<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Feature &#8211; VenueMagz.com</title>
	<atom:link href="https://venuemagz.com/feature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://venuemagz.com</link>
	<description>Referensi Industri MICE Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Jun 2026 09:27:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://venuemagz.com/wp-content/uploads/2017/09/cropped-Favicon-32x32.png</url>
	<title>Feature &#8211; VenueMagz.com</title>
	<link>https://venuemagz.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">127860349</site>	<item>
		<title>Dari Lari ke Hyrox, Sport Event Jadi Mesin Bisnis Baru Industri MICE</title>
		<link>https://venuemagz.com/feature/dari-lari-ke-hyrox-sport-event-jadi-mesin-bisnis-baru-industri-mice/</link>
					<comments>https://venuemagz.com/feature/dari-lari-ke-hyrox-sport-event-jadi-mesin-bisnis-baru-industri-mice/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Murdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 09:27:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Hyrox]]></category>
		<category><![CDATA[sport event]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://venuemagz.com/?p=45303</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Venuemagz.com &#8211; NICE PIK 2 akan menjadi saksi debut salah satu fenomena olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Pada 27–28 Juni 2026, Hyrox Jakarta untuk pertama kalinya hadir di Indonesia sekaligus menjadi salah satu penyelenggaraan perdana di kawasan Asia Pasifik. Bagi sebagian orang, nama Hyrox mungkin masih terdengar asing. Namun, di komunitas kebugaran global, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jakarta, Venuemagz.com &#8211; </strong>NICE PIK 2 akan menjadi saksi debut salah satu fenomena olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Pada 27–28 Juni 2026, Hyrox Jakarta untuk pertama kalinya hadir di Indonesia sekaligus menjadi salah satu penyelenggaraan perdana di kawasan Asia Pasifik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sebagian orang, nama Hyrox mungkin masih terdengar asing. Namun, di komunitas kebugaran global, olahraga ini sedang mengalami pertumbuhan yang sulit diabaikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada <em>circle</em> komunitas kebugaran, media sosial ramai membicarakan Hyrox Jakarta 2026 setelah muncul klaim bahwa tiket acara tersebut habis terjual hanya dalam hitungan menit dan <em>waiting list</em> mencapai ribuan peserta. Terlepas dari fakta bahwa tiket masih tersedia dalam beberapa kategori, satu hal yang sulit dibantah adalah tingginya antusiasme terhadap <em>event</em> ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena tersebut menunjukkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar tren olahraga baru. Di balik popularitas Hyrox, terdapat sebuah ekosistem bisnis yang mulai berkembang dan membuka peluang baru bagi industri <em>event</em>, <em>venue</em>, hingga pariwisata olahraga.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Dari Jerman ke Seluruh Dunia</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hyrox lahir di Hamburg, Jerman, pada 2017. Konsepnya sederhana, tetapi menantang, yakni menggabungkan lari dan latihan fungsional dalam satu kompetisi yang memiliki format standar di seluruh dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Event</em> olahraga ini awalnya diciptakan oleh seorang penyelenggara acara olahraga berpengalaman, Christian Toetzke, bersama Moritz Fürste yang merupakan atlet hoki peraih medali emas Olimpiade.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peserta harus menyelesaikan delapan putaran lari sejauh satu kilometer yang diselingi delapan tantangan kebugaran, seperti SkiErg, <em>sled push, sled pull, rowing, burpee broad jumps, farmer&#8217;s carry, sandbag lunges</em>, hingga <em>wall balls</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan lomba lari tradisional atau kompetisi CrossFit yang sering kali berubah format, Hyrox menawarkan pengalaman yang konsisten. Seorang peserta di Jakarta akan menghadapi tantangan yang sama dengan peserta di London, New York, Sydney, atau Berlin. Standardisasi inilah yang menjadi salah satu kunci pesatnya pertumbuhan Hyrox.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah peserta globalnya meningkat tajam. Ratusan ribu atlet dari berbagai negara kini mengikuti rangkaian kompetisi Hyrox setiap tahun. Tidak sedikit pula peserta yang menjadikan <em>event</em> tersebut sebagai target olahraga tahunan layaknya maraton.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Ketika Olahraga Menjadi Industri</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dulu <em>event</em> olahraga identik dengan pertandingan profesional atau kejuaraan federasi, kini lanskapnya mulai berubah. Hyrox hadir di tengah tren yang berkembang dalam satu dekade terakhir di mana olahraga sebagai gaya hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena yang sama pernah terjadi pada lomba lari. Jakarta Marathon misalnya, bukan lagi sekadar kompetisi bagi pelari elite. <em>Event</em> yang kembali digelar pada 13-14 Juni 2026 itu telah berkembang menjadi magnet wisata olahraga yang mendatangkan ribuan peserta dari berbagai daerah, bahkan luar negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal serupa juga terlihat pada sektor olahraga air. Bali bulan ini menjadi tuan rumah dua ajang internasional sekaligus, yakni 12th Asian Open Water Swimming Championship 2026 pada 13–15 Juni di Jimbaran dan OCEANMAN Bali 2026 pada 19–21 Juni di Pantai Kedonganan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari lari, renang perairan terbuka, triathlon, hingga Hyrox, pola yang muncul semakin jelas: peserta tidak hanya membeli tiket kompetisi, tapi juga membeli pengalaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka membutuhkan hotel, transportasi, makanan, <em>merchandise</em>, perlengkapan olahraga, layanan kebugaran, hingga aktivitas wisata sebelum dan sesudah acara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah industri MICE mulai melihat peluang baru.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Venue Baru, Peluang Baru</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran Hyrox Jakarta di NICE PIK 2 juga menunjukkan bagaimana <em>venue</em> modern mulai mengincar pasar <em>sport event</em> yang selama ini didominasi stadion atau ruang terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan pameran atau konser, <em>event</em> seperti Hyrox membutuhkan kombinasi ruang <em>indoor</em> yang luas, area logistik yang kompleks, serta pengalaman peserta yang terintegrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi pengelola <em>venue</em>, segmen ini menawarkan keuntungan menarik. <em>Event</em> olahraga partisipatif umumnya memiliki durasi lebih panjang, melibatkan sponsor yang kuat, serta menghadirkan pengunjung yang tidak hanya datang menonton, tetapi juga berpartisipasi langsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam banyak kasus, peserta bahkan membawa keluarga atau komunitas mereka sehingga menciptakan pergerakan ekonomi yang lebih luas dibandingkan <em>event</em> olahraga konvensional.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Efek Domino untuk Industri Event</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, pertumbuhan Hyrox tidak hanya menguntungkan penyelenggara acara. Di berbagai negara, muncul bisnis-bisnis baru yang tumbuh mengikuti popularitas olahraga ini. Pusat kebugaran mulai membuka kelas khusus persiapan Hyrox. <em>Personal trainer</em> menawarkan program latihan spesifik. <em>Brand</em> perlengkapan olahraga menciptakan produk secara spesifik yang ditujukan untuk komunitas Hyrox.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, sejumlah agen perjalanan mulai menawarkan paket wisata yang dikombinasikan dengan partisipasi dalam kompetisi Hyrox di berbagai kota dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini mengingatkan pada awal perkembangan industri maraton beberapa tahun lalu. Ketika jumlah pelari meningkat, bisnis pendukung ikut berkembang, mulai dari <em>race organizer</em>, <em>apparel</em>, nutrisi olahraga, hingga <em>sport tourism</em>. Kini, pola yang sama mulai terlihat pada Hyrox.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Masa Depan Sport Tourism Indonesia</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Indonesia, kemunculan Hyrox Jakarta 2026 menjadi sinyal bahwa pasar <em>sport tourism</em> semakin matang. Selama ini pembahasan industri MICE sering berpusat pada konser musik, pameran dagang, atau konferensi internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, <em>event</em> olahraga partisipatif memiliki karakteristik yang tidak kalah menarik. Peserta biasanya merencanakan perjalanan jauh hari, menginap lebih lama, dan memiliki tingkat pengeluaran yang relatif tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran Jakarta Marathon, ajang triathlon, kejuaraan renang perairan terbuka di Bali, hingga Hyrox Jakarta menunjukkan bahwa Indonesia mulai masuk ke radar penyelenggara <em>event</em> olahraga global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi pemilik <em>venue</em>, <em>event organizer</em>, hotel, maskapai, hingga destinasi wisata, ini adalah peluang yang semakin sulit untuk diabaikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena pada akhirnya, yang dijual bukan hanya perlombaan atau kompetisi. Yang dijual adalah pengalaman, komunitas, dan gaya hidup. Dan seperti yang telah dibuktikan industri lari dalam satu dekade terakhir, ketika sebuah olahraga berhasil menjadi bagian dari gaya hidup, bisnis di sekitarnya akan ikut bertumbuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hyrox mungkin baru akan menjalani debutnya di Indonesia akhir Juni ini. Namun, bagi industri <em>event</em>, kedatangannya bisa menjadi pertanda bahwa pasar <em>sport event</em> premium di Tanah Air sedang memasuki babak baru.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://venuemagz.com/feature/dari-lari-ke-hyrox-sport-event-jadi-mesin-bisnis-baru-industri-mice/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">45303</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Piala Dunia 2026 Memicu Pertumbuhan Perjalanan Wisata Dunia</title>
