Tokyo Big Sight Ditutup, Industri Pameran Jepang Gigit Jari

Friday, 12 February 16   2 Views   0 Comments   Venue

Asosiasi Pameran Jepang (JEXA) memprediksi industri ekshibisi Jepang akan rugi hingga US$50-US$60 miliar apabila rencana penutupan Tokyo International Exhibition Center (Tokyo Big Sight) dijalankan Pemerintah Metropolitan Tokyo (TMG). Melansir dari Exhibition World, East Hall 1-6, West Hall, dan seluruh Aula Timur pada pusat konvensi terbesar di Jepang itu akan disulap menjadi media centre selama 20 bulan, terhitung April 2019 hingga November 2020.

Rencana itu menuai kritikan keras dari JEXA karena para organizer terpaksa harus membatalkan pameran mereka yang bertepatan dengan jadwal penutupan Tokyo Big Sight. Sebagai informasi, kebijakan pembatasan ruang pameran dikeluarkan Pemerintah Metropolitan Tokyo (TMG) pada Oktober 2015 demi memuluskan jalannya Olimpiade Musim Panas 2020.

JEXA mengklaim, kebijakan penutupan itu akan menimbulkan masalah sosial dan merugikan banyak perusahaan. Pusat konvensi yang beroperasi sejak 1996 itu mencatat, setiap tahun ada sekitar 90.000 perusahaan menggelar 300 pameran dengan pendapatan mencapai US$37,5 miliar. Merujuk pada data tersebut, apabila Tokyo Big Sight ditutup selama 20 bulan maka potensi kerugian mencapai 500 pameran senilai US$60 miliar. “Ini tentu akan menjadi pukulan telak bagi perekonomian Jepang,” tulis JEXA.

Kritikan serupa juga datang dari Christopher Eve, Managing Director UBM Jepang Co. “Rencana (penutupan) itu benar-benar gila dan akan berdampak buruk pada industri pameran Jepang. Event memang bisa dialihkan ke Makuhari Messe (tempat konvensi besar lainnya), tapi letaknya ‘kan satu jam dari Tokyo. Seharusnya ini bisa menjadi pertimbangan TMG mengingat jadwal pameran sudah ditetapkan jauh hari sebelumnya,” katanya.

Menengahi persoalan tersebut, JEXA menyarankan TMG untuk membangun media centre baru yang dikhususkan bagi perhelatan Olimpiade. “Pendapatan dari industri pameran yang diterima TMG harusnya dapat menutupi biaya pembangunan media centre baru tanpa harus menutup Tokyo Big Sight yang statusnya sudah terisi.”

Penulis: Siska Maria Eviline