Tanjung Gunung Menanti Asa Menjadi Kawasan Ekonomi Khusus

Wednesday, 09 October 19 0 Comments   Harry Purnama

“Yang dibangun duluan itu old town garden dan lifestyle beach karena Pak Menteri (Pariwisata) mengatakan harus ada atraksi. Kalau tidak ada atraksi, orang tidak akan datang. Makanya kita buat lifestyle beach dulu supaya orang datang,” ujar Eddy. “Setelah itu baru hotel, tapi tidak hotel berbintang, melainkan resor.”

Mengusung konsep “An Integrated Coastal Entertainment Destination”, di lifestyle beach Tanjung Gunung nantinya akan ada teater, arena permainan, theme park, water park, dan sebagainya.

Sementara untuk old town garden, konsepnya akan memadukan budaya Cina dan Melayu. “Karena di sini ‘kan sejarahnya dari dulu ada etnis Cina juga,” ujar Eddy.

Di old town garden nantinya akan dilengkapi dengan tempat untuk belajar kebudayaan, seperti sanggar seni, dan juga ada tempat untuk berjualan.

Pulau Panjang, Tanjung Gunung, Bangka
Pulau Panjang di Kawasan Tanjung Gunung, Bangka.

Fasilitas yang sudah ada saat ini di Tanjung Gunung adalah glamping (glamour camping) berjumlah 14 unit. Namun, fasilitas ini belum dipasarkan secara luas, hanya untuk kebutuhan internal serta wisatawan yang datang dan memesan on the spot.

Eddy menambahkan, investasi yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur awal mencapai Rp1,5 triliun, sementara investasi untuk membangun tenant-tenant ditargetkan sebesar Rp4,5 triliun.

“Yang jelas ini harus menarik investor, kita tidak muluk-muluk juga. Kalau kita bangun sendiri, tidak mungkin bisa,” ujar Eddy.

Halaman : 12

Telah dikembangkan sebagai kawasan wisata sejak tahun 2017, Tanjung Gunung kini menanti harapan untuk segera disahkan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK). Eddy Priyasmono, Direktur PT Pan Semujur Persada dan juga Ketua Pengusung KEK Tanjung Gunung, mengatakan, semua persyaratan untuk menjadi KEK sudah semua disetujui oleh Dewan KEK Nasional.

“Kami memenuhi syarat dari geoekonomi dan geostrategis untuk dijadikan kawasan ekonomi khusus. Tempat ini dekat dengan pusat pemerintahan dan Bandara Depati Amir, tidak sampai 15 menit,” ujar Eddy.

“Yang belum adalah pemanfaatan ruang laut di depan sini yang WUP (Wilayah Usaha Pertambangan) PT Timah. Kita sudah buat perjanjian dari 2017. Karena dari Dewan KEK masih kurang kuat perjanjiannya, maka kita buat addendum pertama, lalu kita bikin lagi addendum kedua, dan sudah kita submit ke Dewan KEK, mudah-mudahan dari hasil ini sudah selesai. Hanya itu satu saja yang belum,” ujar Eddy.

Eddy menambahkan, calon KEK Tanjung Gunung ini memiliki lahan seluas 385 hektare, dan yang dimiliki oleh kawasan seluas 170 hektare. Untuk memikat investor masuk, PT Pan Semujur Persada bertindak sebagai pengelola sekaligus sebagai investor awal dengan menyediakan infrastruktur awal.

“Setelah ditetapkan, baru kita bangun infrastruktur untuk tahap tiga tahun pertama, seperti jalan, musala, dan infrastruktur pokok lainnya. Karena kalau tidak dibangun, tidak ada pengungkitnya, investor pun akan malas dan tidak mau masuk,” ujar Eddy.

Ada empat hal yang akan dibangun di Tanjung Gunung dalam fase tiga tahun pertama setelah ditetapkan menjadi kawasan ekonomi khusus, yakni MICE and open air mall, lifestyle beach, hotel and resort, serta old town garden.