		<link>https://venuemagz.com/feature/piala-dunia-2026-memicu-pertumbuhan-perjalanan-wisata-dunia/</link>
					<comments>https://venuemagz.com/feature/piala-dunia-2026-memicu-pertumbuhan-perjalanan-wisata-dunia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Harry]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2026 09:45:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://venuemagz.com/?p=45284</guid>

					<description><![CDATA[Perhelatan Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko (11 Juni – 19 Juli 2026) diperkirakan mendorong lonjakan perjalanan internasional ke Amerika Utara pada musim panas ini. Berdasarkan data pemesanan Trip.com menunjukkan pertumbuhan tahunan hampir 70% di 16 kota tuan rumah. Data ini menggambarkan dengan jelas ke mana wisatawan pergi, berapa lama [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Perhelatan Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko (11 Juni – 19 Juli 2026) diperkirakan mendorong lonjakan perjalanan internasional ke Amerika Utara pada musim panas ini. Berdasarkan data pemesanan Trip.com menunjukkan pertumbuhan tahunan hampir 70% di 16 kota tuan rumah. Data ini menggambarkan dengan jelas ke mana wisatawan pergi, berapa lama mereka menginap, dan jenis perjalanan apa yang mereka lakukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Permintaan Hampir Dua Kali Lipat pada Juni Dibandingkan Juli</strong><br>Selama babak Penyisihan Grup Piala Dunia 2026, total pemesanan internasional ke kota-kota tuan rumah naik hampir 70% secara tahunan. Kemudian, pada Babak Gugur, laju pertumbuhan itu turun menjadi sekitar 40%.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Babak Penyisihan Grup adalah momen yang wajib didatangi. Penggemar tidak menunggu untuk melihat bagaimana tim mereka tampil nanti di babak gugur. Mereka memesan lebih awal, dan sesuai jadwal pertandingan yang paling penting bagi mereka.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="600" height="300" src="https://venuemagz.com/wp-content/uploads/2026/06/Dampak-Piala-Dunia-2026-terhadap-pariwisata.jpg" alt="Dampak Piala Dunia 2026 terhadap pariwisata" class="wp-image-45285" srcset="https://venuemagz.com/wp-content/uploads/2026/06/Dampak-Piala-Dunia-2026-terhadap-pariwisata.jpg 600w, https://venuemagz.com/wp-content/uploads/2026/06/Dampak-Piala-Dunia-2026-terhadap-pariwisata-300x150.jpg 300w, https://venuemagz.com/wp-content/uploads/2026/06/Dampak-Piala-Dunia-2026-terhadap-pariwisata-150x75.jpg 150w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jepang Memimpin Dunia</strong><br>Para penggemar bola dari Jepang memesan penerbangan ke kota-kota tuan rumah dengan pertumbuhan +250% secara tahunan untuk Penyisihan Grup, lebih dari dua setengah kali volume tahun sebelumnya dan lebih dari dua kali laju pertumbuhan negara Eropa mana pun pada periode yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, untuk Babak Gugur, Jepang mencatat pertumbuhan lebih dari +100%.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertandingan Penyisihan Grup Jepang dijadwalkan di Dallas dan Monterrey, dan data pemesanan mencerminkan hal ini dengan tepat. Dallas adalah kota tuan rumah yang paling banyak dipesan warga Jepang untuk penerbangan pada Penyisihan Grup, sebuah kota yang hampir tidak tercatat pada peta wisata turis Jepang selama 12 bulan lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Babak Gugur tiba dan lokasi pertandingan bergeser, Los Angeles menjadi tujuan utama Jepang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah Jepang tidak berhenti pada pemesanan penerbangan. Turis Jepang juga paling berani dalam perencanaan rencana perjalanan. Lebih dari 30% turis Jepang selama Penyisihan Grup memesan lebih dari satu kota tuan rumah. Hampir 10% menyeberangi dua atau lebih negara tuan rumah selama Penyisihan Grup, yang disebabkan oleh jadwal pertandingan Jepang yang tersebar di seluruh Amerika Utara.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Meksiko Masuk Radar Wisatawan</strong><br>Kota-kota di Amerika Serikat dan Kanada dipastikan menarik banyak perhatian dari para turis. Sementara, kota di Meksiko seperti Guadalajara, Mexico City, dan Monterrey memiliki beberapa pemesanan yang menarik sepanjang turnamen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemesanan hotel di Monterrey naik lebih dari 40 kali lipat secara tahunan selama Penyisihan Grup. Guadalajara naik lebih dari 10 kali lipat. Mexico City naik lebih dari 150%. Ini bukan kenaikan kecil, tetapi merepresentasikan transformasi hampir total permintaan akomodasi internasional di kota-kota yang sebelumnya nyaris tidak masuk radar perjalanan wisata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendorongnya adalah penjadwalan pertandingan. Jadwal Jepang, Korea Selatan, dan Australia membawa penggemar hingga jauh ke dalam Meksiko.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dallas menceritakan kisah pelengkap dari sisi AS. Pemesanan hotel di Dallas naik lebih dari 1.400% selama Penyisihan Grup, didorong sebagian besar oleh permintaan dari Jepang dan Korea.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Aktivitas di Luar Sepak Bola</strong><br>Atraksi wisata yang paling banyak dipesan wisatawan adalah Universal Studios Hollywood, yang menempati peringkat teratas. Empire State Building, Rockefeller Center, dan American Museum of Natural History mendominasi pemesanan di New York, sementara turis Jepang menunjukkan minat kuat pada Broadway, dengan <em>Wicked</em> dan <em>Aladdin the Musical</em> sama-sama masuk dalam 10 atraksi teratas secara keseluruhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dari Liburan Singkat hingga Liburan Panjang</strong><br>Rata-rata durasi perjalanan sangat bervariasi menurut negara asal. Wisatawan Jepang melakukan perjalanan terpendek, rata-rata hanya 8 hari pada Penyisihan Grup dan 11 hari pada Babak Gugur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara, turis dari Spanyol mengambil waktu terlama, rata-rata 24 hari pada Penyisihan Grup dan 17 hari pada Juli.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Turis Australia rata-rata 23 hari pada Penyisihan Grup sebelum turun menjadi 18 hari pada Juli.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penggemar Prancis tetap konsisten di 18 hari di kedua periode.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Hotel Budget Dominan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sebagian besar negara, hotel bintang 3 dan 4 menyumbang sebagian besar pemesanan, dengan permintaan bintang 5 menunjukkan pertumbuhan satu digit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jepang adalah yang paling hemat, dengan lebih dari 61% pemesanan hotel Penyisihan Grup pada level bintang 3. Korea Selatan paling cenderung memilih kemewahan pada Penyisihan Grup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada Babak Gugur, permintaan hotel bintang 5 meningkat di hampir setiap pasar dibanding Penyisihan Grup. Prancis memimpin dengan peningkatan terbesar dalam pemesanan hotel bintang 5.</p>



<p class="wp-block-paragraph">New York mendominasi sebagai kota pilihan untuk pemesanan bintang 4 dan 5 di sebagian besar pasar pada kedua periode, mengukuhkan statusnya sebagai destinasi prestise turnamen.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://venuemagz.com/feature/piala-dunia-2026-memicu-pertumbuhan-perjalanan-wisata-dunia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">45284</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Indonesia Kebanjiran Turis Malaysia, Ada Alarm Ekonomi di Baliknya?</title>
		<link>https://venuemagz.com/feature/indonesia-kebanjiran-turis-malaysia-ada-alarm-ekonomi-di-baliknya/</link>
					<comments>https://venuemagz.com/feature/indonesia-kebanjiran-turis-malaysia-ada-alarm-ekonomi-di-baliknya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Murdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2026 06:01:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://venuemagz.com/?p=45165</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Venuemagz.com &#8211; Gelombang wisatawan Malaysia yang datang ke Indonesia belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak di antara mereka membagikan pengalaman berbelanja batik, parfum, produk fesyen lokal hingga menikmati hotel dan kuliner Indonesia dengan biaya yang menurut mereka jauh lebih murah dibandingkan di negara asalnya. Bagi sektor pariwisata, fenomena ini tentu terlihat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jakarta, Venuemagz.com</strong> &#8211; Gelombang wisatawan Malaysia yang datang ke Indonesia belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak di antara mereka membagikan pengalaman berbelanja batik, parfum, produk fesyen lokal hingga menikmati hotel dan kuliner Indonesia dengan biaya yang menurut mereka jauh lebih murah dibandingkan di negara asalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sektor pariwisata, fenomena ini tentu terlihat sebagai kabar baik. Semakin banyak wisatawan asing datang, semakin besar pula potensi devisa yang masuk ke dalam negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di balik ramainya kunjungan tersebut, ada pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia memang semakin menarik, atau justru semakin murah karena nilai tukar rupiah yang melemah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada jumpa pers yang digelar 2 Juni 2026, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada April 2026 mencapai 1,25 juta kunjungan, naik 7,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga April 2026 jumlah kunjungan wisman telah mencapai 4,68 juta kunjungan, tumbuh 8,24 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, Malaysia masih menjadi negara penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia. Pada April 2026, jumlah wisatawan asal Malaysia tercatat mencapai 207.960 kunjungan atau sekitar 16,65 persen dari total wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa Malaysia tetap menjadi salah satu tulang punggung pariwisata Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor kurs rupiah yang melemah menjadi pembahasan utama. Dengan nilai tukar yang sempat menyentuh kisaran Rp4.500 per ringgit Malaysia, RM500 kini setara dengan lebih dari Rp2,2 juta. Nilai yang bagi sebagian warga Malaysia mungkin hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari selama beberapa hari, di Indonesia bisa digunakan untuk menginap, berwisata, menikmati kuliner, hingga berbelanja oleh-oleh. Tak heran jika banyak wisatawan Malaysia menganggap Indonesia sebagai destinasi yang sangat terjangkau.