Firdaus, Wali Kota Pekanbaru: “Kami Fokus Pada Wisata MICE”

Monday, 12 October 15   2 Views   0 Comments   Venue

Niat Firdaus menggarap sektor pariwisata guna mempertebal pendapatan kota yang dipimpinnya bukan sekadar latah. Pariwisata diyakininya dapat menjadi kekuatan ekonomi Pekanbaru pada masa mendatang. Produk yang ditawarkannya bukanlah pantai dan gunung yang menawan, melainkan wisata MICE. Posisi geografis yang strategis dan besarnya perputaran uang di Pekanbaru menjadi modal utamanya.

Untuk mewujudkan impiannya, serangkaian proyek infrastruktur dilakukan oleh mantan Kepala Dinas PU Pemprov Riau itu, mulai dari pengembangan sebuah kawasan kota pemerintahan yang baru, pembenahan jalan, perbaikan bandara, pembuatan moda transportasi massal yang nyaman, hingga pemanfaatan sampah guna mengatasi krisis listrik di Pekanbaru.  

Pria kelahiran 2 Mei 1960 di Muaro Uway, Kabupaten Kampar, itu pun menjanjikan pelbagai kemudahan bagi organizer, korporasi, asosiasi, dan instansi pemerintahan yang akan menyelenggarakan kegiatan di kotanya. Penawaran itu diharapkan dapat memacu okupansi sekitar 6.000 kamar hotel sekaligus menggoda investor untuk menanamkan uangnya di sektor pariwisata dan MICE.

Berikut petikan wawancara VENUE dengan Firdaus tentang ambisinya memasukkan Pekanbaru dalam peta destinasi MICE nasional.

Seberapa besar kontribusi pariwisata terhadap perekonomian Pekanbaru?

Nomor dua, setelah jasa dan perdagangan. Di Pekanbaru, pariwisata itu masuk dalam kategori industri.

Atas dasar apa hendak menjadikan Pekanbaru sebagai destinasi MICE? 

Riau itu salah satu dari empat provinsi penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Selain minyak dan gas, Riau memiliki kebun sawit terluas di Indonesia, juga karet. Namun, Pekanbaru tidak punya sumber daya alam. Kami tak punya minyak dan perkebunan. Modal yang kami miliki adalah letak geografis yang strategis, selain sebagai Ibu Kota Provinsi. Riau dekat dengan jalur perdagangan internasional. Kami menyadari, Pekanbaru tak memiliki budaya dan alam yang menarik, tapi kami menawarkan kemudahan kepada korporat atau birokrat di pemerintahan untuk menyelenggarakan kegiatan MICE di Pekanbaru.

Kemudahan apa yang ditawarkan?

Kami tawarkan kemudahan untuk mengurus perizinan dan insentif pajak. Kami juga memfasilitasi acara gala dinner di rumah dinas wali kota.

Kegiatan MICE yang saat ini sering berlangsung di Pekanbaru?

Lebih banyak untuk kegiatan meeting. Beberapa waktu lalu ada rapat kerja ahli kandungan se-Indonesia, forum rektor se-Indonesia, dan beberapa rapat kerja berskala nasional lainnya. 

Untuk memfasilitasi gala dinner, berapa anggaran yang disiapkan per tahun?

Tidak ada biaya khusus. Itu dimasukkan dalam biaya makan rumah tangga. Ya, sampai sekarang, sih, anggaran kami masih cukup untuk melayani itu.

Bagaimana dengan fasilitas dan infrastruktur di Pekanbaru?

Untuk fasilitas pertemuan berskala besar ada Hotel Labersa dan Ska Convention Center. Untuk skala yang lebih kecil, hotel-hotel di Pekanbaru memiliki ruang pertemuan berskala sedang.

Dalam dua tahun ini terakhir, saya telah mengeluarkan izin untuk pembangunan sejumlah properti, seperti hotel-mal, hotel-convention, hotel-apartemen, dan beberapa properti lainnya. Totalnya ada 42 titik lokasi pembangunan dengan nilai investasi lebih dari Rp20 triliun. Sebagian properti sudah mulai dibangun. Dua tahun ke depan, wajah Pekanbaru akan berubah. Saat ini, kami juga sedang melakukan pengembangan di lima wilayah. Untuk membuka isolasi ke masing-masing wilayah itu, kami bangun infrastruktur, terutama untuk jaringan jalan, air, listrik, dan transportasi massal.Pembangunan infrastruktur di Pekanbaru  

Bagaimana dengan konektivitas dari dan ke Pekanbaru?

Saat ini kita sudah ada penerbangan langsung ke Johor Bahru, dan bandara Pekanbaru juga akan terus ditingkatkan. Saat ini kapasitasnya empat juta penumpang per tahun. Rencananya akan dikembangkan menjadi delapan juta per tahun.

Tentang pertumbuhan ekonomi Pekanbaru yang mencapai sembilan persen?

Pekanbaru memang tak punya sumber daya alam, tapi uang di Riau itu berkumpul di Pekanbaru. Di Riau itu ada 2,8 juta hektare kebun sawit. Dari total itu sekitar 60 persennya adalah sawit rakyat, dan 40 persennya dikelola perusahaan (BUMN dan swasta). Yang 40 persen ini tak begitu banyak memberikan kontribusi kepada PAD karena hasil yang mereka dapat uangnya ada di Singapura. Kemudian, untuk 60 persen sawit rakyat, uangnya disimpan di bawah bantal. Sekarang sudah agak maju: mereka mulai menyimpannya di bank, dan bank itu ada di Pekanbaru. Karena itu, perputaran uang di Pekanbaru besar.  

Mengenai pembangunan SDM?

Pembangunan sumber daya manusia merupakan visi dari kota Pekanbaru untuk menjadi kota metropolitan yang madani. Bicara soal pembangunan SDM, ini harus komprehensif. Kita berbicara mengenai pelayanan kesehatan masyarakat karena di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Dan itu kita mulai dari dalam rahim, bagaimana kita memberikan pemahaman kepada ibu-ibu hamil agar tetap sehat. Kemudian kami akan melakukan berbagai pelatihan dan membangun pusat pendidikan.

Harus dipahami MICE ini tak dapat dipisahkan dari masyarakat. Kami tak bisa membangun kota hanya dari fisiknya. Harus ada keseimbangan antara pembangunan fisik kota dengan masyarakatnya sehingga ada jiwa kota, karena kota itu juga seperti makhluk hidup, dia terus tumbuh. Kalau masyarakat tak bisa menunjang program itu, akan sulit untuk mewujudkannya. (Baca Juga: Arief Yahya, “Indonesia Harus Incorporated”)