Budi Karya Sumadi, Direktur Utama Angkasa Pura II: Pelayanan Smile Airport

Tuesday, 23 June 15   0 Views   0 Comments   Venue

Budi Karya Sumadi dinilai sukses mengembangkan PT Pembangunan Jaya Ancol dan membangkitkan tidur panjang PT Jakarta Propertindo (Jakpro). Bersama Jakpro, sosoknya dinilai sukses melakukan efisiensi dengan memangkas enam anak usaha dan menyisakan tiga perusahaan. Sejumlah terobosan dilakukannya, salah satunya menjalankan program normalisasi dan revitalisasi kawasan Waduk Pluit untuk meminimalisasi banjir Jakarta.

Pada 15 Januari 2015, Rini Soemarno, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mengangkat Budi untuk membenahi wajah bandara nasional di bawah Angkasa Pura II (AP II). Tanggung jawab itu bukan perkara mudah, mengingat sejumlah bandara di bawah pengelolaan Angkasa Pura II dalam kondisi tidak memadai dan over capacity. Sebut saja Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang sejak tahun 2012 harus melayani 57,7 juta penumpang dari kapasitas ideal 22 juta penumpang.

“Tidak penting membahas siapa pihak yang paling bertanggung jawab atas carut-marut pengelolaan bandara. Bagi saya, saat ini fokus mengubah mental karyawan dan memberikan pelayanan terbaik kepada penumpang,” kata Budi. 

Lalu, siasat apa yang akan dijalankan Budi Karya untuk mengakselerasi gerak AP II dalam mengubah wajah 13 bandara di wilayah barat Indonesia? Untuk mengetahuinya, wartawan VENUE, Bayu Hari Himawan, Pasha Ernowo, serta fotografer Catur Ekono mewawancarai lelaki kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, tersebut di Cengkareng, Banten.

Semangat apa yang Anda bawa untuk membenahi Soekarno-Hatta?

Kalau berbicara pengelolaan bandara, kita tentu mengarah pada layanan. AP II memiliki filosofi sederhana dalam melayani, yaitu menjadikan 13 bandara yang kami kelola sebagai smile airport. Senyum menjadi ekspresi bagi pelanggan yang merasa aman dan nyaman saat menggunakan fasilitas kami. Bandara harus mampu memberikan pengalaman baru bagi penumpang, inilah kenapa diperlukan inovasi, konten budaya, dan kearifan lokal.

Apa strateginya?

Secara sederhana saya membaginya dalam tiga strategi, yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang. Untuk jangka pendek, kami akan fokus memperbaiki empat hal. Pertama, membenahi ground handling dari pesawat ke bandara, termasuk memastikan penyediaan bus tepat waktu. Untuk ini, kami tidak akan mungkin berjalan sendiri tanpa campur tangan maskapai penerbangan. Kedua, mengamankan keberadaan taksi gelap. Kami akan mendata taksi yang masuk: harus menggunakan plat kuning, pengemudi mengenakan seragam, dan ada standar tarif. Jadi, tidak ada lagi pengelolaan taksi secara serampangan.

Ketiga, mengganti sejumlah conveyor belt yang rusak dan mempercepat bongkar muat bagasi. Kalau kami mengacu pada regulasi, batas bawah bongkar muat bagasi adalah 45 menit. Namun, menurut saya, 30 menit saja sudah membuat penumpang marah. Idealnya bagasi sudah harus keluar minimal 20 menit setelah pesawat landing. Keempat, mengeluarkan surat edaran mengenai pelarangan bagi karyawan AP II yang berbisnis di bandara. Ini sederhana tetapi kalau tidak dibenahi akan sangat mengganggu. Mudah-mudahan dalam tiga bulan mendatang masalah-masalah ini dapat diselesaikan.

Bagaimana dengan strategi jangka menengah?

Nah, untuk jangka menengah strategi kami akan lebih advance, yaitu mengembangkan dan merenovasi Terminal 3 yang nanti akan berkapasitas 25 juta penumpang per tahun. Pasalnya, kondisi Soekarno-Hatta saat ini sudah kelebihan muatan, dari idealnya 20-25 juta menjadi 65 juta per tahun. Jadi, meskipun direnovasi, masih belum maksimal juga.

Kondisi ini sebenarnya ditopang oleh karakteristik penumpang dalam negeri yang cukup unik. Apabila di Bandara Changi, Singapura, traveler biasanya bepergian sepanjang hari, Soekarno-Hatta hanya akan dipenuhi penumpang pada pagi dan malam hari. Pagi hari banyak traveler berangkat one day trip atau pergi pagi-pulang keesokan malamnya. Inilah yang membuat terminal keberangkatan selalu dipenuhi penumpang di pagi dan malam hari.  

Bagaimana kelanjutan pengembangan Terminal 3?

Dengan investasi mencapai Rp4 triliun, kami menargetkan Terminal 3 mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2016 dengan progres mencapai 70 persen. Kalau terminal ini rampung dan beroperasi penuh, akan sangat membantu dalam mengurangi tekanan traffic. Sebagai alternatif transportasi menuju Terminal 3, kami akan membuka jalur kereta api yang melayani rute dari Manggarai, Dukuh Atas, Duri, dan Bandara Soekarno-Hatta. Pembangunan jalur kereta api yang menghabiskan waktu setahun ini diperkirakan mampu menampung 30 persen dari jumlah keseluruhan penumpang bandara.

Lalu, bagaimana dengan strategi jangka panjang?

Untuk jangka panjang, kami akan fokus mengembangkan Terminal 1 yang rencananya akan memiliki empat jalur kendaraan yang diperlebar. Jalur 1 dan 2 diperuntukkan bagi taksi, sedangkan 3 dan 4 khusus bus. Selain memperlebar jalur transportasi umum, kami juga akan melakukan penataan parkir, memperbaiki check-in point, menyediakan area untuk beristirahat, akses Internet nirkabel, lounge, dan taman.

Apa solusi untuk masalah delay?

Masalah delay memang klasik dan dapat terjadi di mana saja karena menyangkut teknologi dan hardware. Kalau teknologi, kami akan melakukan simulasi jarak antrean antara satu pesawat dengan pesawat lainnya. Sementara untuk hardware, kami akan memperbaiki kapasitas bandara karena saat ini cross taxiway hanya ada di sisi barat. Tahun ini, kami akan membangun cross taxiway baru di sisi timur sehingga bongkar muat kargo lebih teratur. Selain kedua hal yang telah saya sebutkan tadi, penambahan landasan pacu juga dapat mengurangi antrean pesawat dan meningkatkan jumlah penumpang.

Bagaimana kesiapan AP II dalam menyokong target 20 juta wisman?

AP II memiliki empat hingga lima gate besar yang merupakan gerbang masuk wisatawan mancanegara, di antaranya Jakarta, Medan, Padang, Palembang, dan Pekanbaru. Kalau semua bandara ini siap, tentu akan memudahkan perusahaan penerbangan masuk ke destinasi-destinasi wisata domestik. Selain Soekarno-Hatta, kami juga tengah menggarap pengembangan hotel di Bandara Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, dengan investasi Rp50 miliar. Hotel ini nantinya akan memiliki meeting room berkapasitas 50-100 orang dan ditargetkan rampung pada awal tahun 2016. Bandara lainnya seperti di Pontianak, Jambi, dan Bandung juga akan direnovasi secara bertahap dan terus kami evaluasi.