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Ketika &#8220;Murah&#8221; Menjadi Pisau Bermata Dua</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sudut pandang industri pariwisata, pelemahan mata uang domestik memang sering kali membawa efek positif jangka pendek. Destinasi menjadi lebih kompetitif dibandingkan negara lain karena biaya yang harus dikeluarkan wisatawan asing menjadi lebih rendah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hotel lebih mudah terisi, restoran lebih ramai, pusat perbelanjaan mendapat tambahan pengunjung, dan destinasi wisata menikmati peningkatan aktivitas ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di sisi lain, rupiah yang melemah dampaknya merembet ke hampir seluruh aspek ekonomi. Misalnya, barang impor menjadi lebih mahal. Mulai dari perangkat elektronik, bahan baku industri, alat kesehatan, hingga kebutuhan produksi yang masih bergantung pada komponen luar negeri. Beban pembayaran utang dalam mata uang asing juga ikut meningkat ketika nilai tukar melemah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya, di saat wisatawan asing menikmati Indonesia yang terasa semakin murah, masyarakat Indonesia justru berpotensi menghadapi kenaikan biaya hidup akibat harga barang yang ikut terdorong naik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah negara tidak hanya diukur dari seberapa murah negara tersebut di mata wisatawan asing, melainkan juga dari seberapa kuat ekonominya mampu menjaga daya beli masyarakatnya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka ketika wisatawan Malaysia ramai-ramai mengatakan bahwa Indonesia sangat murah, mungkin pelaku pariwisata boleh tersenyum karena tingkat kunjungan meningkat. Namun, bagi pembuat kebijakan dan pelaku ekonomi, fenomena yang sama bisa dibaca sebagai sebuah alarm. Sebab, yang dirayakan wisatawan sebagai liburan murah, belum tentu merupakan kabar baik bagi kesehatan ekonomi dalam jangka panjang.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://venuemagz.com/feature/indonesia-kebanjiran-turis-malaysia-ada-alarm-ekonomi-di-baliknya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">45165</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bleisure Travel Tumbuh 17 Persen: Ketika Rapat Selesai, Petualangan Dimulai</title>
		<link>https://venuemagz.com/feature/bleisure-travel-tumbuh-17-persen-ketika-rapat-selesai-petualangan-dimulai/</link>
					<comments>https://venuemagz.com/feature/bleisure-travel-tumbuh-17-persen-ketika-rapat-selesai-petualangan-dimulai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Murdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2026 06:58:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Bleisure Travel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://venuemagz.com/?p=45100</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Venuemagz.com — Ada yang berubah dari cara profesional dunia bepergian. Mereka tidak lagi sekadar terbang, rapat, lalu pulang. Kini, perjalanan bisnis sering kali berakhir di restoran terbaik dengan makan malam, tur budaya singkat, atau sekadar duduk di tepi pantai sebelum penerbangan pulang. Fenomena itulah yang oleh industri perjalanan disebut bleisure travel,&#160; gabungan dari kata [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jakarta, Venuemagz.com</strong> — Ada yang berubah dari cara profesional dunia bepergian. Mereka tidak lagi sekadar terbang, rapat, lalu pulang. Kini, perjalanan bisnis sering kali berakhir di restoran terbaik dengan makan malam, tur budaya singkat, atau sekadar duduk di tepi pantai sebelum penerbangan pulang. Fenomena itulah yang oleh industri perjalanan disebut <em>bleisure travel</em>,&nbsp; gabungan dari kata <em>business</em> dan <em>leisure</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan sekadar tren sesaat, <em>bleisure</em> kini sudah menjadi segmen tersendiri dalam peta industri pariwisata global dan Indonesia.<strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Istilah <em>bleisure</em> pertama kali muncul dalam percakapan industri perjalanan sekitar awal 2000-an, tapi popularitasnya meledak setelah pandemi Covid-19. Ketika batas antara kantor dan rumah mulai kabur, batas antara perjalanan bisnis dan liburan pun ikut memudar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Definisinya sederhana: seorang profesional yang bepergian untuk urusan pekerjaan baik itu konferensi, pameran, rapat, ataupun <em>incentive trip,</em> memilih untuk memperpanjang masa tinggalnya di destinasi tersebut demi menikmati sisi <em>leisure</em>-nya. Bisa satu hari tambahan, bisa seminggu. Bisa sendiri, bisa mengajak keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang menjadikan <em>bleisure</em> menarik bukan sekadar definisinya, melainkan skala dan kecepatannya tumbuh di industri MICE ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Angka-Angka yang Tidak Bisa Diabaikan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Data dari Precedence Research menempatkan nilai pasar <em>bleisure travel</em> global di angka US$816 miliar pada 2025 dan diperkirakan menembus US$3,5 triliun pada 2034, dengan laju pertumbuhan tahunan (CAGR) sekitar 17,4 persen. Ini bukan pertumbuhan biasa. Ini percepatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Riset Navan dan Skift yang diterbitkan awal 2026 menemukan bahwa 55 persen pelancong bisnis global sudah melakukan setidaknya dua perjalanan <em>bleisure</em> sepanjang 2024. Lebih dari separuh, mereka menggunakan waktu luang di destinasi untuk menjelajahi area sekitar. Dan hampir 40 persen menyempatkan diri mengejar hobi pribadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Angka lain yang mencolok datang dari Global Business Travel Association (GBTA) menyebut 89 persen karyawan mengaku ingin menambahkan waktu <em>leisure</em> pada perjalanan bisnis berikutnya. Sementara survei IHG pada 2023 mencatat bahwa 42 persen pelancong bisnis asal Inggris sudah benar-benar melakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Asia-Pasifik gambarannya bahkan lebih dramatis. Laporan <em>Agoda 2026 Travel Outlook</em> menyebut 76 persen profesional di kawasan ini berencana memadukan perjalanan kerja dengan waktu <em>leisure</em>. Di Indonesia sendiri, angkanya terus mendaki meskipun budaya perjalanan bisnis di Tanah Air dinilai lebih konservatif dibanding negara-negara tetangga.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mengapa Sekarang?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan yang lebih menarik bukan seberapa besar <em>bleisure</em>, melainkan mengapa tren ini meledak justru sekarang? Jawabannya terletak pada pergeseran besar dalam cara manusia bekerja dan menghargai waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertama, era kerja fleksibel.</strong> Riset Crowne Plaza tahun 2025 menemukan bahwa 79 persen karyawan di Amerika Serikat dan Inggris bekerja di perusahaan yang mendukung model kerja jarak jauh atau hibrida. Ketika seseorang bisa bekerja dari mana saja, memperpanjang perjalanan bisnis tidak lagi berarti mengorbankan produktivitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Indonesia, pergeseran ini berjalan dengan dinamika yang khas. Pandemi Covid-19 menjadi katalisator pertama di mana perusahaan-perusahaan teknologi dan <em>startup</em> mulai mengadopsi WFA (<em>Work from Anywhere</em>) secara permanen, bukan sebagai respons darurat melainkan sebagai keputusan strategis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Flip, Stockbit, Bibit.id, Amartha, Ajaib, hingga Blibli adalah sebagian dari deretan nama yang secara resmi mengumumkan kebijakan WFA permanen sejak 2021–2022. Mereka tidak sekadar mengizinkan karyawan bekerja dari rumah, tetapi dari mana saja: Bali, Yogyakarta, Malang, kota-kota kecil, bahkan luar negeri, selama koneksi internet tersedia dan target terpenuhi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang menarik, pemerintah Indonesia sendiri kemudian mengikuti dan bahkan melegitimasi tren ini di level kebijakan nasional. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menerbitkan dua Surat Edaran WFA dalam rentang empat bulan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama pada Desember 2025 untuk periode libur Natal dan Tahun Baru, lalu pada Februari 2026 menjelang Idul Fitri yang mengimbau seluruh perusahaan swasta, BUMN, dan BUMD untuk memberi ruang kerja fleksibel bagi karyawan. Bahkan, pada Maret 2026, terbit Surat Edaran baru yang mendorong perusahaan menerapkan WFH satu hari per minggu secara reguler, kali ini dengan alasan efisiensi energi nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebijakan itu bukan sekadar formalitas. Ia mencerminkan pengakuan resmi bahwa model kerja fleksibel sudah cukup matang untuk dijadikan norma, bukan pengecualian. Dan ketika norma itu bergeser, kebiasaan bepergian pun ikut berubah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karyawan yang tidak harus duduk di meja kantor pada Senin pagi memiliki alasan lebih kuat untuk menambah satu atau dua hari di kota tujuan konferensi mereka. <em>Bleisure</em>, dalam konteks ini, bukan sekadar kemewahan, ia menjadi perpanjangan logis dari cara kerja baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kedua, generasi baru mendominasi angkatan kerja.