Revitalisasi Pelabuhan dan Pengembangan Wisata Bahari

Tuesday, 15 August 17   48 Views   0 Comments   Harry Purnama
Pelindo III

Berbekal pinjaman Rp4,5 triliun dari tiga bank pelat merah nasional, Pelindo III memulai proyek revitalisasi 11 pelabuhan dan siap memasuki bisnis pariwisata melalui pengembangan wisata bahari.

Orias Petrus Moedak memang bukan wajah baru di PT Pelabuhan Indonesia, operator pelabuhan pelat merah nasional. Sebelum ditunjuk sebagai Direktur Utama Pelindo III pada 16 Mei 2016, ia lebih dahulu menjabat sebagai Direktur Keuangan Pelindo II. Ketika menjabat posisi ini, sosoknya dinilai sukses melakukan transformasi dan transparansi keuangan.

Ia percaya, pemanfaatan potensi pembiayaan secara maksimal mampu menopang performa perusahaan secara berkelanjutan. Itu sebabnya, Orias mengoptimalkan setiap dana yang didapat perseroan dari utang perbankan maupun obligasi. Pelindo III, menurut Orias, akan bergerak agresif membenahi 43 pelabuhannya dengan proyeksi investasi Rp9 triliun hingga Rp11 triliun.

Sebagai tahap awal, tahun ini Pelindo III akan fokus merevitalisasi 11 pelabuhan serta perbaikan terminal dan dermaga di kawasan Indonesia Timur yang diperkirakan menelan dana Rp700 miliar. Sekitar 11 pelabuhan yang akan direvitalisasi itu di antaranya Pelabuhan Tenau, Pelabuhan Kumai, Pelabuhan Sampit, Pelabuhan Lembar, Pelabuhan Bima, Pelabuhan Maumere, Pelabuhan Batulicin, Pelabuhan Waingapu, Pelabuhan Ende, Pelabuhan Ippi, dan Pelabuhan Kalabahi.

Untuk berbagai proyeknya tahun ini, Edi Priyanto, Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia III, menjelaskan, pihaknya membutuhkan investasi mencapai Rp5,1 triliun. Sekitar Rp4,4 triliun dari investasi itu, menurut Edi, dialokasikan untuk proyek tol laut, dan sisanya untuk program revitalisasi 11 pelabuhan.

Revitalisasi di tiap-tiap pelabuhan meliputi perbaikan ruang tunggu, tempat duduk, musala, toilet, ruang menyusui, dan jalur khusus bagi penumpang berkebutuhan khusus. “Tren penumpang kapal laut memang terus menurun. Namun, sebagai BUMN, kami berkewajiban untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Inilah alasan berbagai proyek perbaikan pelabuhan terus digalakkan,” kata Edi.

Mengenai pembiayaan berbagai proyek strategis tahun ini, Orias menjelaskan, Pelindo III akan memaksimalkan penggunaan dana pinjaman perbankan sebesar Rp4,5 triliun. Dana itu, katanya, didapatkan dari aliansi tiga bank pelat merah nasional: Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Mandiri. Dalam hal ini, BNI dan Mandiri akan memberikan masing-masing Rp2 triliun, sedangkan BRI menyumbang Rp500 miliar.

Awal tahun 2017, perseroan juga berencana menerbitkan obligasi (surat utang) senilai Rp5 triliun yang diproyeksikan akan terserap optimal berkat program tax amnesty. Herry Sidartha, Direktur Bisnis BNI, mengatakan, pelabuhan merupakan komponen utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sebuah kawasan. “Pergerakan suplai barang dilakukan di sana, baik untuk domestik maupun internasional. Ini alasan kami mendukung pendanaan untuk Pelindo III,” tuturnya.

Perbaikan pelabuhan, imbuh Orias, dipercaya mampu menunjang performa keuangan perusahaan secara berkelanjutan. Sepanjang semester I 2016, performa Pelindo III terbilang positif dengan berhasil mengumpulkan pendapatan Rp3,5 triliun dari target Rp6 triliun yang dipancang sepanjang tahun ini. Sementara laba bersih pada semester I 2016 mencapai Rp900 miliar dari target Rp1,3 triliun.

