Kemenparekraf Kelola Sampah Makanan Untuk Dukung Isu Keberlanjutan di G20

Tuesday, 19 July 22 Bonita Ningsih

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus mendukung isu-isu yang menjadi perbincangan selama perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Salah satu isu yang menjadi sorotan saat G20 adalah bagaimana mengatasi perubahan iklim dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan dengan tindakan nyata.

“Kami sebagai vocal point dari parekraf menggagas kegiatan pengelolaan food waste pada industri pariwisata,” ungkap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, dalam Weekly Press Briefing Kemenparekraf pada 18 Juli 2022 di Jakarta secara hybrid.

Sebagai bentuk nyata dalam mendukung isu tersebut, Kemenparekraf, telah mengadakan kegiatan FGD Pengelolaan Food Waste pada industri pariwisata. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengatasi perubahan iklim yang berasal dari Food Loss and Waste. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai stakeholder industri pariwisata melalui inovasi, adaptasi, dan kolaborasi.

BACA JUGA:   Kemenparekraf Prediksi Perputaran Uang Selama Libur Lebaran Mencapai Rp75 Triliun

“Makanan yang mubazir pada industri pariwisata dipicu dengan adanya prasmanan. Kalau sisa makanan tersebut disatukan, kira-kira sampah yang dihasilkan itu dua kali lipat dari berat badan kita. Misalnya orang tersebut memiliki berat 75 kilogram, berarti dia menghasilkan sampah makanan sebanyak 150 kilogram. Ini yang menjadi PR buat kita,” jelas Sandiaga lagi.

Selain menyumbangkan emisi karbon, membuang makanan dapat menimbulkan efek sosial bagi masyarakat yang kurang mampu. Sandiaga menilai, saat ini masih banyak masyarakat yang mengalami kelaparan serta kemiskinan sehingga makanan-makanan tersebut dibutuhkan mereka.

BACA JUGA:   Foto: Indonesia Dental Exhibition & Conference 2017

“Kami sudah memiliki 45 strategi yang dikelompokan untuk mengatasi ini. Mulai dari perubahan perilaku, pembenahan sistem pangan, pemanfaatan dari makanan yang harus tidak termakan, pengembangan kajian, dan pendataannya ini sangat penting,” ucapnya lagi.

Selain itu, Kemenparekraf juga telah meluncurkan Carbon Offset Calculator untuk meminimalisir carbon footprint atau emisi karbon dan rekam jejak karbon. Carbon Offset Calculator diperlukan untuk menghitung berapa besar emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas perjalanan wisata seseorang.

Menurut Sandiaga, Carbon Offset Calculator dapat dimanfaatkan selama perhelatan G20 berlangsung dengan menghitung jumlah emisi karbon dari para delegasi setiap negara. Jumlah emisi karbon tersebut dapat dilihat dari jarak tempuh yang dilalui para delegasi ke Indonesia.

BACA JUGA:   Pariwisata Mulai Bangkit, Asuransi Perjalanan Jadi Sorotan Wisatawan

“Misalnya delegasi tersebut terbang dari Amerika atau Eropa ke Indonesia, kita hitung saja berapa jumlah karbon emisi yang mereka keluarkan. Nantinya mereka harus menggantinya dengan menanam pohon, mangrove, atau restorasi terumbu karang,” kata Sandiaga.