Farriek Tawfik: “Cruise Mahal itu Image Kuno”

Wednesday, 17 February 16   0 Views   0 Comments   Venue

Minat turis untuk menghabiskan waktu libur musim dingin dengan berkapal pesiar di perairan tropis kawasan Asia Tenggara terus meningkat. Pertumbuhannya mencapai lebih dari 30 persen per tahun. Tak heran bila kemudian kawasan Asia Tenggara dijuluki “Karibia Baru”.

Kunjungan kapal pesiar ke Indonesia juga menunjukkan grafik positif. Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata, terdapat 300 kapal pesiar yang bertandang ke Indonesia pada 2013: naik sekitar 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari ratusan kapal pesiar yang bersandar itu, setidaknya 160.000 penumpang memanfaatkan waktu untuk pelesiran ke sejumlah destinasi di Nusantara.

Fenomena ini berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Farriek Tawfik. Sejak tahun 1994, ia memang telah memasarkan wisata kapal pesiar di Malaysia dan Singapura. Melalui bendera Suci Travel & Tours, Farriek menjadi “motor” penjualan Princess Cruises dan Cunard Line yang berada di bawah jaringan Carnival Corporation & plc: salah satu operator kapal pesiar terbesar di dunia yang bermarkas di Miami dan Southampton.

Prestasi Farriek yang cemerlang itu pun membuat Carnival terpincut. Ketika Carnival hendak melakukan ekspansi bisnis ke kawasan Asia Tenggara pada tahun 2013 lalu, Farriek dipercaya menjadi Direktur Princess Cruises & Cunard Line Asia Tenggara. Tugasnya tak sederhana. Dia ditarget untuk memperbesar pendapatan perusahaan dari US$2 miliar pada 2013 menjadi US$2,6 miliar di tahun 2014.

Untuk mencapai target itu, Indonesia menjadi salah satu pasar yang akan digarap oleh Farriek. Menurutnya, berpopulasi lebih dari 250 juta jiwa, jumlah kelas menengah yang terus meningkat, dan pertumbuhan perekonomian yang positif menjadikan Indonesia sebagai pasar yang potensial untuk wisata kapal pesiar. “Kalau kami memperoleh satu persen dari 40 juta kalangan menengah di Indonesia, itu sudah lebih dari cukup,” kata Farriek.

Untuk mengetahui masa depan bisnis kapal pesiar di kawasan Asia Tenggara, wartawan majalah VENUE menemui Farriek. Berikut petikan wawancaranya.

Farriek Tawfik

Kenapa memilih Indonesia?
Kalau berbicara pasar Asia, kami sudah memprediksi pertumbuhannya mencapai 30 persen per tahun. Pada tahun 2013, ada 160.000 penumpang kapal pesiar ke Indonesia. Memang semuanya bukan berasal dari Indonesia. Namun, melihat pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat, kami yakin dapat menjalin kerja sama yang menguntungkan.

Dari sisi bisnis, kawasan Asia Tenggara akan menjadi “Karibia Baru”. Berada di perairan tropis yang selalu hangat di sepanjang tahun dan memiliki puluhan ribu pulau, kawasan ini menjadi tujuan turis mancanegara pada saat musim dingin.

Berapa target pelancong dari Indonesia?
Untuk target spesifik, kami tidak dapat mengungkapnya. Namun, bila kami dapat memperoleh satu persen dari 40 juta kelas menengah di Indonesia, itu sudah lebih dari cukup.

Bagaimana tentang pasar MICE di kapal pesiar?
Cruise memiliki fasilitas selengkap hotel bintang lima, berarti itu termasuk ruang pertemuan dan hall. Tamu-tamu korporasi dapat menggunakan ruangan itu secara gratis, termasuk makanan dan minumannya.

Banyak perusahaan besar yang memiliki cabang di beberapa negara berkumpul di kapal ini. Mereka meeting dengan suasana nyaman sekaligus menikmati semua fasilitas yang ada. Sebagian lagi juga memanfaatkan pesiar sebagai bagian dari incentive travel. Selain itu, kami juga menyediakan tim untuk team building di dalam kapal. Pastinya, mengadakan meeting sambil berlayar di kapal pesiar akan menjadi pengalaman yang inspiratif sekaligus berbeda dan menyenangkan.

Bagaimana dengan infrastruktur pelabuhan yang disandari kapal pesiar di Indonesia?
Sebetulnya infrastruktur Indonesia tidak terlalu buruk. Seingat saya, sudah ada 10 pelabuhan yang dapat disandari. Tanjung Priok di Jakarta serta pelabuhan di Semarang dan Bali merupakan contohnya. Di beberapa tempat seperti Labuan Bajo Pulau Komodo, kita tidak dapat bersandar: bukan karena tidak ada dermaga, tetapi karena tidak ingin merusak terumbu karang di sana yang sangat indah. Jadi, kapal-kapal besar harus bersandar cukup jauh, dan hanya di tempat yang sudah ditentukan agar tidak merusak lingkungan.

