Paul Griffiths, Raja Dua Bandara Raksasa Dubai

Friday, 10 November 17   8 Views   0 Comments   Harry Purnama
Paul griffiths

Dianugerahi Chief Executive of the Year oleh CAPA Aviation Awards for Excellence pada 2015, Paul Griffiths, CEO Dubai Airports Company, mengaku akan berkarya lebih agresif. Karier selama 38 tahun di industri pariwisata dan penerbangan dimulai Griffiths dengan menjadi Contracts Executive di Wings Travel Group. Pada 1991, dia bergabung dengan Virgin Atlantic sebagai Direktur Eksekutif Komersial yang bertahan selama 13 tahun.

Pada tahun 2004, dia memilih bergabung dengan British Airport Authority (BAA) dan berujung pada penunjukannya sebagai Managing Director Gatwick Airport setahun kemudian. Pada Oktober 2007, dia bergabung dengan Dubai Airports yang menjadi puncak kariernya. Setahun pasca-menjabat, Griffiths meresmikan Terminal 3 Bandara Internasional Dubai (DXB), dilanjutkan pengoperasian Al-Maktoum International Airport pada 27 Juni 2010.

Di bawah komandonya, pada pertengahan 2010 Dubai Airport Company memulai proyek pengembangan Al-Maktoum International Airport senilai US$32 miliar atau setara dengan Rp444,8 triliun (US$1=Rp13.900). Megaproyek yang digadang-gadang menjadi bandara terbesar dan terbaik di dunia itu merupakan langkah antisipasi Dubai menghadapi World Expo pada 2020. Apabila rampung, empat tahun mendatang bandara ini akan memiliki 28 gerbang, 42 jembatan bongkar muat, 221 loket check-in seluas 120.770 meter persegi, area duty-free, dan hotel mewah berbintang lima.

Kesuksesan pencinta otomotif ini menakhodai Dubai Airports selama delapan terakhir tidak lepas dari gaya kepemimpinannya yang unik. Pemimpin, kata dia, harus visioner dan memiliki kekuatan dalam mencapai sebuah target.

“Tapi ingat, Anda tidak bisa bekerja sendiri. Itu kenapa saya memilih orang-orang dengan kompetensi, motivasi, dan kemampuan terbaik. Sebagai pemimpin, Anda harus bisa menciptakan suasana kerja menyenangkan sehingga mereka tak sungkan memberikan hasil terbaik,” katanya.

Lalu, bagaimana Paul Griffiths menakhodai dua bandara raksasa ini untuk menjadi hub utama di kawasan Timur Tengah? Seperti apa dia memandang pertumbuhan industri penerbangan dan bisnis pengelolaan bandara global di masa depan? Inilah detail wawancara wartawan VENUE dengan Paul Griffiths, CEO Dubai Airports Company.

Bagaimana Anda melihat perlambatan ekonomi dan fluktuasi harga minyak mentah selama 2015? Besarkah pengaruhnya pada bisnis penerbangan?

Saya rasa tidak berpengaruh besar. Penurunan harga minyak mentah sepertinya tidak banyak menggerakkan bisnis penerbangan komersial. Pada dasarnya, orang-orang datang ke Dubai dengan tiga alasan. Pertama, kawasan ini strategis sebagai hub antarbenua. Kedua, banyak peluang bisnis yang disediakannya. Ketiga, Dubai adalah kota di Timur Tengah yang mana sepertiga populasi dunia berdiam di dalamnya. Saya melihat, 20 tahun ke depan industri penerbangan akan terus bertumbuh. Ada 1,5 miliar penduduk Asia yang diproyeksikan akan bepergian ke luar negeri akibat pertumbuhan pendapatan masyarakat kelas menengah. Ini peluang bagi kami sebagai operator bandara untuk memberikan layanan berkualitas.

Setelah DXB menjadi bandara tersibuk di dunia dalam dua tahun terakhir, sekarang ambisi Anda tampaknya beralih ke Al-Maktoum. Bagaimana perkembangannya saat ini?

