Tugu Kunstkring Paleis, Romantisisme Kolonialis Kala Dahulu

Tuesday, 20 September 16   7 Views   0 Comments   Venue

Sejarah penjajahan tak hanya meninggalkan cerita bagi kita, generasi masa kini. Budaya, seni, bangunan, dan lain-lain juga diwariskan. Tempat paling indah untuk menikmati semua itu adalah di Restoran Tugu Kunstkring Paleis. Makanan istimewa, karya seni, dan desain interior yang tak lekang oleh waktu di setiap jengkal ruangan “bertutur” memberikan ekstase imajinasi zaman kolonial dahulu kala pada setiap pengunjungnya.

Tugu Kunstkring Paleis memiliki beberapa ruangan khusus untuk dining dan meeting dengan kapasitas dan tema ruangan yang bervariasi. Untuk ruang pertemuan dan ruang makan privat dengan ukuran kecil, tamu restoran dapat memilih Ruang Soekarno, Ruang Colonial Rijsttafel, dan Ruang Multatuli.

Salah satu ruang sengaja dinamakan Ruang Soekarno sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan Tugu Kunstkring Paleis terhadap Presiden Pertama Republik Indonesia. Itulah sebabnya di dalam ruangan ini dipajang sebuah lukisan Presiden Soekarno berukuran besar yang diapit oleh dua penari Bali. Foto-foto Soekarno dari masa ke masa juga dipasang di dinding yang dicat hitam.

Sepasang topeng yang menggambarkan kisah romantis pernikahan Putri Cina dengan Raja Bali dan sebuah lukisan karya Dewa Putu Bedil yang menggambarkan suasana pasar tradisional masa lampau di Ubud, Bali, juga turut menghiasi ruangan ini. Koleksi keris antik dan barang-barang kuno antik lainnya menambah apik penampilan interior ruangan yang berada di lantai dua bangunan restoran. Untuk meeting maupun perjamuan, terdapat meja panjang dengan kursi-kursi yang berbaris rapi di setiap sisi meja. Ruangan ini dapat menampung hingga 24 orang.

Ruangan privat lain adalah Ruang Colonial Rijsttafel. Ruangan ini juga berada di lantai satu. Nama ruangan ini terinspirasi dari menu hidangan orang Belanda, yaitu “rijsttafel”, yang artinya ‘meja nasi’. Di ruangan ini terdapat meja bundar dan kursi-kursi kayu berukiran yang bisa ditempati delapan orang. Interior ruangannya didandani dengan lukisan hitam-putih besar yang menggambarkan suasana restoran pada zaman kolonial dahulu.

Nama Rijsttafel bukan kebetulan dipakai untuk nama salah satu ruangan privat saja. Rijsttafel Betawi juga benar-benar disajikan sebagai salah satu menu utama dan andalan di restoran Kunstkring.

Rosiany T. Chandra, Public Relations Tuguhotels, Exotic Spas & Restaurant, menjelaskan, Rijsttafel Betawi adalah rangkaian parade makanan yang disajikan kepada para tamu dengan tarian Betawi. Dahulu kala, menu Rijsttafel Betawi biasa disajikan untuk orang-orang penting Belanda, seperti gubernur atau Ratu Belanda bila datang ke Batavia.

Para pelayan yang mengenakan baju seragam adat Betawi tahun 1910-an akan membawakan satu per satu makanan kepada para tamu dengan iringan musik tradisional Ondel-Ondel Betawi. Menu ini hanya bisa disajikan untuk minimal lima orang dan maksimal 30 orang. Tamu yang ingin mencicipinya juga harus memesannya terlebih dahulu. “Karena sangat spesial, untuk menikmati menu ini harus memesan sehari sebelumnya,” jelas Rosiany.

