Baltic, Perintis Wisata Golf Indonesia

Thursday, 09 November 17   6 Views   0 Comments   Harry Purnama
Baltic, wisata golf

Satu juta wisatawan golf yang singgah ke Asia setiap tahunnya menjadi pasar raksasa bagi Bali Fantastic Holiday (Baltic). Maka, bukan hal aneh bila operator wisata golf yang berdiri sejak tahun 2003 ini mampu menggaet 300-600 pegolf setiap bulannya.

Pada 2015, the R&A, otoritas industri golf Amerika Serikat dan Meksiko, memublikasikan hasil penelitian terbarunya terkait industri golf dunia. Penelitian yang dijalankan selama lima tahun tersebut menemukan, ada 34.011 lapangan golf tersebar di 206 negara. Sekitar 79 persen dari lapangan golf itu berlokasi di Australia, Kanada, Inggris, Jepang, hingga Amerika Serikat.

Selama dua tahun ke depan, the R&A juga memproyeksikan ada penambahan 696 lapangan golf baru di seluruh dunia. Di Asia, pertumbuhan industri golf juga tidak kalah meriah. Setidaknya hingga tahun 2015 the R&A mencatat Asia memiliki 4.778 lapangan golf yang tersebar di 53 negara. Sekitar 163 di antaranya berada di Indonesia.

Ketersediaan lapangan golf, menurut Wahyu Afandi Harun, Sekjen Asosiasi Pemilik Lapangan Golf Indonesia (APLGI), ditopang oleh pasar yang menggiurkan. Tahun lalu, diprediksi ada lebih dari satu juta wisatawan mancanegara yang datang ke Asia untuk bermain golf. Hal ini, menurut Vinsensius Jemadu, Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Pasifik Kementerian Pariwisata, merupakan peluang emas bagi Indonesia.

“Negara ini memiliki lapangan golf yang menawarkan lanskap menarik. Harganya pun sangat ekonomis,” ujarnya.

George Chandra, CEO Royale Jakarta Golf Club, mengatakan, seorang pegolf asing rela merogoh kocek US$5.000 hingga US$6.000 dalam setiap kunjungannya ke Indonesia. Pengeluaran itu enam kali lebih besar dibandingkan spending wisman pada umumnya. Potensi raksasa wisata golf inilah yang diakui Boromeus Gosal menjadi alasan dirinya mendirikan Bali Fantastic Holiday (Baltic) pada tahun 2003.

Pada awal pendiriannya, Baltic menawarkan dua pasar utama: golf dan scuba diving. Namun, dalam perjalanannya Gosal memilih untuk fokus mengembangkan golf karena pasar dan spending industri ini sangat menggiurkan. “Kalau ditanya kenapa memilih golf, ada tiga alasan. Pertama, perbandingan pemain golf dan scuba diving itu sepuluh banding satu. Kedua, kompetitor di bisnis ini belum banyak. Ketiga, potensi yang tergarap baru lima persen,” katanya.

Wisata golf

Wisata golf, menurut dia, juga imun terhadap pelemahan ekonomi karena karakteristik wisatawan golf yang terbilang unik. Gosal menjelaskan, wisatawan golf biasanya bermain untuk mengisi waktu luang yang biasanya berujung pada peluang bisnis. “Pegolf biasanya menginginkan kualitas terbaik. Mereka tidak mempermasalahkan berapa besar uang yang dikeluarkan. Oleh karena itu, tidak perlu heran bila spending mereka besar. Ini peluang besar bagi pariwisata nasional,” imbuhnya.

Saat ini, imbuhnya, dalam satu bulan Baltic menangani 300-600 pegolf asing yang sebagian besar berasal dari Tiongkok, India, Malaysia, Singapura, dan Australia. Kepada para pegolf asing ini, Baltic menawarkan paket mulai dari US$2.000 per orang atau setara dengan Rp27,86 juta (US$1=Rp13.930) untuk empat hari tiga malam. Paket itu, imbuhnya, mencakup transportasi, makan, bermain golf, dan entertainment.

Gosal berharap, pasar wisata golf yang begitu potensial ini dapat memicu pertumbuhan operator wisata golf di dalam negeri. “Semakin banyak pemain di industri ini, semakin besar pula potensi pariwisata golf nasional dikenal di luar negeri,” tuturnya.

Mempromosikan Wisata Golf Indonesia

Meski di atas kertas bisnis wisata golf menggiurkan, Gosal mengakui, ada dua hambatan yang kerap mewarnai pengembangan industri ini. Pertama, sinergi antara pelaku industri golf dengan pemerintah (Kementerian Pariwisata). Kedua, faktor global, seperti isu keamanan dan stabilitas politik.

“Industri ini sangat rentan dengan isu keamanan. Pada masa lalu, Indonesia kerap diterpa permasalahan terorisme. Ini menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka (pegolf asing). Diperlukan usaha ekstra untuk dapat memperkenalkan Indonesia sebagai destinasi wisata golf,” katanya.

Gosal menambahkan, untuk dapat melambungkan nama Indonesia sebagai destinasi wisata golf, Baltic kerap mengikuti berbagai turnamen golf internasional di seluruh dunia. Menjalin komunikasi dan terlibat dalam asosiasi golf dan perkumpulan agen perjalanan dunia juga menjadi jurus jitu Baltic mempromosikan wisata golf nasional.

“Kami juga menggelar turnamen golf amatir berskala nasional untuk melahirkan pegolf baru dari dalam negeri,” tuturnya.