Pradnyawati Pambagyo, Berpromosi dengan Bujet Terbatas

Wednesday, 15 July 15   10 Views   0 Comments   Venue

Pradnyawati Pambagyo, Direktur Pengembangan Promosi dan Citra, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, merupakan “mesin” promosi di Kementerian Perdagangan sehingga membuat Pradnyawati Pambagyo banyak berurusan dengan beragam pameran di dalam dan luar negeri. Dengan anggaran yang terbatas, mantan Direktur Kerja Sama Bilateral Direktorat Perdagangan Internasional ini berjibaku menyukseskan partisipasi Indonesia di World Expo 2015 dan penyelenggaraan Trade Expo Indonesia. Kepada VENUE, perempuan yang akrab dipanggil Pradnya ini memaparkan strategi kerja samanya dengan pihak-pihak swasta untuk membantu promosi kementerian pada tahun 2015 dan pencapaian direktoratnya selama ia menjabat dalam tiga tahun terakhir.

Bulan Mei 2015 Indonesia kembali berpartisipasi di ajang World Expo di Milan, Italia. Apa yang unik dalam partisipasi kali ini?

World Expo merupakan acara lima tahun sekali yang menampilkan paviliun negara dan perusahaan-perusahaan besar dari seluruh dunia. Tujuannya untuk branding negara sebagai tujuan bisnis, investasi, dan pariwisata. Mengingat pentingnya acara ini, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel akan datang membukanya.

Selama enam bulan penyelenggaraan, Kementerian Perdagangan secara spesifik akan melakukan misi dagang kopi pada bulan September. Selama seminggu penuh kami akan memperkenalkan kopi Indonesia, dari Aceh hingga Papua, karena masih banyak yang belum tahu kalau kita surganya kopi. Ada sekitar 39 jenis kopi dari Indonesia, yang bahkan digunakan oleh Starbucks, seperti kopi jawa dan sumatra. Lucunya, kita yang di Jawa dan Sumatera tidak tahu kalau kopi kita sudah mendunia. Jadi, kami akan manfaatkan paviliun Indonesia yang ada di sana untuk memamerkan produk kita dan mengedukasi masyarakat di sana tentang kopi Indonesia. Selain itu, ada juga misi dari kementerian lain karena ada sekitar 16 kementerian yang akan ikut serta.

Satu lagi hal unik pada partisipasi kita kali ini, yakni area Oculus Show. Di area ini pengunjung dapat menikmati keindahan alam Indonesia secara virtual menggunakan kacamata 3D dengan teknologi tercanggih. Alat yang sudah dibeli oleh Facebook seharga US$2 miliar itu salah satu pembuatnya ternyata adalah orang Indonesia. Kami beruntung dapat menggunakan 20 buah Oculus Rift di paviliun Indonesia. Kami mengeluarkan biaya Rp20 miliar untuk mengolah konten video dan headset-nya.

Bila Rp20 miliar hanya untuk Oculus, berapa jumlah seluruh anggaran untuk pameran ini?

Jumlah keseluruhannya Rp40 miliar lebih. Kami mendapatkannya dari penggalangan dana pihak swasta. Ini karena pameran tahun ini berbeda dari lima tahun lalu yang anggarannya mencapai Rp300 miliar dan merupakan pembiayaan multiyear dari pemerintah. Kali ini dana itu tidak ada. Selain dana dari kami, ada juga dari Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perindustrian. Namun, dengan bujet yang terbatas, kami mengakui tidak dapat melakukan banyak promosi dan sosialisasi di dalam dan luar negeri.

Target apa yang diharapkan dari World Expo kali ini?

Untuk pengunjung, kami menargetkan 2,6 juta orang, atau sekitar 10 persen saja dari pengunjung World Expo yang mencapai 26 juta orang selama enam bulan. Untuk target perdagangan, kami menargetkan pendapatan US$3,4 miliar dari kopi. Hal itu karena Italia selama ini merupakan partner ketiga terbesar kita setelah Belanda dan Jerman, serta memiliki pelabuhan Genoa yang menjadi pintu masuk pasar Uni Eropa. Masyarakat di sini juga penikmat kopi, jadi kami harapkan tahun ini ekspor kopi ke Italia akan meningkat. Tahun lalu, ekspor kopi ke seluruh dunia sudah menyumbang US$1 miliar. Tahun ini baru ada realisasi US$190,5 juta dari target US$1,040 miliar.

Sementara, Kementerian Perindustrian lebih mengincar investasi dari teknologi hijau dan kerja sama UKM, terutama untuk produk fashion seperti sepatu dan jaket. Kementerian lain pastinya juga sudah punya target spesifik dari acara ini.

Berapa banyak perusahaan yang dilibatkan dalam pameran ini?

Karena World Expo sifatnya lebih ke B2B, bukan G2G, kami membawa juga perusahaan dari Indonesia. Seluruhnya ada 10 pengusaha kopi yang mendukung kami.

Apakah mungkin kita menarik World Expo ke Indonesia?

Mau diselenggarakan di mana? Saat ini luas area paviliun kita 1.175 meter persegi. Sebelumnya bahkan 3.000 meter persegi. Kalau yang ikut ada 100 negara, jelas kita belum siap. Kita belum punya tempat yang dapat menampung event ini. World Expo di Milan ini luasnya satu juta meter persegi.

Selain World Expo, event apalagi yang akan diikuti Kementerian Perdagangan?

Untuk pameran di luar negeri ada 16, di antaranya pameran produk F&B di IFEX Filipina dan SIAL Toronto, IT di Comunic Asia Singapura, furnitur di Las Vegas Market Amerika dan SPOGA Jerman, material bangunan di Infra Oman, dan multi produk di CA-Expo Nanning China. Sementara untuk dalam negeri, ada IFEX, IFFINA, Inacraft, Dekranas, Intex, dan Sail Tomini. Selain itu, kami juga melakukan beberapa misi pembelian dan pameran mandiri di Korea Selatan.