Ya, industri ini memang terobsesi dengan terminal (bandara) raksasa. Tujuannya tentu untuk mengejar kapasitas. Pasalnya, pasar terus bertumbuh dan semakin banyak penduduk dunia yang bepergian. Tahun 2013 misalnya, DXB sudah melayani 66,4 juta penumpang. Capaian itu membuat Airport Council International (ACI) menempatkan kami sebagai bandara tersibuk di dunia, di bawah Heathrow Airport. Pada Desember 2014, kami berhasil mengungguli Heathrow Airport dengan 69,95 juta penumpang. Padahal, kala itu (Mei-Juli 2014), kami harus menutup dua landasan pacu di sisi selatan dan utara untuk perluasan. Praktis, kami hanya bergantung pada satu landasan pacu.

November 2015, DXB membukukan 6,01 juta penumpang. Lebih baik dibandingkan periode serupa tahun 2014 yang hanya 5,57 juta penumpang. Dengan begitu, sepanjang Januari-November 2015 DXB melayani 70,96 juta penumpang, lebih tinggi dibandingkan Heathrow Airport yang hanya 69,76 penumpang. Setiap tahun, bandara ini mencatatkan pertumbuhan penumpang hingga 15,5 persen, yang artinya akan ada 100 juta penumpang pada tahun 2020.

Sukses merebut mahkota sebagai bandara tersibuk dari Heathrow, bagaimana Anda menanggapi capaian DXB?

(Capaian) itu hanyalah ukuran volume. Saya lebih suka kalau DXB dinilai berdasarkan kualitas. Seperti saya katakan sebelumnya, kami memfasilitasi pertumbuhan pasar. Namun, di saat bersamaan kami juga harus bisa memberikan pengalaman berkualitas kepada penumpang. Jangan lupa, pada 20 Oktober 2020 hingga 10 April 2021 Dubai menjadi tuan rumah World Expo yang diprediksi mendatangkan 25 juta pengunjung. Artinya, kami harus bersiap menerima lonjakan pengunjung empat tahun mendatang. Ini alasan kenapa diperlukan ekspansi besar-besaran.

Bagaimana perkembangan ekspansi Al-Maktoum Airport?

Masih berjalan. Target rampung masih sama pada 2020. Al-Maktoum Airport ini merupakan bagian dari proyek konstruksi yang menggabungkan logistik, penerbangan, komersial, ekshibisi, dan hunian di satu area. Kapasitas Al-Maktoum Airport dirancang untuk bisa menampung 220 juta penumpang per tahun. Besar memang, ekuivalen 12 bandara berukuran medium berkapasitas 20 juta penumpang per tahun. Permasalahannya, bandara berkapasitas raksasa tak selalu ramah pada pengguna. Biasanya, penumpang malah dipaksa berjalan jauh. Itu kenapa kami benamkan teknologi smart design pada DXB untuk menjamin efisiensi waktu layanan dan kenyamanan penumpang. Tidak ada lagi perjalanan jauh untuk check-in karena fasilitas loket hanya berjarak 400 meter. Inilah wajah Dubai di masa depan.

Bagaimana sinergi DXB dan Al-Maktoum Airport nantinya?

Banyak kota yang memiliki lebih dari dua bandara, dan mereka sukses mengembangkan masing-masing fasilitas itu, sebut saja Tokyo, London, Sao Paulo, dan New York. Ke depannya saya berharap DXB dan Al-Maktoum Airport dapat saling melengkapi. Target kami, pada 2020 kedua bandara ini bisa melayani 126,4 juta penumpang. Dengan dibukanya Concourse D tahun ini, tidak ada lagi ruang bagi kami untuk membangun infrastruktur lanjutan. Sehingga, mengoptimalkan fasilitas yang sudah ada hingga DXB berkapasitas 100 juta penumpang adalah hal paling masuk akal. Target 26,4 juta penumpang sisanya akan disumbang oleh Al-Maktoum Airport.

Target itu tentu akan membuat semakin banyak pesawat keluar masuk dari dan menuju DXB dan Al-Maktoum Airport. Bagaimana Anda menyiasatinya?

Ya, itu tantangan bagi kami. Namun, fokus utama kami adalah bagaimana mengelola lalu-lintas udara agar lebih efektif dan efisien, tanpa mengesampingkan faktor keselamatan. Untuk itu memang diperlukan teknologi mumpuni untuk mengatur lalu-lintas dan pendaratan pesawat.