</strong> Milenial dan Generasi Z kini menjadi kelompok pelancong bisnis terbesar. Bagi mereka, perjalanan bukan sekadar kewajiban kerja, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Survei demi survei konsisten menunjukkan bahwa kedua generasi ini memprioritaskan pengalaman di atas materi, dan <em>bleisure</em> menjadi titik temu sempurna antara tuntutan kerja dan kebutuhan eksplorasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga, perusahaan mulai melihat <em>bleisure</em> sebagai investasi, bukan pemborosan.</strong> Ketika 73 persen karyawan, menurut data yang dikompilasi Navan, menganggap kebijakan <em>bleisure</em> sebagai faktor penting dalam memilih tempat kerja, perusahaan yang mendukung tren ini secara tidak langsung berinvestasi pada loyalitas dan kepuasan tim mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bleisure dan MICE: Dua Dunia yang Kini Satu</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi industri MICE, <em>bleisure</em> bukan sekadar tren perjalanan individual. Ia adalah peluang strategis yang mengubah cara pameran, konferensi, dan <em>incentive trip</em> dirancang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">IBTM World, salah satu platform paling berpengaruh dalam industri <em>business events</em> global, secara eksplisit menyebut <em>bleisure</em> sebagai tren yang wajib diadopsi oleh penyelenggara MICE. Dalam <em>2025 World Trends Report</em>-nya, IBTM mencatat meningkatnya keinginan peserta <em>event</em> untuk berinteraksi lebih dalam dengan destinasi, bukan hanya duduk di <em>ballroom</em> hotel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peserta konferensi kini datang dengan ekspektasi berbeda. Mereka ingin agenda yang menyisakan ruang untuk <em>city tour</em>, wisata kuliner, sesi <em>wellness</em>, atau pengalaman budaya lokal. <em>Event</em> yang mampu menjawab ekspektasi ini tidak hanya lebih berkesan, tapi juga lebih mudah menarik peserta internasional yang harus mempertimbangkan apakah biaya perjalanan jauh sebanding dengan pengalaman yang didapat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kenyataan ini sudah mulai tecermin dalam desain <em>event</em> MICE modern. Konferensi yang dulu berakhir dengan <em>gala dinner</em> formal kini sering kali diakhiri dengan program <em>post-event</em> ke destinasi wisata sekitar. <em>Pre-conference tour</em> menjadi elemen standar. Bahkan, struktur jadwal pun mulai disesuaikan agar peserta punya waktu bebas yang cukup untuk menjelajah.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Indonesia di Persimpangan Peluang</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia sedang berada di posisi yang sangat strategis dalam peta <em>bleisure</em> global. Di satu sisi, industri MICE nasional diproyeksikan tumbuh hingga 15 persen pada 2026, jadi salah satu angka tertinggi di kawasan. Di sisi lain, pemerintah menargetkan 1,5 juta wisatawan MICE internasional, dan lebih dari 50 pusat konvensi berstandar internasional tersebar di seluruh kepulauan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Modal itu besar. Tapi tantangannya juga nyata, bagaimana mengubah peserta <em>event</em> yang datang untuk rapat menjadi wisatawan yang tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang mereka?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bali sudah membuktikan bahwa formula ini bisa berhasil. Dinobatkan sebagai destinasi <em>incentive travel</em> nomor satu di Asia Tenggara, Bali telah lama memahami bahwa peserta <em>event</em> yang pulang dengan kenangan liburan indah adalah aset promosi paling efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hotel-hotel besar di Jimbaran, Nusa Dua, dan Ubud kini berlomba membangun fasilitas yang mengakomodasi kebutuhan <em>bleisure</em>, di mana ruang konferensi berdampingan dengan spa, kolam renang, dan akses langsung ke atraksi alam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mövenpick Resort &amp; Spa Jimbaran Bali misalnya, dijadwalkan meresmikan The Suwarga Garden pada Juli 2026, <em>venue</em> <em>outdoor</em> multifungsi berkapasitas 1.250 tamu yang dirancang sekaligus sebagai ruang event dan <em>lifestyle space</em>. Ini bukan kebetulan. Ini adalah respons langsung terhadap permintaan pasar <em>bleisure</em> yang terus membesar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yogyakarta, Denpasar, dan Bandung juga berkembang sebagai <em>workation hub</em> dengan ekosistem <em>coworking space</em> dan resor yang ramah bagi pekerja jarak jauh. Di Jakarta, agenda MICE mulai diintegrasikan dengan tur kota, wisata kuliner, dan sesi <em>wellness</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dampaknya bukan hanya pada kepuasan peserta, tapi juga perpanjangan <em>length of stay</em>, metrik krusial yang langsung berdampak pada pendapatan hotel, restoran, dan ekonomi lokal secara keseluruhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelajaran pahit dari studi LPEM-FEB UI yang membandingkan dampak ekonomi konser Coldplay di Jakarta dan Singapura masih relevan di sini. Indonesia unggul dalam skala penonton, tapi Singapura jauh lebih efisien mengonversi setiap kursi yang terisi menjadi nilai ekonomi. Kuncinya integrasi yang kuat antara <em>event</em>, pariwisata, dan mobilitas. Persis itulah yang ditawarkan <em>bleisure</em> jika dikelola dengan benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>IBEM 2026: Sinyal Resmi dari Industri</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bahwa <em>bleisure</em> kini dianggap serius oleh industri MICE Indonesia bisa dibaca dari satu penanda konkret, topik ini menjadi salah satu agenda utama IBEM (Indonesia Business Event Mart) 2026, sebuah platform <em>business events</em> pertama yang digagas bersama oleh Kementerian Pariwisata RI, E&amp;C Productions, dan TTG Events.</p>



<p class="wp-block-paragraph">IBEM akan berlangsung bersamaan dengan Southeast Asia Business Events Forum (SEABEF) pada 28–31 Juli 2026 di Jakarta International Convention Centre, mengumpulkan sekitar 250 <em>buyer</em> dan 200 <em>seller</em> dari seluruh kawasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang menarik, panitia IBEM sendiri sudah merancang program <em>post-show island-hopping</em> bagi <em>hosted buyer</em> dan media mengunjungi Pulau Onrust dan Pulau Macan di perairan Jakarta. Program ini bukan sekadar pemanis agenda. Ia adalah demonstrasi langsung dari filosofi <em>bleisure</em>, bahwa <em>event</em> bisnis dan eksplorasi destinasi bisa, dan seharusnya, berjalan berdampingan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Apa Artinya Bagi Event Planner?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi para <em>event organizer</em> dan <em>venue manager</em> di Indonesia, <em>bleisure</em> membawa implikasi praktis yang tidak bisa diabaikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, desain program harus berubah. Agenda yang padat dari pagi hingga malam hari, tanpa ruang bernapas, akan semakin sulit menarik peserta internasional. Menyisakan setengah hari atau satu hari penuh untuk eksplorasi mandiri bukan tanda program yang kurang serius, tapi bisa jadi justru sebaliknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, pilihan <em>venue</em> menjadi lebih strategis. Hotel atau <em>venue</em> yang berdiri di kawasan wisata, dekat dengan atraksi budaya atau alam, akan punya keunggulan kompetitif nyata. <em>Venue</em> yang bisa menawarkan paket konferensi sekaligus program <em>leisure</em> terkurasi akan lebih mudah memenangkan tender.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. <em>Event planner</em> yang berhasil di era <em>bleisure</em> adalah mereka yang bisa membangun ekosistem, menghubungkan penyelenggara <em>event</em> dengan pemandu wisata lokal, restoran autentik, operator <em>wellness</em>, dan pemerintah daerah yang aktif mempromosikan destinasinya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Lebih dari Sekadar Tren</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bleisure travel</em> bukan kilatan tren yang akan pudar begitu musim berganti. Ia adalah cerminan dari perubahan mendasar dalam cara manusia modern mendefinisikan ulang hubungan antara kerja, perjalanan, dan kehidupan itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Indonesia dengan 17.000 pulau, ratusan budaya, dan ekosistem alam yang tak tertandingi, ini adalah undangan sekaligus tantangan. Undangan untuk menjadi destinasi di mana setiap konferensi berakhir dengan cerita yang layak dibawa pulang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tantangan untuk memastikan infrastruktur, kebijakan, dan kreativitas industri <em>event</em>-nya cukup kuat untuk mengonversi setiap peserta rapat menjadi wisatawan yang jatuh cinta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang sudah pasti, mereka yang lebih cepat memahami pergeseran ini akan lebih siap merebut pasar yang sedang tumbuh dengan laju 17 persen per tahun itu.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://venuemagz.com/feature/bleisure-travel-tumbuh-17-persen-ketika-rapat-selesai-petualangan-dimulai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">45100</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Destinasi Long Weekend Idul Adha 2026, Momentum Ideal untuk Incentive Trip dan Small-Scale MICE</title>
		<link>https://venuemagz.com/feature/destinasi-long-weekend-idul-adha-2026-momentum-ideal-untuk-incentive-trip-dan-small-scale-mice/</link>
