidak ambil untung untuk tahun-tahun pertama. Kalau untuk strategi obyektif itu setahun. Strategi selanjutnya tiga tahun.

Mengenai keberadaan INACEB, perlukah dibuatkan payung hukumnya?

Tidak usah. Regulasi ini harus terkait dengan pasar. Jadi, para pelaku MICE ini harus punya improvement dari pemerintah. Misalkan nanti peresmian ICE Kompas dijadikan sebuah momentum bagi para pelaku MICE untuk lebih mempromosikan MICE Indonesia.

Kalau pemain sudah senang, mereka tidak akan mengeluh. Sabtu dan Minggu fully booked hampir 100 persen, harganya Rp1 juta, atau dijual Rp800.000 atau Rp600.000. Pada weekdays okupansinya 80 persen, kalau dijual Rp500.000 rugi atau tidak? Tentu saja tidak. Dari yang tadinya orang tidak berkegiatan MICE di sana, akan menggelar acara di sana.

Telekomunikasi itu dulunya sekunder, bahkan tersier, yang punya hanya orang kaya. Namun, ketika biayanya dibuat sangat atraktif-dahulu biaya untuk satu menit itu Rp1.000, akhirnya dibuat menjadi Rp100-telekomunikasi pun menjadi kebutuhan primer dan penyelenggaranya untung. Dengan itu, Telkomsel bisa untung sampai Rp5 triliun atau mencapai 30 persen.

Pariwisata itu sekarang masih kebutuhan sekunder, apalagi MICE. Kalau bisnis itu berawal dan berakhir dari costumer. Dengan demikian, ada dua cara: tingkatkan pendapatan per kapita, atau turunkan harga. Urusan meningkatkan pendapatan per kapita itu bukan urusan kita, itu urusan Pak Jokowi. Nah, kita diberikan pasar seperti ini, dengan pendapatan per kapita 4.500. Jadi, kalau bisnis mau dipaksa juga tetap saja tidak bisa, tetap saja pendapatan per kapita kita seperti itu, APBN kita seperti itu. Oleh karena itulah bisnis harus dibuat sangat murah, agar affordability dan menjadi kebutuhan primer karena terjangkau.

Hal yang sama berlaku untuk MICE, buat affordability, sehingga pilihannya pasti Indonesia. Itu karena di sini lengkap, ada laut, gunung, juga fasilitas hall yang luas. Apalagi kalau dijual dengan harga Rp1 juta, wisatawan pasti datang ke Indonesia. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh Singapura dan Malaysia. Jadi, filosofinya tetap Indonesia incorporated.