Bekerja dan Meeting di Ruang Hampa

Thursday, 12 October 17   65 Views   0 Comments   Harry Purnama
Ruang Hampa

Ruang Hampa. Mendengar frasa ini, yang terbayang di kepala kita pastinya space di luar atmosfer Bumi sampai ke angkasa atau antariksa. Dalam pelajaran geografi di sekolah menengah, Ruang Hampa didefinisikan sebagai ruang yang benar-benar kosong, tidak ada udara maupun partikel-partikel lainnya. Lalu, apa hubungannya dengan tempat kerja? Kehampaan atau kesunyian itulah yang justru menjadi nilai lebih di mata Zaenal A. Budiyono, M. Si., pembesut Coworking Space berlabel Ruang Hampa, yang juga seorang dosen dan pengamat politik.

Zaenal menuturkan bahwa ketenangan bagi warga ibu kota sekarang ini merupakan barang mewah. “Dengan rutinitas kemacetan setiap hari, polusi udara, dan suara, maka kehampaan ibarat oasis di tengah gurun,” ujar Zaenal.

Dalam laman situs Ruang Hampa disebutkan bahwa hampir semua orang membutuhkan ketenangan untuk menemukan fokus dan akhirnya dapat mengeksekusi berbagai pekerjaan. Dalam konteks ini, tambah Zaenal, Ruang Hampa hadir membantu mereka menciptakan sesuatu yang luar biasa, mewujudkan goals bisnis dan menjadi pemenang. Dengan kata lain, Ruang Hampa merupakan ruang untuk berkreasi. A Space to Create!

Sejauh ini ada dua layanan reguler yang disediakan di Ruang Hampa, yakni Coworking Space (CWS) dan Meeting Room (MR). CWS tak lain layanan yang bersifat individual, di mana setiap orang bisa datang dan menggunakan space di sana. Fasilitas di CWS lumayan mendukung para pebisnis pemula, seperti akses Internet berkecepatan tinggi, tidak berisik, network opportunities, dan minuman ringan gratis.

“Satu lagi yang membedakan dengan Coworking Space sejenis, di sini didukung perpustakaan dengan ribuan buku yang bisa menjadi bahan referensi bagi mereka yang tengah mengerjakan skripsi, tesis, maupun desertasi. Atau juga para profesional yang pekerjaannya memerlukan referensi buku,” ujar Zainal.

Target pasar Ruang Hampa tak lain para pebisnis pemula, young entrepreneur, profesional, maupun mahasiswa yang bekerja tidak terikat tempat. Mereka tak lain adalah barisan Generation Y yang memiliki behavior berbeda dengan generasi sebelumnya, di antaranya berjiwa optimistis, inovatif, bekerja tidak terikat waktu dan tempat, serta social media militant.

“Perubahan behavior ini harus kita ikuti, karena kalau tidak, maka kita yang akan ditinggal. Seperti halnya teknologi yang tak bisa ditolak, Gen Y style juga tidak mungkin dihindari. Yang paling baik bagi kita adalah bagaimana beradaptasi dengan setiap perubahan,” ujar ayah satu anak ini.

Ruang Hampa terletak di bilangan Tanjung Mas Raya, Jakarta Selatan, hanya beberapa meter dari Stasiun Tanjung Barat. Suasana Ruang Hampa tidak seperti kantor pada umumnya. Justru lebih kental nuansa perpustakaan dengan barisan buku mengelilingi empat sisi dinding. Tidak ada meja resepsionis yang kaku, digantikan bar table disisipi poster-poster tokoh-tokoh besar dunia dan Indonesia, seperti Bung Karno, Tan Malaka, Nelson Mandela, hingga Malala Yousafzai. Latar belakang pemilik Ruang Hampa yang seorang akademisi dan pengamat politik tampak tidak lepas dari suasana tempat itu. Namun, tidak hanya buku sosial politik yang mendominasi perpustakaan di Ruang Hampa. Banyak juga buku bidang lain, seperti ekonomi, hukum, biografi, agama, filsafat, perempuan, dan banyak lagi.

Tarif di Ruang Hampa juga tergolong murah bila dibandingkan dengan Coworking Space lainnya di Jakarta. Untuk bekerja seharian dari jam 9 pagi sampai 8 malam, pengunjung cukup membayar Rp50.000. Sementara untuk meeting room-nya, dipatok Rp100.000 per jam-nya. Cukup murah untuk ukuran warga Jakarta. So, kamu tertarik “terdampar” di Ruang Hampa?