					<comments>https://venuemagz.com/feature/destinasi-long-weekend-idul-adha-2026-momentum-ideal-untuk-incentive-trip-dan-small-scale-mice/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Murdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 May 2026 10:08:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi Long Weekend]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://venuemagz.com/?p=45070</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Venuemagz.com &#8211; Pekan ini jadi salah satu momen long weekend yang paling dinanti pelaku pariwisata dan industri MICE. Pemerintah telah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, yang kemudian disambung dengan cuti bersama pada Kamis, 28 Mei 2026. Karena tahun ini Idul Adha berada di tengah pekan, banyak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jakarta, Venuemagz.com</strong> &#8211; Pekan ini jadi salah satu momen <em>long weekend</em> yang paling dinanti pelaku pariwisata dan industri MICE. Pemerintah telah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, yang kemudian disambung dengan cuti bersama pada Kamis, 28 Mei 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena tahun ini Idul Adha berada di tengah pekan, banyak pekerja dan perusahaan mulai mengambil strategi tambahan cuti pada Jumat, 29 Mei 2026, untuk menciptakan libur panjang hingga akhir pekan. Artinya, masyarakat berpotensi menikmati jeda libur mulai Rabu, 27 Mei 2026, hingga Minggu, 31 Mei 2026, bahkan hingga Senin, 1 Juni 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Skema ini membuat banyak pelaku industri melihat momentum Idul Adha tahun ini bukan hanya sebagai musim liburan keluarga, tetapi juga peluang untuk menggelar <em>incentive trip</em> dan <em>small-scale</em> MICE yang lebih fleksibel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat perusahaan, komunitas, hingga <em>brand</em>, <em>long weekend</em> seperti ini dianggap ideal untuk <em>employee gathering, rewarding trip, leadership retreat</em>, sampai mini <em>corporate meeting</em> yang dipadukan dengan <em>leisure experience</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Durasinya cukup panjang untuk membuat agenda <em>meaningful</em>, tetapi tidak terlalu lama hingga mengganggu operasional kerja setelah liburan selesai.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Small-Scale MICE Jadi Tren Baru Saat Long Weekend</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa tahun terakhir, tren MICE mulai bergeser ke format yang lebih kecil dan personal. Tidak semua perusahaan lagi mengejar acara besar di <em>ballroom</em> dengan ratusan peserta. Banyak yang justru memilih konsep <em>intimate gathering</em> dengan 20–100 peserta karena lebih efektif membangun <em>engagement</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Formatnya bisa seperti <em>incentive travel</em> untuk <em>top performer</em>, <em>executive retreat</em>, workshop kreatif, <em>community gathering, wellness corporate trip</em>, hingga <em>strategic meeting</em> informal mulai mendominasi agenda <em>long weekend</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi sekarang konsep <em>bleisure</em> atau gabungan <em>business</em> dan <em>leisure</em> semakin populer. Peserta <em>meeting</em> tidak hanya ingin duduk di ruang konferensi, tetapi juga mencari pengalaman yang <em>memorable</em> selama perjalanan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi masalahnya, destinasi populer sudah mulai kewalahan. Saat <em>long weekend</em> seperti Idul Adha, kota-kota favorit seperti Bali, Bandung, Yogyakarta, hingga Labuan Bajo biasanya mengalami lonjakan okupansi hotel dan kepadatan <em>venue</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak <em>meeting room</em>, resor, restoran, hingga aktivitas wisata sudah penuh jauh sebelum hari-H. Karena itu, pelaku MICE kini mulai melirik destinasi alternatif yang lebih siap menerima <em>small-scale incentive </em>dengan pengalaman yang tetap premium.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><em>Nah</em>, dalam artikel kali ini tim Venuemagz coba merangkum destinasi-destinasi paling <em>proper</em> untuk <em>incentive trip long weekend</em> Idul Adha 2026.</h2>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Bali Tetap Favorit, Tapi Area Alternatif Mulai Diburu</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Bali masih menjadi destinasi utama untuk <em>incentive travel</em> karena infrastruktur MICE-nya paling matang di Indonesia. Namun, saat <em>peak season long weekend</em>, area seperti Seminyak, Canggu, dan Ubud biasanya terlalu padat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak <em>planner</em> kini mulai mengalihkan kegiatan ke Nusa Dua, Sanur, Jimbaran, hingga Bali Utara yang terbilang tidak seramai yang menjadi favorit wisatawan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nusa Dua tetap unggul untuk <em>corporate incentive</em> karena memiliki kawasan <em>venue</em> terintegrasi, hotel besar, akses transportasi yang lebih rapi, dan suasana yang lebih eksklusif.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Batam dan Bintan Jadi Opsi Efisien</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk <em>short incentive</em> 3 hari 2 malam, Batam dan Bintan menjadi pilihan yang semakin populer dengan keunggulan-keunggulan seperti akses cepat dari Jakarta dan Singapura, pilihan resor lengkap, banyak aktivitas <em>outdoor</em>, dan yang paling penting, biaya relatif lebih efisien dibanding Bali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terutama adalah Bintan, cocok untuk <em>gathering</em> berbasis <em>resort experience</em> dengan konsep santai namun tetap premium.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Yogyakarta Cocok untuk Cultural Incentive</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Jogja masih kuat sebagai destinasi <em>incentive</em> berbasis budaya dan pengalaman lokal. Konsep yang sering diterapkan misalnya <em>gala dinner</em> di <em>venue heritage</em>, workshop batik, jip Merapi seperti agenda wajib, kemudian <em>private cultural performance</em>, dan pastinya <em>gathering</em> di desa wisata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu semua tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi perusahaan yang ingin menghadirkan pengalaman berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, karena <em>long weekend</em> biasanya membuat okupansi hotel melonjak, kawasan alternatif seperti Sleman dan Kaliurang mulai banyak dipilih karena lebih tenang.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Labuan Bajo untuk Rewarding Trip Premium</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi perusahaan yang ingin memberikan pengalaman eksklusif untuk <em>top performer</em> atau mitra bisnis, Labuan Bajo tetap sulit ditandingi. Pilihan aktivitasnya seperti <em>private sailing, live on board</em>, <em>sunset dinner, </em>dan <em>island hopping</em> menjadi paket <em>incentive</em> premium yang sangat diminati khas wisata bahari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski begitu, kapasitas <em>venue</em> dan logistik masih terbatas sehingga lebih cocok untuk <em>small-scale incentive</em> dengan jumlah peserta terbatas.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Lampung Mulai Dilirik Sebagai Corporate Escape</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Ini yang paling baru, Lampung juga mulai menarik perhatian pelaku MICE, terutama karena aksesnya semakin mudah dari Jakarta lewat jalan tol Trans Sumatera dan jalur feri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kawasan seperti Kalianda, Pesawaran, Pahawang, dan Teluk Kiluan mulai menawarkan konsep <em>gathering</em> berbasis alam dan pantai yang cocok untuk <em>long weekend</em> singkat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa resor di Lampung kini juga mulai aktif menyediakan paket <em>outing corporate, meeting outdoor</em>, hingga <em>incentive trip</em> dengan konsep lebih santai dan dekat dengan alam.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Tantangan Utama Ada di Slot Venue</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Karena <em>long weekend</em> juga diburu wisatawan umum, tantangan terbesar <em>incentive trip</em> ada di ketersediaan <em>venue</em> dan hotel. Banyak properti kini menerapkan minimum <em>stay</em> dan biasanya kenaikan harga <em>high season</em> gila-gilaan. Atau yang paling sering terjadi juga adanya pembatasan slot <em>group booking</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu semua, fleksibilitas menjadi sangat penting. <em>Small-scale</em> MICE justru lebih diuntungkan karena lebih mudah mencari <em>hidden venue</em> atau <em>boutique resort</em> yang belum terlalu <em>crowded</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Long weekend</em> Idul Adha 2026 menjadi gambaran bagaimana industri MICE mulai berubah. Bukan lagi soal acara besar dan formal, tetapi bagaimana menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih personal, efektif, dan tetap <em>enjoyable</em> di tengah waktu libur yang singkat.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://venuemagz.com/feature/destinasi-long-weekend-idul-adha-2026-momentum-ideal-untuk-incentive-trip-dan-small-scale-mice/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">45070</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Memaksimalkan Konser Musik Global Sebagai Penggerak Pariwisata dan MICE</title>
		<link>https://venuemagz.com/feature/memaksimalkan-konser-musik-global-sebagai-penggerak-pariwisata-dan-mice/</link>
