Meniti Puncak dari Titik Nol

Friday, 10 February 17   62 Views   0 Comments   Venue

Dunia impresariat Indonesia menjadi salah satu yang paling dinamis di Asia Tenggara. Impresario muda terus bermunculan ketika pemain lama kehabisan napas. Marygops Studio merupakan salah satu yang berkibar dan dipimpin oleh anak muda.

Marygops awalnya digagas Shaane Harjani saat ia masih kuliah. Ia memiliki mimpi yang mungkin tidak dimiliki kawan sebayanya: mendatangkan artis internasional ke Indonesia. Bersama Neelam Vaswani dan Peter Harjani, sepupunya, ia merajut mimpi tersebut.

Event pertama kami adalah stand up comedy dengan mendatangkan Kumar, komedian asal Singapura,” ujar Shaane Harjani, Managing Director Marygops. Sebagai event perdana, acara ini tentunya merupakan tantangan bagi mereka. Namun, acara ini terbilang sukses, sekitar 400-500 orang memenuhi Hotel Borobudur. Kepercayaan diri mereka pun terpupuk untuk melangkah setahap lagi.

Jalan sukses kian membentang saat mereka bertemu dengan agensi yang membawa artis sekelas Justin Bieber, yang saat itu popularitasnya sedang bersinar. Mendapat peluang mendatangkan artis kelas kakap membuat mereka bangga sekaligus berdebar. Mereka masih “nol besar” soal mengelola superstar.

“Oleh karena belum mengerti apa-apa, kami mengajak promotor lain. Kami bertindak sebagai co-promotor yang membawa Justin Bieber. Jadi kami sambil belajar mengenai berbagai hal, seperti perizinan, rider, produksi, hingga penjualan tiket,” kata Shaane.

Konser Justin Bieber di Sentul International Convention Center pada 23 April 2011 berlangsung meriah. Ribuan fans Justin Bieber berteriak histeris mengelu-elukan kehadiran penyanyi belia itu ke Indonesia. Menurut pengakuan Shaane, konser itu sukses dan tiket terjual habis. Namun, dapur orang siapa yang tahu, ia menyebut konser Justin Bieber berantakan. Konser ini tidak begitu populer di kalangan wartawan lantaran mereka dilarang masuk. 

“Sukses” dengan Justin Bieber, Marygops lalu mendatangkan kembali artis papan atas dunia, semisal Bruno Mars, Scandal, hingga Festival Monkey Lada. Musisi dari semua genre musik mereka datangkan. Syaratnya, popularitas musisi tersebut sedang bagus dan menguntungkan secara hitung-hitungan bisnis.

“Kami tidak pernah melihat tarif artis. Angka tertinggi yang pernah kami keluarkan adalah US$1 juta untuk mendatangkan satu artis,” papar Shaane. Hebatnya, perhitungan mereka jarang meleset. Kuncinya adalah riset dan intuisi bisnis.

Untuk mengukur popularitas artis, mereka memerhatikan media sosial dan mengontak langsung label tempat artis bernaung. Selanjutnya, mereka melihat seberapa besar basis massa atau fans sang artis. Penghargaan bagi artis juga mereka perhitungkan. Terakhir, namun tidak kalah penting, adalah feeling. “Meskipun telah lima tahun berjalan, masih terdapat beberapa kesalahan yang kami buat dalam memprediksi ramai atau tidaknya sebuah pertunjukan. Itulah pentingnya feeling,” lanjutnya.

Tahun 2015 terbilang merupakan lompatan besar dalam bisnis mereka. Marygops ingin memiliki nilai lebih dari konser yang mereka gelar, bukan sekadar mengundang artis dan menghibur penonton. Mereka menghendaki konser yang memiliki konsep, mulai dari tata panggung hingga membentuk basis komunitas yang fanatik. Branding dan idenya merupakan hasil pemikiran Marygops.

Soal frekuensi konser, Marygops menargetkan tujuh hingga delapan perhelatan dalam setahun. Namun, target itu tidak selalu terpenuhi, misalnya pada tahun 2013, mereka hanya sanggup menggelar empat konser. Lain halnya dengan yang terjadi pada 2015, 10 konser berhasil mereka selenggarakan.

“Banyak yang mengatakan bisnis ini sangat seru karena dapat menonton konser langsung. Padahal tingkat risikonya sangat tinggi,” kata Shaane.

Ini adalah bisnis yang penuh tekanan. Ia mencontohkan konser Swedish House Mafia (SHM)-One Last Tour sebagai konser yang membuat dirinya dan tim mengalami stres. Saat itu, terjadi banjir besar di Jakarta, manajemen SHM juga menolak untuk memundurkan jadwal. Walhasil, jumlah penonton yang datang tidak mencapai target.

Momok lain adalah fluktuasi nilai dolar terhadap rupiah. Sebagai promotor yang menargetkan artis mancanegara, semua transaksi mereka dipatok dalam dolar. “Persoalan saat ini adalah dolar begitu melambung tinggi dibandingkan sebelumnya,” keluh Shaane. Apalagi mereka juga tidak dapat mematok harga yang terlampau tinggi pada penjualan tiket.

Satu masalah lagi, pajak tiket yang dikutip pemerintah juga tinggi. “Pajak hiburan mencapai 15 persen, bahkan untuk musik elektronik hingga 25 persen. Itu menjadi kendala kami,” sambungnya. “Bahkan, bila konser di daerah, pemerintah daerah mengutip pajak hingga 35 persen”.

Melirik Artis Lokal dan Memiliki Venue

Dengan reputasi telah mendatangkan 24 artis internasional dalam lima tahun, tidak menutup kemungkinan Marygops menggarap segmen lokal. Apa boleh buat, bila dolar terus meroket, itulah strategi mereka menyiasati krisis ekonomi dunia. Selain itu, Marygops juga ingin bermain pada event hiburan untuk anak-anak dan olahraga.

Rencana besar lainnya adalah membangun sebuah hall konser yang sanggup menampung 2.000 orang. “Saat ini, (hall) masih dalam tahap riset. Hal ini untuk mengakomodasi keinginan beberapa artis yang belum memiliki massa yang banyak,” ujar Shaane.

Tentu saja hall tersebut juga dapat digunakan oleh promotor lain. Dengan demikian, Marygops selangkah lagi menjadi promotor sekaligus pemilik hall, yang memungkinkan mereka bertahan dalam persaingan bisnis impresariat.

Penulis: Mikhail Teguh Pribadi