ICE, Pusat Ekonomi Kreatif Indonesia

Thursday, 24 March 16   2 Views   0 Comments   Venue

Pada 22 Maret 2016, Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf) dan PT Indonesia International Expo (IIE) menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia. Penandatanganan MoU ini dilakukan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan Direktur PT Indonesia International Expo, Teddy Surianto dan Ishak Chandra.

Triawan menyatakan ekonomi kreatif menyimpan potensi yang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain menciptakan lapangan kerja, ekonomi kreatif juga mampu memacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui karya-karya pelaku industri ekonomi kreatif di berbagai subsektor.

Badan Ekonomi Kreatif memuji PT Indonesia International Expo selaku pengelola Indonesia Convention Exhibition (ICE) yang memiliki visi sama. Karena itu, BeKraf menggandeng ICE untuk bersama-sama mendorong pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Tahun 2015 lalu, BeKraf menggelar Temu Kreatif Nasional 2015 dan Dialog Komunitas Kreatif yang dihadiri Presiden Joko Widodo di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Presiden waktu itu menulis pesan bahwa “Era ekonomi kreatif harus menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia”.

Lilik Oetama, CEO Kompas Gramedia selaku pemegang saham ICE, mengatakan, Kompas Gramedia mendukung Indonesia Convention Exhibition (ICE) menjadi katalisator pembangunan ekonomi Indonesia dengan memberi ruang kepada UMKM dan pelaku ekonomi kreatif. “Kami mendukung inisiatif Badan Ekonomi Kreatif mengembangkan potensi industri kreatif yang memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Industri kreatif berkembang sangat besar di era digital dan mengandalkan kreativitas dan iptek, tapi sedikit sekali menghabiskan kekayaan alam,” kata Lilik.

“Industri kreatif sangat relevan menyongsong era digital yang berkembang sangat cepat, di antaranya bidang perfilman, animasi, pemberitaan, fashion, dan kuliner. Bidang-bidang ini mampu memberikan efek ganda untuk mendukung industri pariwisata, termasuk perhotelan dan MICE,” tambah Lilik.

MoU antara ICE dan BeKraf ini mengakomodir kegiatan-kegiatan pengembangan industri kreatif secara lembaga dan secara sistem.  Salah satu kegiatan yang dalam waktu dekat diselenggarakan adalah Pekan Raya Indonesia (PRI). “ICE mengalokasikan ruang pameran untuk mendukung UMKM dan ekonomi kreatif. Dalam PRI, BeKraf dapat menampilkan contoh-contoh industri kreatif yang sudah berhasil,” kata Lilik yang berharap ICE dapat menjadi pusat ekonomi kreatif di Indonesia.

Teddy Surianto, Direktur PT Indonesia International Expo, menambahkan, Kompas Gramedia memiliki Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang sudah mengembangkan industri kreatif, yang berkaitan dengan bisnis digital perusahaan startup dan lainnya. “UMN akan secara berkala menampilkan contoh produk perusahaan-perusahaan ‘startup’ yang dikembangkan,” kata Teddy.

Indonesia Convention Exhibition (ICE) yang berlokasi di BSD City, Tangerang, merupakan gedung konvensi dan ekshibisi terbesar di Asia Tenggara dengan luas 117.257 meter persegi. Saat ini ICE memiliki 10 exhibition hall dengan luas total 50.000 meter persegi; ruang konvensi seluas 4.000 meter persegi berkapasitas 10.000 orang; 33 ruang rapat berbagai ukuran; area outdoor seluas 50.000 meter persegi; area selasar seluas 12.000 meter persegi; lobi seluas 7.500 meter persegi, dan fasilitas parkir berkapasitas 4.000 mobil. 

Di kompleks ICE, terdapat Hotel Santika Premiere ICE BSD City (hotel bintang empat) dengan 285 kamar. Ke depannya, akan dibangun dua hotel baru, yaitu hotel bintang tiga dan hotel bintang dua (budget hotel). Dalam dua tahun ke depan, ICE akan mengalami perluasan sehingga memiliki luas hingga 200.000 meter persegi. Jika itu terwujud, ICE akan menjadi gedung konvensi dan ekshibisi terbesar dan terluas kedua di Asia, di bawah China Import & Export Fair Complex di Guangzhou, Cina dengan luas 338.167 meter persegi.

Penulis: Harry Purnama