Ekspansi kapasitas dan pertumbuhan penumpang akan berdampak pada kenaikan jumlah mobil di area bandara yang berpotensi menimbulkan kemacetan. Apa strategi Anda?

Saya sempat bertemu Otoritas Transportasi dan Jalan (RTA) Dubai. Mereka berjanji akan meningkatkan sirkulasi pada sistem jalan dan menyediakan akses yang lebih baik menuju bandara. Artinya, akan ada pembangunan jalan layang, pelebaran jalan, menghapus titik pinch, dan penyediaan rute alternatif. Semua proyek itu ditargetkan rampung dalam waktu dua tahun (2018).

Anda sempat lantang menentang pengenaan pajak pada industri penerbangan, termasuk operator bandara. Sejauh mana Anda melihat peran industri ini terhadang pertumbuhan ekonomi sebuah kawasan?

Alasan saya karena akan sangat berlawanan dengan peran industri ini sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Saya beri studi kasus di Dubai. Kota ini mengatur peran industri penerbangan terhadap anggaran kota dengan sangat baik. Dubai memiliki birokrasi yang sangat ramping. Keuntungannya, tidak banyak bagian yang harus diberi “makan”. Perlu diingat, gerak pemerintah bersumber dari anggaran publik sehingga pemanfaatannya harus efisien dan efektif.

Di Dubai, pemerintah memiliki akses langsung pada bisnis komersial sehingga setiap deviden yang dibayarkan industri kepada pemerintah dapat langsung digunakan untuk mendanai proyek-proyek yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Kontribusi industri penerbangan terhadap produk domestik bruto (PDB) Dubai itu mencapai 27 persen. Kalau memang kontribusinya bagus seperti ini, kenapa Anda harus membebaninya dengan pajak? Pemerintahan harusnya dijalankan dengan efisien dan efektif. Biarkan bisnis terus jalan dan pemerintah dapat menuai hasilnya tanpa harus terjegal inefisiensi birokrasi.

Apa kunci sukses Anda menjadi CEO?

Tidak ada resep khusus. Saya hanya berusaha menjalani hidup seimbang. Karier, keluarga, dan hobi. Passion terbesar saya sebenarnya adalah musik. Saya menjadi pemain organ dan harpsikord (piano kuno) di gereja sejak usia 10 tahun. Masa muda saya dihabiskan dengan mengikuti berbagai kompetisi organ dan cita-cita saya adalah menjadi direktur musik. Namun, hal itu berubah di usia 20-an, ketika saya melihat kehidupan sebagai musisi memerlukan komitmen yang sangat besar. Apalagi, kala itu kehidupan sebagai musisi masih dipandang sebelah mata. Suatu hari, ayah saya bilang “Paul, musik tidak akan bisa membayar tagihan listrikmu, tidak peduli sebagus apa pun kamu memainkan Bach.”

Itu alasan Anda banting setir ke bidang lain? Tapi kenapa harus sektor transportasi?

Ketertarikan saya pada industri ini sebenarnya dimulai pada usia 16 tahun. Saat itu, saya dan teman-teman mengendarai moped (sepeda motor berpedal- bermesin 50 cc. Saya ingat betul, betapa kami merasa bebas namun tetap harus memiliki kendali penuh atas tunggangan kami. Bisnis penerbangan juga begitu. Anda mengendalikan perpindahan manusia dari satu tempat ke lainnya dalam skala besar. Industri ini juga solusi bagi sebuah kawasan lepas dari kemiskinan karena ia mampu menggerakkan ekonomi lokal.

Anda masih bermain organ?

Masih. Saya aktif bermain di Guildford Cathedral. Untungnya, saya menikahi perempuan yang memiliki kecintaan serupa di bidang musik. Ini membuat kami berkesempatan untuk bekerja sama dalam sejumlah resital di St. Paul’s Cathedral, Westminster Abbey, hingga St. John’s Smith Square. Jujur, melihat kerumunan penonton saat resital sama stresnya dengan menjalankan bandara, hahaha.