					<comments>https://venuemagz.com/feature/memaksimalkan-konser-musik-global-sebagai-penggerak-pariwisata-dan-mice/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Harry]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 May 2026 08:46:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Coldplay]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://venuemagz.com/?p=44909</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Venuemagz.com — Konser musik bukan sekadar pesta, melainkan mesin penggerak pariwisata dan MICE yang menghasilkan efek berlapis ke hotel, transportasi, ritel, hingga layanan pendukung acara. Studi terbaru dari LPEM-FEB UI (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia) yang berjudul “Competing for Global Entertainment Events: The Economic Impact of Coldplay and [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jakarta, Venuemagz.com</strong> — Konser musik bukan sekadar pesta, melainkan mesin penggerak pariwisata dan MICE yang menghasilkan efek berlapis ke hotel, transportasi, ritel, hingga layanan pendukung acara. Studi terbaru dari LPEM-FEB UI (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia) yang berjudul “<em>Competing for Global Entertainment Events: The Economic Impact of Coldplay and Taylor Swift Concerts in Indonesia and Singapore</em>” menunjukkan bahwa Indonesia masih kalah tajam dari Singapura dalam mengubah kerumunan penonton menjadi nilai ekonomi per orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbandingan itu muncul dalam <em>working paper</em> LPEM-FEB UI nomor 091 terbit Maret 2026, yang mengkaji dampak ekonomi konser Coldplay di Indonesia dan Singapura, serta konser Taylor Swift di Singapura, dengan pendekatan input-output. Temuannya tegas: Indonesia unggul di skala penonton, tetapi Singapura lebih efisien dalam memonetisasi setiap kursi yang terisi lewat integrasi yang kuat antara <em>event</em>, pariwisata, dan mobilitas internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konser Coldplay di Gelora Bung Karno Jakarta pada November 2023 dihadiri sekitar 78.500 orang. Dari konser tersebut diperkirakan menghasilkan stimulus ekonomi langsung sekitar US$30,10 juta dan total output ekonomi US$53,34 juta, dengan nilai tambah US$26,94 juta, pendapatan rumah tangga US$9,50 juta, serta membuka 4.498 pekerjaan. Angka ini besar, tetapi dampaknya masih didominasi penjualan tiket dan belanja penonton domestik, bukan belanja wisatawan luar daerah atau mancanegara.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kenapa Singapura lebih Efektif</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Singapura, konser Coldplay yang digelar enam hari memunculkan stimulus langsung sekitar US$189,17 juta dan output ekonomi US$308,99 juta. Yang lebih penting, output per penonton mencapai sekitar US$1.030, jauh di atas Jakarta yang sekitar US$680 per orang, karena porsi wisatawan luar negeri, lama tinggal yang lebih panjang, dan belanja transportasi serta akomodasi jauh lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Taylor Swift bahkan mempertegas model Singapura sebagai destinasi <em>event</em> kelas premium. Enam konser “Eras Tour” di sana menghasilkan stimulus langsung sekitar US$267,15 juta, output ekonomi US$434,73 juta, nilai tambah US$235,73 juta, dan pendapatan rumah tangga US$186,54 juta, dengan output per penonton sekitar US$1.449 pada hitungan satu hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sektor pariwisata, ini menunjukkan bahwa sebuah konser besar hanya akan berdampak maksimal jika dikemas sebagai paket perjalanan, bukan acara berdiri sendiri. Di Singapura, belanja terbesar justru datang dari tiket pesawat internasional, hotel, makanan, dan transportasi lokal sehingga sebuah <em>event</em> berubah menjadi&nbsp;<em>tourism shock</em>&nbsp;yang menyebar ke banyak subsektor.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pelajaran untuk Indonesia</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Studi itu menunjukkan Indonesia sebenarnya punya modal pasar yang besar. Konser Coldplay di Jakarta memperlihatkan kekuatan skala, karena satu acara sehari saja bisa menghasilkan output ekonomi yang nyaris setara dengan satu hari Coldplay di Singapura, yakni sekitar US$53,34 juta di Jakarta versus US$51,50 juta di Singapura dalam hitungan satu hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masalahnya, Indonesia belum optimal mengubah tingginya minat menjadi nilai tambah yang lebih dalam. Peneliti menyoroti hambatan seperti sistem tiket yang terfragmentasi, <em>scalping</em>, biaya perizinan, dan keterbatasan infrastruktur yang membuat efek ekonomi bocor sebelum masuk ke ekosistem lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sektor MICE, ini berarti peluang Indonesia bukan hanya menjadi tuan rumah konser, tetapi juga pusat <em>event</em> berdaya saing regional. Namun, untuk mencapai itu, sebuah <em>event</em> harus didukung dengan transportasi yang mulus, hotel yang siap, regulasi yang pasti, dan promosi destinasi yang menyatu dengan kalender acara.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dampak ke Hotel dan Transportasi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan data dalam penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sektor akomodasi, transportasi udara, transportasi lokal, dan layanan makanan menjadi pemenang utama ketika <em>event</em> berskala besar dibarengi penonton luar daerah dan internasional. Pada kasus Taylor Swift di Singapura, transportasi udara menyumbang lebih dari US$103 juta dalam stimulus langsung, sementara akomodasi mencapai hampir US$43 juta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya, semakin banyak penonton datang dari luar kota atau luar negeri, makin besar efek gandanya ke sektor pariwisata. Ini mengubah konser dari sekadar konsumsi budaya menjadi alat promosi destinasi yang menguntungkan hotel, maskapai, restoran, pusat belanja, hingga pemerintah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Jakarta, dampak turunan memang ada, termasuk pada akomodasi dan transportasi antar-wilayah, tetapi masih terbatas karena sebagian besar penonton adalah pasar domestik. Akibatnya, konser besar lebih banyak menghasilkan lonjakan sesaat daripada peningkatan belanja wisatawan yang berulang dan terintegrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Arah Kebijakan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Penelitian ini memberi sinyal keras bahwa Indonesia perlu beralih dari pendekatan “datang, tampil, selesai” ke pendekatan ekosistem <em>event</em>. Pemerintah, promotor, maskapai, hotel, dan pelaku ekonomi lokal perlu disambungkan dalam satu strategi agar konser internasional menghasilkan lama tinggal lebih panjang dan pengeluaran wisatawan lebih tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi pemerintah daerah dan pusat, tugasnya bukan sekadar mengurus izin panggung dan pengamanan massa. Yang lebih penting ialah memastikan <em>event</em> masuk ke agenda pariwisata, memudahkan mobilitas, memperkuat akses internasional, dan menyiapkan kota agar penonton tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga untuk membelanjakan uangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, Indonesia belum kekurangan penonton. Yang masih tertinggal adalah kemampuan mengubah antusiasme itu menjadi pendapatan, pekerjaan, dan nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi lokal.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://venuemagz.com/feature/memaksimalkan-konser-musik-global-sebagai-penggerak-pariwisata-dan-mice/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">44909</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Satu Dekade IPOS: Dari Forum Kecil ke Simpul Strategis Industri Event Indonesia</title>
		<link>https://venuemagz.com/feature/satu-dekade-ipos-dari-forum-kecil-ke-simpul-strategis-industri-event-indonesia/</link>
					<comments>https://venuemagz.com/feature/satu-dekade-ipos-dari-forum-kecil-ke-simpul-strategis-industri-event-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Murdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 07:13:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[IPOS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://venuemagz.com/?p=44654</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Venuemagz.com — Di tengah dinamika industri event dan MICE yang terus bergerak, Indonesia Professional Organizer Summit (IPOS) bukan sekadar forum tahunan. Ia adalah jejak panjang evolusi ekosistem, ruang temu antara ide, bisnis, dan kebijakan yang hari ini, 28–29 April 2026, genap memasuki edisi ke-10 yang terselenggara di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jakarta, Venuemagz.com</strong> — Di tengah dinamika industri <em>event</em> dan MICE yang terus bergerak, Indonesia Professional Organizer Summit (IPOS) bukan sekadar forum tahunan. Ia adalah jejak panjang evolusi ekosistem, ruang temu antara ide, bisnis, dan kebijakan yang hari ini, 28–29 April 2026, genap memasuki edisi ke-10 yang terselenggara di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengusung tema <em>“Decade of Impact”</em>, IPOS-X bukan hanya perayaan. Ini adalah penanda bahwa industri yang dulu berjalan sporadis, kini punya arah, jejaring, dan yang tak kalah penting adalah sejarah yang layak dicatat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“IPOS ke-10 menjadi catatan tersendiri buat kami karena perjalanan ke-10 itu episodenya, tapi perjalanan IPOS sebetulnya sudah yang ke-13 tahun, karena ada pandemi dan lain sebagainya, jadi ada tahun-tahun yang kita tidak buat <em>event</em>-nya,” ujar Harry Dwi Nugraha, Pendiri IPOS.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan menariknya, jika ditarik ke belakang, benang merah IPOS tak bisa dilepaskan dari satu entitas penting, yakni majalah <em>VENUE</em>.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Dari Meja Redaksi ke Panggung Industri</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">IPOS Volume 1 lahir pada 5 Desember 2013. Saat itu, ia bukan <em>event</em> besar seperti sekarang. IPOS hadir sebagai platform B2B dalam forum Indonesia MICE Outlook edisi ke-6 yang dikelola oleh majalah <em>VENUE</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik ini, peran media bukan sekadar peliput. <em>VENUE</em> justru menjadi katalis yang menginisiasi ruang dialog yang mempertemukan pelaku industri dalam format yang lebih terstruktur dan berorientasi bisnis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setahun berselang, IPOS Volume 2 (2014) mulai mencuri perhatian. Format B2B yang diusung terasa “baru” untuk industri <em>event</em> Indonesia saat itu. Tak berhenti di situ, pendekatan ini bahkan diperluas ke level regional lewat Jawa Tengah Meeting Industry Forum 2014.