Selain itu, ada Ruang Pangeran Diponegoro. Di ruangan tersebut dipajang lukisan yang berjudul The Fall of Java dengan ukuran 9 x 4 meter. Lukisan sosok Pangeran Diponegoro yang ditangkap Belanda di Magelang terpampang di dalamnya. Ruang makan utama dengan kapasitas 85 orang ini menyediakan menu fine dining Betawi dan Western dengan cara disajikan di atas meja kayu beralaskan taplak meja linen putih yang elegan dan dihiasi dengan bunga segar di tengahnya.

Sama seperti fungsinya, sebagai tempat pameran karya seni di zaman kolonial dahulu, Tugu Kunstkring Paleis saat ini juga memiliki dua galeri seni yang terletak di lantai satu dan dua. Dua galeri seni ini digunakan sebagai tempat pameran karya seni. Galeri seni yang berada di lantai satu biasanya digunakan untuk pameran hasil karya pelukis-pelukis pendatang baru, sedangkan ruang galeri seni yang lebih besar biasa menjadi tempat pameran seni hasil karya seniman-seniman lokal maupun internasional yang bekerja sama dengan Tugu Kunstkring Paleis dan pertunjukan orkestra. Galeri seni yang berada di lantai dua ini juga bisa digunakan sebagai tempat meeting dengan kapasitas 100 orang.

Untuk bersantai, Tugu Kunstkring Paleis juga memiliki lounge, salah satunya adalah Suzie Wong Lounge yang dirancang elegan dan klasik. Suzie Wong adalah tokoh film dan novel karya Richard Mason yang berjudul The World of Suzie Wong. Saat memasuki bar, para tamu akan disambut dengan poster film The World of Suzie Wong dalam ukuran besar di dua sisi ruangan. Didekorasi dengan warna merah dengan lampion yang juga berwarna merah dan cahaya yang temaram memberikan nuansa romansa Hong Kong pada tahun 1950-an: mirip tema film Suzie Wong. Ruangan ini dapat menampung sekitar 50 orang.

Para pencinta wine juga tak perlu khawatir tak akan tersalurkan kegemarannya jika datang ke Tugu Kunstkring Paleis. Di restoran ini terdapat Ban Lam Wine Shop & Tasting Room yang menyediakan berbagai jenis minuman anggur. “Wine shop kami ini menyajikan wine-wine terbaik dari 15 negara,” ujar Rosiany.

Tugu Kunstkring Paleis berlokasi di Menteng, tepatnya di Jalan Teuku Umar No. 1, Jakarta Pusat. Bangunannya adalah bangunan peninggalan sejarah kolonial. Dahulu, bangunan ini bernama Bataviasche Kunstkring, yang dalam Bahasa Belanda kunts berarti ‘seni’ dan kring berarti ‘lingkaran’. Sesuai dengan namanya, Bataviasche Kunstkring difungsikan sebagai galeri seni bagi orang-orang Belanda yang berada di Indonesia pada saat itu. Berbagai macam lukisan kelas dunia, seperti karya Picasso dan Van Gogh, pernah dipamerkan di sini sejak Bataviasche Kunstkring dibuka pada 17 April 1913.

Seiring berlalunya waktu, Bataviasche Kunstkring berubah fungsi, mulai dari kantor sebuah organisasi di masa pendudukan Jepang, kemudian menjadi Kantor Imigrasi Jakarta Pusat dari 1950 hingga 1993. Bangunan ini juga sempat terbengkalai untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya diambil alih Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan dijadikan sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi keberadaannya.

Tepat 100 tahun sejak Bataviasche Kunstkring dibangun, grup Tuguhotels, Exotic Spas and Restaurants mengambil alih pengelolaan bangunan ini dan membukanya kembali sebagai restoran, bar, dan galeri seni, lalu diberi nama Tugu Kunstkring Paleis pada 17 April 2013. Meski telah menjadi restoran, misi lain pengelola adalah untuk tetap menjadikan Kunstkring sebagai art center dengan menghadirkan nuansa seni, budaya, dan romansa Indonesia.

Penulis: Mutya Hanifah