Kesiapan di darat juga penting. Sekali mendarat, kami membawa ribuan penumpang. Antusias mereka pun sangat tinggi saat mendarat. Oleh karena itu, hal ini harus didukung dengan kesiapan jumlah transportasi dan pemandu wisata yang menguasai berbagai macam bahasa. Itulah yang ingin kami sampaikan ke pemerintah.

Jadi, kerja sama dengan pemerintah sudah terjalin?

Ya, tentu saja. Kami sudah bertemu. Pemerintah Republik Indonesia sangat mendukung. Mereka bertanya, “Jadi apa yang dapat kami berikan?” Hal ini karena cruise juga mendatangkan wisatawan bagi Indonesia, yang tentunya turut menggerakkan perekonomian di destinasi tersebut. Saya dengar Presiden Joko Widodo mencanangkan tol laut. Jadi, di masa mendatang kami tidak perlu khawatir dengan infrastruktur.

Kapal Pesiar selalu diidentikkan dengan perjalanan mewah dan mahal, bagaimana cara Anda meyakinkan pasar di Indonesia?
Cruise mahal itu image kuno. Memang benar jika dahulu ada kesan bahwa berlibur dengan kapal pesiar hanya untuk orang kaya, yang sudah tua. Hal ini karena dahulu kapal masih beragam, ada yang bagus, besar, dan kecil. Namun, sekarang semua sudah seragam. Semua kapal sudah berukuran besar. Semuanya juga sudah hadir dengan fasilitas maksimal. Persaingan yang ketat ini menjadikan harga berhasil ditekan. Jadi, sekarang kondisinya sudah lebih terjangkau.

Bayangkan, hanya dengan SIN$499, penumpang bisa makan sepuasnya dan menikmati semua fasilitas secara gratis selama tiga hari, sekaligus menikmati pelayaran dari Singapura ke Penang, Malaysia. Untuk mengedukasi hal itu, kami memang bekerja sama dengan biro-biro perjalanan dari Indonesia. Karena saat ini biro perjalanan juga sudah pintar, mereka dapat merangkai perjalanan cruise ini dengan perjalanan darat yang tidak kalah menarik.

Wisatawan Asia, khususnya Indonesia, memiliki kebiasaan booking secara dadakan. Bagaimana mengakomodasi hal itu?
Bukan hanya wisatawan Indonesia. Wisatawan Asia kebanyakan memang seperti itu. Kalau di Amerika, mereka biasa merencanakan berlibur setahun sebelumnya. Beberapa minggu setelah kami rilis promo, mereka langsung booking. Jadi, memang tidak mendadak. Kembali ke permasalahan, kewajiban booking 90 hari sebelumnya adalah karena kapal pesiar ini tidak hanya mengangkut puluhan atau ratusan, tetapi ribuan penumpang dari berbagai macam negara berikut barang-barang bawaan mereka. Untuk itu, kami harus mengetahui karakteristik mereka untuk menciptakan itinerary yang tepat.

Di dalam kapal pesiar, kami tidak hanya memberikan pelayanan yang sempurna sekelas hotel bintang lima, tetapi juga menyuguhkan kegiatan yang sempurna untuk semua penumpang. Misalnya, ada banyak penumpang anak-anak dalam pelayaran ini, maka akan kami pastikan kru kami memiliki kegiatan yang menyenangkan untuk anak-anak. Jadi, anak-anak tidak akan berisik atau berlari-lari di kapal. Orang tua pun dapat bersantap fine dining dengan tenang.

Pada jarak 90 hari itu banyak hal yang dapat terjadi, bagaimana kalau ada pembatalan?
Dengan itinerary tadi, kami menerapkan terms & condition yang ketat. Jadi, kami memang menganjurkan kepada calon penumpang untuk membeli travel insurance. Travel insurance ini nantinya yang akan mengganti bila calon penumpang sakit, ada kondisi gawat di negaranya, atau apa pun yang menyebabkan penumpang tidak bisa mengikuti perjalanan ini.

Ketika kapal mengunjungi banyak negara, bagaimana pembagian waktunya agar dapat menikmati destinasi di sana?
Untuk negara yang berdekatan, kami hanya berlayar malam hari. Jadi, keesokan harinya sudah tiba di negara lain. Ibarat menginap di hotel berjalan, penumpang tidak perlu berkemas, tinggal bangun dan membawa barang secukupnya, mereka sudah dapat bertualang di negara yang berbeda.

Penulis: Aria Wicaksana