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di fase awal ini satu hal mulai terlihat jelas. IPOS bukan sekadar forum, tapi model interaksi baru dalam industri MICE.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Bertumbuh, Berpisah, dan Meluas</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Tahun 2015 menjadi fase transisi. Kolaborasi antara IPOS dan majalah <em>VENUE</em> berakhir, namun platform ini tidak ikut berhenti. IPOS Volume 3 tetap berjalan dan disinergikan dengan Banten MICE Forum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru setelah itu, IPOS masuk ke fase ekspansi. Pada 2016, IPOS menembus panggung internasional. Untuk pertama kalinya, Kementerian Pariwisata RI memberikan kepercayaan kepada IPOS untuk terlibat dalam pengayaan konten <em>sales mission</em> di Hanoi dan Ho Chi Minh City. Dari sini, langkahnya meluas ke berbagai kota: Sabah, Singapura, Penang, Danang, Johor Bahru, Kota Kinabalu, hingga Kuala Lumpur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan cuma <em>outbound</em>. Di tahun yang sama, platform IPOS juga dipakai untuk <em>fam trip</em> ke Jakarta dan Bali—sekaligus menjadi embrio lahirnya forum internasional dengan pendekatan khas IPOS.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Tahun-Tahun Agresif: Inovasi dan Segmentasi</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Memasuki 2017, IPOS Volume 4 hadir dengan gagasan besar “MICEtropolis”, yakni sebuah konsep yang mencoba menempatkan industri MICE sebagai bagian dari ekosistem kota.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tahun yang sama, IPOS menginisiasi <em>Meet at Bandung</em> (forum regional), meluncurkan forum B2B khusus pelaku usaha perempuan (ICM-ITM), dan memperluas <em>sales mission</em> ke berbagai negara Asia Tenggara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Momentum ini berlanjut di 2018 lewat IPOS Forum 5, yang ikut memfasilitasi lahirnya Dewan Industri Event Indonesia (IVENDO<strong>)</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kolaborasi internasional pun makin intens, termasuk <em>Meet at Malaysia</em> di Kuala Lumpur hingga kegiatan di Jepang.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Validasi Negara dan Ekspansi Sektor</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">IPOS Forum 6 pada tahun 2019 menjadi tonggak penting. Untuk pertama kalinya, forum ini mendapat perhatian langsung dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Wishnutama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengakuan ini bukan simbolik. Ia menegaskan bahwa IPOS telah naik kelas dari inisiatif komunitas menjadi bagian dari percakapan strategis nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tahun yang sama, IPOS juga masuk ke kawasan industri lewat <em>Meet at Jababeka</em>, membuka peluang baru bagi integrasi MICE dengan sektor industri.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Bertahan di Tengah Pandemi</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Tahun 2020 menguji semua lini industri <em>event</em>. Namun, IPOS tidak berhenti berinovasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka menghadirkan:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Indonesia Wedding Business Summit, forum B2B pertama untuk industri pernikahan,</li>



<li>Serta IPOS Baku Sapa, platform digital yang menjadi salah satu pionir forum B2B online di Indonesia saat pandemi.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Meski kegiatan fisik sempat terhenti (terutama di 2022, akibat pandemi dan padatnya agenda G20), platform IPOS tetap hidup. Ia digunakan Kemenparekraf untuk berbagai program, mulai dari <em>sales mission</em> hingga pengembangan desa wisata di Jawa Barat dan DI Yogyakarta.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Kembali Offline dan Menjawab Tren</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">IPOS Forum 8 di tahun 2023 menandai kembalinya aktivitas offline lewat tema <em>Baku Dapan</em>, yang fokus pada kesiapan SDM dan <em>link and match</em> industri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setahun kemudian, IPOS Forum 9 (2024) mengangkat isu yang lebih global, <em>sustainability</em>. Lewat tema <em>Green Gathering</em>, IPOS bersama IVENDO mendorong lahirnya inisiatif Green EO, sejalan dengan tuntutan industri <em>event</em> dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di fase ini, IPOS tidak lagi sekadar mengikuti tren, ia mulai ikut membentuknya.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Sempat Terhenti, Lalu Bangkit di Tahun ke-10</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Tahun 2025, IPOS tidak diselenggarakan. Bukan karena kehilangan relevansi, tapi karena realitas: efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak luas pada berbagai sektor, termasuk <em>event</em>. Namun, 2026 menjadi titik balik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pertama kalinya, IPOS digelar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, rumah besar Kementerian Pariwisata. Sebuah simbol kuat bahwa industri ini kini berada dalam orbit kebijakan nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan tajuk <em>“Decade of Impact”</em>, IPOS-X bukan hanya merayakan usia. Ia merayakan perjalanan panjang—dari forum kecil yang lahir dari inisiatif media, menjadi platform strategis yang memmengaruhi arah industri MICE Indonesia.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Lebih dari Sekadar Event</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat perjalanan ini ada satu hal yang sulit dibantah, IPOS adalah bukti bahwa industri <em>event</em> Indonesia tidak tumbuh secara kebetulan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia dibentuk oleh kolaborasi antara media seperti majalah <em>VENUE</em>, komunitas pelaku industri, hingga pemerintah. Setiap fase punya perannya sendiri, dan setiap kolaborasi meninggalkan jejak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apa itu IPOS”, tapi “ke mana IPOS akan membawa industri ini berikutnya?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika satu dekade pertama adalah soal membangun fondasi, dekade berikutnya adalah soal memperluas dampak lebih global, lebih terukur, dan lebih berani. Dan seperti sejak awal, jawabannya kemungkinan besar akan tetap lahir dari satu hal yang sama, ruang temu yang bernama IPOS<strong>.</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://venuemagz.com/feature/satu-dekade-ipos-dari-forum-kecil-ke-simpul-strategis-industri-event-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">44654</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mau Bikin Event di Museum atau Candi? Kesempatan Terbuka Komunitas Bisa Ikut Masuk</title>
		<link>https://venuemagz.com/feature/mau-bikin-event-di-museum-atau-candi-kesempatan-terbuka-komunitas-bisa-ikut-masuk/</link>
					<comments>https://venuemagz.com/feature/mau-bikin-event-di-museum-atau-candi-kesempatan-terbuka-komunitas-bisa-ikut-masuk/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Murdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 10:02:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://venuemagz.com/?p=44651</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Venuemagz.com &#160;— Ada satu peluang yang selama ini terasa jauh buat banyak komunitas, tapi sekarang mulai dibuka pelan-pelan. Museum dan situs cagar budaya yang biasanya identik dengan ruang sunyi dan aturan ketat, kini justru menawarkan diri sebagai venue kolaborasi terbuka. Lewat inisiatif dari Museum dan Cagar Budaya (MCB), sebanyak 37 titik yang terdiri dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jakarta, Venuemagz.com </strong>&nbsp;— Ada satu peluang yang selama ini terasa jauh buat banyak komunitas, tapi sekarang mulai dibuka pelan-pelan. Museum dan situs cagar budaya yang biasanya identik dengan ruang sunyi dan aturan ketat, kini justru menawarkan diri sebagai <em>venue</em> kolaborasi terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lewat inisiatif dari Museum dan Cagar Budaya (MCB), sebanyak 37 titik yang terdiri dari 16 museum dan 21 situs cagar budaya resmi bisa diakses untuk berbagai kegiatan publik. Bukan cuma museum skala kecil, tapi juga nama-nama besar yang selama ini lebih sering dilihat sebagai destinasi wisata atau ruang edukasi formal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalamnya ada Museum Nasional Indonesia, Galeri Nasional, hingga Museum Kepresidenan Balai Kirti. Sementara di kategori cagar budaya, daftar yang dibuka bahkan mencakup kawasan ikonik seperti Borobudur, Prambanan, sampai Ratu Boko.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum lagi situs seperti Sangiran, Trowulan, hingga Benteng Rotterdam yang punya karakter kuat dan jarang tersentuh <em>event</em> komunitas secara langsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik ini, yang ditawarkan sebenarnya bukan sekadar “tempat gratisan”. Yang terbuka adalah akses ke ruang dengan nilai historis dan simbolik yang sudah terbentuk sejak lama. Artinya, setiap kegiatan yang masuk ke dalamnya otomatis punya bobot cerita yang berbeda dibandingkan <em>event</em> di <em>venue</em> konvensional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program ini memang dirancang cukup fleksibel. Komunitas bisa mengajukan berbagai bentuk kegiatan, mulai dari seminar, workshop, pameran, sampai diskusi publik. Bahkan, untuk kebutuhan riset atau produksi berbasis koleksi, ada peluang untuk mengakses materi yang selama ini tidak mudah dijangkau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di balik fleksibilitas itu, ada satu benang merah yang tidak bisa ditawar, yakni konteks. Kegiatan yang diajukan tidak bisa berdiri sebagai <em>event</em> kosong yang hanya mengejar keramaian. Harus ada kaitan dengan nilai edukasi, budaya, atau setidaknya punya relevansi dengan ruang yang digunakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah banyak komunitas biasanya tersandung. Ide acara sering kali menarik di permukaan, tapi tidak cukup kuat untuk menjawab pertanyaan sederhana, kenapa harus di museum, dan bukan di tempat lain?