Steik, Konsep Industrial, dan Wine Cellar

Wednesday, 08 November 17   12 Views   0 Comments   Harry Purnama
Luc Bar & Grill

Satu dekade terakhir, konsep industrial menjadi primadona dalam dunia rancang bangun. Umumnya, konsep ini menonjolkan kesan maskulin dengan permainan nuansa unfinished: dinding bata dibiarkan terekspos dan penggunaan furnitur serta dekorasi berbahan besi. Keunikan lain konsep ini biasanya membiarkan langit-langit tampak “telanjang” dengan palang kayu dan pipa yang terlihat.

Konsep inilah yang coba diaplikasikan LUC Bar & Grill. Meski tidak menampilkan konsep industrial secara menyeluruh, restoran yang berlokasi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini menghadirkan dinding bata dan penggunaan dekorasi berbahan besi, baja, dan logam lainnya.

Konsep itu, menurut Reva Tan, Public Relations Manager LUC, diperkuat dengan kombinasi warna natural, seperti cokelat, kayu, dan merah bata. “Aplikasi warna natural dan minimalis ini sangat mendukung segmen pasar kami yang memang menyasar kelas menengah-atas,” katanya.

Reva menjelaskan, nama restoran yang beroperasi sejak 19 Februari 2014 ini diadopsi dari bahasa Perancis, yaitu but lucrative yang berarti ‘keberuntungan’. Untuk menu, restoran ini menawarkan kuliner bergaya Western dan tradisional. Khusus untuk menu Western, restoran berkapasitas 100 orang ini menghidangkan steak sirloin dan tenderloin sebagai sajian favorit.

Luc Bar & Grill

“Untuk menjaga kualitas hidangan, sebagian bahan baku kami impor dari beberapa negara. Daging misalnya, kami datangkan langsung dari Australia, sedangkan minyak zaitun diimpor dari Italia. Beberapa bahan lain juga kami datangkan dari Perancis,” ungkapnya.

Tidak sekadar menyajikan, LUC juga mengedukasi pengunjung mengenai cara mengonsumsi steak melalui cara pengolahan yang benar. Daging, ujar Reva, hanya di-marinate menggunakan garam dan lada, lalu dimasak hingga mencapai tingkat kematangan medium dan well done. “Penyajian steak tidak dilumuri saus barbeque agar tamu dapat menikmati kualitas daging yang kami sajikan,” imbuhnya.

Selain itu, Seafood Salad, Cannelloni Bolognese, Spaghetti Seafood Filleto Con Foiegras, Thenderloin Ats Forga Red Wine, BBQ Slort Ribs Gread Faji, Chocolate Melt, dan Chocolate Mousse juga menjadi andalan di menu Western. Sementara untuk menu tradisional, LUC Bar & Grill menyajikan sederet menu terbaik, seperti sop iga, nasi goreng, dan sop buntut. “Semua masakan yang kami sajikan diolah oleh koki lokal andal dalam menu Barat dan tradisional,” paparnya.

Kejutan lain dari LUC terletak pada sajian 100 jenis whiskey yang sebagian di antaranya berumur lebih dari seperempat abad. Masih pada bagian beverage, LUC juga menawarkan menu Kick and Run untuk koktail, Green Eyes dan Blue Haven untuk mocktail, serta wine. Reva mengungkapkan, untuk menyimpan koleksi anggur, LUC menyediakan wine cellar yang terletak tepat di samping ruang VIP.

Untuk mengakomodasi kebutuhan korporasi, LUC menyediakan ruang VIP bernuansa Eropa yang dihiasi delapan pigura foto yang digantung di sisi kiri, bersanding dengan kaca besar. Menurut Reva, ruang berkapasitas 16 orang ini kerap dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan dan venue berbagai event.

“Rata-rata kapasitas setiap kali mengadakan event bisa mencapai 40 orang. Sebagian besar perusahaan yang pernah menyelenggarakan kegiatan di sini berasal dari industri pertambangan (batu bara), perminyakan, hingga telekomunikasi. Selain itu, LUC juga pernah menjadi venue bagi pergelaran Supermodel Night Out dan Brunch Session with Cocktail Competition,” imbuh Reva.

Luc Bar & Grill

Alamat

Jl. Wolter Monginsidi No. 33, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

T: (021) 720 6366, 720 6370

E: info@lucjakarta.com

W: lucjakarta.com

 

Kisaran harga:

Rp50.000 hingga Rp5.000.000

 

Jam operasional:

Senin-Kamis 10.30-00.00 WIB

Jumat-Minggu 10.30-01.00 WIB