Bagaimana Ibu menentukan bahwa suatu pameran merupakan ajang yang tepat untuk berpromosi?

Kita harus mampu mencari tempat-tempat berkumpul para buyer dari seluruh dunia. Oleh karena keterbatasan dana, kami tidak bisa pergi ke semua negara. Beberapa negara yang kami anggap penting adalah Dubai dan Hong Kong karena merupakan negara penghubung. Kalau di Benua Afrika, kami ke Johannesburg, sedangkan di Benua Amerika, kami ke Kanada. Sementara untuk pameran di dalam negeri, kami tidak segan mengundang pelaku usaha dari Tiongkok. Alasannya, untuk memperlihatkan kepada mereka kalau Indonesia juga maju dan mengembangkan industri MICE.

Jika tahun depan kami dapat memperoleh anggaran yang lebih besar, kami akan lebih besar-besaran dan lebih terstruktur lagi. Yang penting kita harus terlihat agresif mendukung para buyer dari luar negeri. Puncaknya adalah Trade Expo Indonesia yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober: semua barangnya buatan Indonesia, tetapi buyer-nya kami datangkan langsung dari luar negeri.

Untuk Trade Expo Indonesia yang akan diadakan pada Oktober tahun ini, bagaimana kiat Ibu untuk memaksimalkan buyer?

Kami bekerja sama dengan perwakilan di luar negeri, seperti KBRI dan Konsulat Jenderal. Kami beri mereka tugas untuk membawa buyer ke Indonesia. Kami tanggung akomodasinya karena kami benar-benar mengharapkan transaksi dari mereka. Tahun lalu, dengan dana APBN, kita mendatangkan lebih dari 10.000 buyer. Untuk tahun ini, targetnya kurang lebih sama. Kami juga akan menanggung 1.000 kamar hotel, yang pastinya masih kurang kalau harus menampung seluruh buyer itu.

Berapa besar anggaran promosi dan pencitraan untuk tahun ini?

Sebenarnya dana yang ideal sekitar Rp150 miliar. Namun, pemerintah kita memang sedang fokus pada peningkatan infrastruktur. Jadi tahun ini kami hanya punya dana Rp46 miliar, dengan perincian Rp26 miliar untuk promosi ke luar negeri dan Rp17 miliar untuk dalam negeri. Dana Rp26 miliar itu bukan hanya untuk pameran, tetapi juga program Buying Mission. Ini merupakan program terobosan untuk mendatangkan buyer ke Indonesia. Kami membawa mereka berkeliling ke sentra produksi, tetapi tentunya setelah buyer melakukan transaksi pembelian. Setelah terjadi transaksi, baru kita ganti semua biaya akomodasinya.

Sudah berapa lama program buying mission ini diadakan?

Sejak tahun lalu. Ini adalah tahun kedua. Dana yang dikeluarkan sekitar Rp2 miliar dari cadangan APBN. Namun, kita bisa memperoleh transaksi sampai Rp500 miliar. Tahun ini kami menargetkan 25 buyer untuk datang, dengan masing-masing buyer diwajibkan bertransaksi minimum US$1 juta.

Selain buying mission, ada misi dagang, apa bedanya?

Kalau misi dagang sebaliknya, Pak Menteri yang akan ke luar negeri bersama dengan pengusaha swasta untuk mendatangi forum bisnis atau one on one meeting. Bulan Mei ini, Pak Menteri berangkat ke Eropa Timur dengan membawa 18 pengusaha. Ada pusat distribusi perdagangan baru di Bulgaria, kita akan menaruh banyak barang sampel di sana. Jadi, kalau ada peminat, kita bisa langsung datangkan dari Indonesia.

Produk-produk apa yang ditampilkan pada misi dagang ini?

Produknya macam-macam, karena kami bertanggung jawab terhadap 10 produk utama, seperti minyak kelapa sawit dan turunannya, produk-produk tekstil, elektronik, karet dan produk-produk karet, kertas, furnitur, produk-produk kimia, kuliner, sepatu, perhiasan, sampai ada 20 kelompok produk yang kami pegang.

Selain itu, terobosan apa lagi yang akan dilakukan?

Menambah jumlah pameran di luar negeri dengan tampilan yang megah dan mewah, paling kecil 200 meter persegi. Tentunya ini disesuaikan dengan anggaran yang ada. Sekarang, kami tersudut karena tidak ada anggaran dan ada kebijakan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) yang melarang perjalanan dinas. Bagaimana mau berpromosi kalau tidak ada perjalanan dinas? Sebelumnya, kami pernah branding melalui TVC atau iklan TV untuk mempromosikan Indonesia selama 30 detik di CNN, BBC, dan Bloomberg dengan dana Rp100 miliar untuk penayangannya saja, belum termasuk biaya pembuatan. Sekarang, anggaran untuk promosi hanya 630 juta. Dengan anggaran itu, tidak akan cukup untuk memasang iklan di TV luar. Oleh karena itu, kami banyak menggandeng pihak swasta dan kementerian lain serta perwakilan Indonesia di luar negeri dan organisasi internasional. Tidak jarang mereka memberikan tempat untuk kami berpameran di luar negeri. Intinya, kita harus tetap aktif di luar negeri.

Selain anggaran, tantangan apa yang dihadapi pada Direktorat Promosi dan Pencitraan ini?

Sumber daya manusia. Harus ada lebih banyak lagi yang berjiwa marketing sehingga berani tampil dan segala macamnya, karena mereka sudah pasti tahu bagaimana cara memasarkan suatu produk.