PT Dwidayatour World Wide, Rapor Biru Perusahaan Keluarga

Friday, 17 June 16   62 Views   0 Comments   Venue

Dibandingkan perusahaan publik, gaya manajemen perusahaan keluarga kerap kali masih dianggap kelas dua. Padahal, gaya manajemen adalah sebuah pilihan. Masing-masing ada plus dan minusnya. Sebagai sebuah pilihan, pola manajemen keluarga ini memang masih menjadi gaya favorit yang diterapkan para pelaku di industri pariwisata dan MICE nasional.

Salah satu perusahaan yang menerapkannya adalah PT Dwidayatour World Wide, yang telah meramaikan industri pariwisata sejak 1967. Gaya manajemen keluarga yang diterapkan berhasil mengantarkan Dwidayatour sebagai salah satu pemain besar di kancah industri pariwisata nasional.     

Berawal dari sekadar menjual tiket dan memesankan hotel dari sebuah kantor mungil di kawasan Pasar Baru, Dwidayatour berevolusi menjadi perusahaan raksasa yang benih bisnisnya tersebar di 60 cabang di Nusantara. Cabangnya bahkan sudah ada di Hong Kong dan Sydney. 

Menurut Effendy Dharmawan, Chief Operating Officer Dwidayatour, lompatan bisnis yang pernah dilakukan adalah mengakuisisi salah satu perusahaan travel besar di Jawa Tengah, yaitu PT Nusantara Tour & Travel. Strategi bisnis itu dilatari oleh potensi Yogyakarta dan Semarang yang punya daya tarik kuat dalam mendatangkan wisatawan mancanegara. “Yogya menarik wisatawan mancanegara dengan sangat kuat. Semarang juga cukup kuat karena banyak cruise mampir mengadakan tur,” kata Effendy.

Penambahan kantor cabang di sejumlah daerah pun terus dilakukan guna mendongkrak pendapatan perusahaan. Agar usia kantor cabang tak berumur muda, Dwidayatour punya beberapa kriteria ketika akan mendirikan cabang baru. Kriteria tersebut mencakup perkembangan ekonomi daerah, daya beli masyarakat, akses penerbangan internasional dan ke kota-kota besar di Indonesia. “Kami terus membuka cabang. Cabang terbaru ada di Banjarbaru (Banjarmasin), Palembang, Medan, Balikpapan, Makassar, Bandung, dan Surabaya,” kata Effendy.

Setelah menyemai benih cabang bisnis di sejumlah kota besar yang punya potensi besar, tahap berikutnya adalah menawarkan paket-paket wisata ke sejumlah destinasi di dalam dan luar negeri. Serupa dengan perusahaan tour and travel lainnya, paket wisata luar negeri (outbound) menjadi menu utama yang menjanjikan keuntungan besar bagi Dwidayatour.

Effendy mengatakan, biaya perjalanan ke luar negeri yang lebih besar daripada perjalanan domestik berdampak baik terhadap pendapatan dan laba perusahaan. Pertumbuhan ekonomi yang membaik plus sebagian masyarakat yang telah menganggap wisata sebagai kebutuhan primer membuat volume paket wisata outbound terus menunjukkan grafik positif.

Sejumlah paket wisata destinasi mancanegara seperti Korea, Jepang, Australia, dan negara-negara di ASEAN serta Eropa pun banyak diburu oleh masyarakat Indonesia. Namun, tur ke Eropa tetap menjadi magnet utama turis asal Indonesia. Pasalnya, sekali bertandang ke Benua Biru, wisatawan langsung dapat menikmati beberapa obyek wisata tersohor di beberapa negara.

Pertumbuhan ekonomi nasional turut memacu prestasi kinerja kalangan korporasi. Hal itu berpengaruh terhadap meningkatnya volume perjalanan wisata insentif yang diberikan kepada para karyawan yang dianggap berprestasi. Melihat peluang bisnis tersebut, beberapa tahun belakangan, Dwidayatour mulai fokus menggarap sektor MICE. Lalu, lahirlah PT Dwidaya Nusantara Convex.

Aktivitas MICE yang dilakukan pun tak melulu berlangsung di Bali, Yogyakarta, Bandung, Lombok, dan Jakarta, beberapa korporasi juga memercayakan program MICE di sejumlah destinasi di luar negeri kepada Dwidayatour. Permintaan itu biasanya datang dari korporasi yang bergerak di sektor asuransi, finance, farmasi, MLM (multilevel marketing), dan perusahaan kesehatan.      

Kompetisi Global

Prestasi yang dibukukan Dwidayatour tak terlepas dari kepedulian manajemen terhadap kompetensi SDM perusahaan yang saat ini berjumlah sekitar 1.200 orang. Guna mengontrol kompetensi SDM, Dwidayatour memiliki training centre dan bekerja sama dengan sekolah-sekolah pariwisata untuk mencari SDM berkualitas. “Lulusan dari sekolah-sekolah itu akan kami training (basic) terlebih dahulu selama kurang lebih 2-3 bulan, setelah itu mereka baru melakukan job training,” kata Effendy.

Setiap satu bulan sekali, dilakukan peningkatan pemahaman terhadap produk-produk perusahaan dan mendatangkan kru maskapai penerbangan guna menjelaskan produk-produk yang mereka miliki. Selain itu, Dwidayatour pun menjalin kerja sama dengan badan pariwisata nasional dan internasional dan mengundang sejumlah pembicara untuk  memberikan training. Melalui serangkaian upaya itu, Dwidayatour mengaku siap menghadapi kompetisi global ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bergulir. “Kami akan terus berlatih, karena belajar itu tidak ada kata berhenti,” kata Effendy.

Selain meningkatkan kompetisi SDM, hal yang tak kalah penting yang dilakukan Dwidayatour guna menghadapi persaingan global adalah pelayanan berbasis teknologi. Salah satunya dengan menyediakan layanan e-commerce. Layanan ini memungkinkan konsumen melakukan pemesanan tiket, hotel, dan paket tur secara online.

Layanan e-commerce merupakan langkah antisipasi untuk membendung penyusutan pendapatan karena menjamurnya online travel agent (OTA) pada saat ini. Mafhum, perkembangan teknologi digital telah membuat perilaku konsumen berubah. Tren belanja online, termasuk pembelian produk pariwisata, terus menunjukkan grafik positif.

Meskipun OTA terus menjamur, bermodal jaringan kerja sama yang kuat dengan sejumlah maskapai, travel agent sekelas Dwidayatour tak gentar. Menurut Effendy, dalam perhelatan travel fair, maskapai kerap memberikan harga promo khusus untuk pembelian seat dalam volume besar (bulk ticket) kepada travel agent.

Tak hanya itu, travel agent juga memiliki kemampuan hold in seat pesawat. Ini memungkinkan travel agent dapat memesan kursi pesawat dengan harga terbaik, memberikan pelanggan waktu yang lebih panjang untuk memutuskan, serta tidak mengenakan service charge kepada pelanggan saat melakukan pembelian.

Walaupun penuh percaya diri menghadapi kompetisi global, Dwidaya belum berniat untuk melakukan ekspansi ke luar negeri secara besar-besaran. “Kami ingin memenuhi kebutuhan konsumen Indonesia terlebih dahulu. Potensinya masih besar, perkembangan ekonomi bagus, dan bonus demografi besar,” kata Effendy.

Penulis: Pasha Ernowo