Performa positif membuat Pelindo III cukup percaya diri untuk masuk ke bisnis pariwisata, khususnya wisata bahari. Diversifikasi bisnis itu, menurut Edi, sekaligus komitmen perseroan mendukung program pemerintah dalam mengembangkan 10 destinasi wisata prioritas yang ditetapkan sejak 6 November 2015. Lalu, strategi apa yang akan dijalankan Pelindo III untuk memasuki bisnis pariwisata?

Edi menjelaskan, setidaknya ada dua strategi yang dijalankan Pelindo III. Pertama, membenahi pelabuhan untuk menggaet lebih banyak cruise (kapal pesiar). Saat ini, fokus utama Pelindo III adalah memperpanjang sandaran kapal di atas 300 meter. “Perpanjangan sandaran kapal akan kami fokuskan di dua titik: Benoa-Bali dan Lembar-Lombok. Mengapa harus Bali dan Lombok? Karena kedua destinasi itu merupakan titik persinggahan utama kapal pesiar di Indonesia Timur,” katanya.

Merujuk data Pelindo III, hingga September 2016, 52 kapal pesiar memasuki dermaga di bawah pengelolaan Pelindo III dengan 55.586 wisatawan mancanegara (wisman). Sekitar 28 kapal pesiar, lanjut Edi, masuk melalui Pelabuhan Benoa Bali dengan membawa 38.000 wisman. Sementara Pelabuhan Lembar di Lombok Barat disinggahi sekitar 14 kapal pesiar yang memboyong 20.000 wisman, sedangkan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, dipilih sebagai tempat melempar sauh oleh 10 kapal pesiar yang berisi 12.000 wisman.

Pelindo III

Namun, apabila dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu, angka tersebut masih terbilang kecil, mengingat Pelindo III kedatangan 130 kapal pesiar dengan 128.574 wisman sepanjang tahun 2015. Edi optimistis, pembenahan pelabuhan dapat mengakselerasi angka kunjungan kapal pesiar ke Indonesia.

Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, merupakan salah satu pelabuhan yang telah melewati renovasi bertahap dan siap menerima kunjungan kapal pesiar. Pada 20 Oktober 2016, untuk pertama kalinya pelabuhan ini disinggahi kapal pesiar berbendera Bahama bernama MS Silver Discoverer. Kapal tersebut memboyong sekitar 81 wisatawan mancanegara dan 150 awak kapal. Saat ini, Tanjung Wangi memiliki dermaga sepanjang 543 meter dengan kedalaman -12 sampai -14 MLWS (meter low water spring) yang laik untuk disinggahi kapal pesiar.

Pada akhir tahun 2016, Pelindo III juga akan memulai pengembangan Gili Mas New Port yang terletak di Gili Mas, Kecamatan Lembar, Lombok. Berbekal investasi Rp1 triliun, pelabuhan baru tersebut terletak tidak jauh dari Pelabuhan Lembar yang selama ini menjadi persinggahan kapal-kapal pesiar di Lombok. Proyek Gili Mas, menurut Edi, sudah masuk dalam tahap pembebasan lahan dan ditargetkan selesai pada tahun 2018.

“Kedalaman Pelabuhan Lembar kurang dari -10 MLWS. Jadi, kapal pesiar tidak dapat bersandar dan penumpang harus diangkut menggunakan speedboat untuk mencapai dermaga. Sementara Gili Mas, rencananya akan dibangun di area berluas 100 hektare dan memiliki kedalaman -16 sampai -18 MLWS. Jadi, dikhususkan untuk kapal pesiar, peti kemas, dan kapal penumpang,” ujar Edi.

Kedua, mengembangkan kawasan wisata bahari terintegrasi di tiga titik utama: Banyuwangi-Jawa Timur, Labuan Bajo-Nusa Tenggara Timur, dan Benoa-Bali. Untuk siasat ini, Pelindo III mengerahkan anak usahanya, PT Pelindo Properti Indonesia (PPI), sebagai pengembang. Nantinya, kawasan wisata bahari ini akan dilengkapi dengan beragam fasilitas wisata, mulai dari resor hingga ecopark.

Proyek serupa sebenarnya sudah dijalankan Pelindo III sejak 27 Februari 2016 di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kawasan wisata terintegrasi bernama Surabaya North Quay itu ditempatkan di lantai dua dan tiga Terminal Gapura Surya Nusantara. Di dalamnya, wisatawan dapat menikmati live music, pertunjukan seni, pasar kuliner, hingga pameran berbagai produk lokal.