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses pengajuannya sendiri tidak rumit, tapi tetap menuntut keseriusan. Komunitas perlu menyiapkan proposal yang jelas, bukan hanya konsep besar, tapi juga tujuan, audien yang disasar, sampai gambaran jalannya acara. Semua itu kemudian dikirim ke kanal resmi yang disediakan, untuk selanjutnya masuk ke tahap kurasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu juga jadi faktor penting. Pengajuan harus dilakukan maksimal tiga bulan sebelum acara, memberi ruang bagi pengelola untuk menilai kelayakan sekaligus menyelaraskan dengan karakter lokasi. Dalam beberapa kasus, akan ada tahap audiensi sebagai bagian dari proses pendalaman ide.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi yang terbiasa dengan ritme <em>event</em> cepat, mekanisme ini mungkin terasa lebih lambat. Tapi untuk ruang seperti museum dan situs cagar budaya, pendekatan ini justru jadi <em>filter</em> penting. Bukan untuk membatasi, tapi untuk memastikan bahwa setiap kegiatan yang masuk tidak merusak, baik secara fisik maupun secara makna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, kalau dimanfaatkan dengan tepat, peluang ini bisa jadi titik loncat yang signifikan bagi komunitas. Menggelar workshop di dalam kompleks candi, atau diskusi di galeri nasional, bukan hanya soal lokasi, tapi tentang pengalaman yang terbentuk secara utuh baik untuk penyelenggara maupun audiens.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atmosfernya berbeda. Ceritanya sudah ada. Tinggal bagaimana kegiatan yang dibuat bisa menyatu, bukan sekadar menempel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Informasi lebih lanjut terkait program kolaborasi ini bisa diakses melalui unggahan resmi berikut:<br><a href="https://www.instagram.com/p/DXdaMdtAU0-/?igsh=azd1MXRvaXlvdTZl" target="_blank" rel="noopener">https://www.instagram.com/p/DXdaMdtAU0-/?igsh=azd1MXRvaXlvdTZl</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah ruangnya tersedia. Namun, apakah komunitas siap mengisinya dengan sesuatu yang benar-benar layak ada di sana.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://venuemagz.com/feature/mau-bikin-event-di-museum-atau-candi-kesempatan-terbuka-komunitas-bisa-ikut-masuk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">44651</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Diplomasi K-Pop Prabowo: Dari Meja Negosiasi ke Panggung Konser, Siapa Sebenarnya Diuntungkan?</title>
		<link>https://venuemagz.com/feature/diplomasi-k-pop-prabowo-dari-meja-negosiasi-ke-panggung-konser-siapa-sebenarnya-diuntungkan/</link>
					<comments>https://venuemagz.com/feature/diplomasi-k-pop-prabowo-dari-meja-negosiasi-ke-panggung-konser-siapa-sebenarnya-diuntungkan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Murdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 09:49:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[K-pop]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://venuemagz.com/?p=44648</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Venuemagz.com &#8211; Setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan awal April 2026, satu oleh-oleh yang tak biasa ikut dibawa pulang, yakni wacana memperbanyak konser K-Pop di Indonesia. Bukan sekadar hiburan, langkah ini disebut sebagai bagian dari hasil pembicaraan bilateral dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang langsung diarahkan ke sesuatu yang lebih [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jakarta, Venuemagz.com</strong> &#8211; Setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan awal April 2026, satu oleh-oleh yang tak biasa ikut dibawa pulang, yakni wacana memperbanyak konser K-Pop di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan sekadar hiburan, langkah ini disebut sebagai bagian dari hasil pembicaraan bilateral dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang langsung diarahkan ke sesuatu yang lebih konkret lewat panggung, idol, dan ribuan penonton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menteri Luar Negeri Sugiono mengonfirmasi arah kebijakan tersebut dalam konferensi pers di Kantor KSP, Jakarta, Rabu (22/4/2026). Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa peningkatan jumlah konser K-Pop menjadi salah satu topik yang dibahas dalam percakapan antar-pemimpin negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan kemarin juga disampaikan dalam sebuah percakapan, ini khusus penggemar K-POP, Bapak Presiden berencana meningkatkan jumlah konser bagi para pencinta K-POP,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau dibaca sekilas, ini terdengar seperti kabar gembira bagi fans. Namun, di balik euforia, ada dinamika yang jauh lebih besar. Ini adalah diplomasi budaya dalam bentuk paling kasatmata, dan Indonesia sedang mencoba masuk lebih dalam ke permainan itu.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Bukan Sekadar Konser, Tapi Soft Power</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Korea Selatan sudah lama menjadikan K-Pop sebagai alat diplomasi. <em>Hallyu Wave</em> bukan cuma soal musik, tapi strategi ekonomi dan geopolitik. Setiap konser di luar negeri membawa efek berlapis dari Negeri Ginseng itu, yaitu promosi budaya, peningkatan pariwisata, hingga ekspansi <em>brand</em> Korea.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan Indonesia membuka pintu lebih lebar untuk konser K-Pop, pertanyaannya sederhana, apakah ini hanya memperkuat dominasi Korea, atau justru jadi peluang bagi Indonesia untuk “menumpang arus” dan menggerakkan industrinya sendiri?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah posisi Indonesia mulai menarik. Dengan populasi muda yang besar dan <em>fanbase</em> K-Pop yang masif, Indonesia adalah pasar yang siap pakai. Tahun 2026 ini sudah dipenuhi <em>line-up</em> idol yang manggung mulai dari grup papan atas hingga <em>mid-tier</em> yang mulai agresif ekspansi Asia Tenggara. Bahkan, ada satu grup idol terkenal yang sempat memunculkan polemik antara Pemprov Jakarta dengan <em>fanbase</em> mereka soal penggunaan <em>venue</em> konser di Jakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya, keputusan pemerintah bukan menciptakan pasar baru, tapi memperbesar yang sudah ada.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Mesin Baru untuk Industri MICE</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Dari perspektif industri, terutama MICE (<em>Meetings, Incentives, Conventions, Exhibitions</em>), konser K-Pop adalah “<em>gold mine</em>” yang selama ini belum dimaksimalkan secara strategis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu konser besar bisa menggerakkan rantai ekonomi yang panjang, mulai dari <em>venue</em>, rantai produksi, <em>ticketing</em>, hotel, transportasi, F&amp;B, hingga UMKM di sekitar lokasi. Berbagai laporan industri menunjukkan bahwa konser skala stadion bisa menyedot puluhan ribu penonton, dengan perputaran uang mencapai ratusan miliar rupiah dalam satu <em>event</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum lagi efek turunan seperti okupansi hotel yang melonjak, penerbangan tambahan, hingga lonjakan transaksi digital di area <em>venue</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, konser bukan lagi sekadar <em>event</em> hiburan, tapi sudah masuk kategori <em>economic driver</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di titik ini juga muncul PR klasik: apakah infrastruktur Indonesia sudah siap?</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Venue Besar, Tapi Belum Konsisten</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia sebenarnya tidak kekurangan <em>venue</em>, misalnya saja GBK, JIS, ICE BSD, hingga beberapa <em>convention center</em> di kota besar lainnya. Namun, masalahnya bukan sekadar kapasitas, melainkan konsistensi standar internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Promotor global butuh kepastian dari teknis produksi, <em>load-in load-out</em>, keamanan, sampai akses transportasi. Sementara di Indonesia, pengalaman konser masih sering “untung-untungan” hari ini lancar, besok bisa <em>chaos</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika pemerintah serius menjadikan konser sebagai bagian dari strategi diplomasi dan ekonomi, peningkatan jumlah <em>event</em> harus diiringi dengan pembenahan ekosistem. Kalau tidak, Indonesia hanya akan jadi pasar, bukan pemain.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Siapa yang Paling Untung?</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Di atas kertas, semua pihak terlihat diuntungkan:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Fans dapat lebih banyak konser</li>



<li>Promotor dapat peluang bisnis</li>



<li>Pemerintah dapat perputaran ekonomi</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kalau ditarik lebih dalam, keuntungan terbesar masih berpotensi lari ke luar, ke agensi, manajemen artis, dan ekosistem industri Korea itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia baru benar-benar “menang” jika momentum ini dipakai untuk meningkatkan kapasitas promotor lokal, memperkuat <em>venue management</em>, dan mendorong ekspor budaya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa itu, kita hanya jadi penonton yang membayar mahal di rumah sendiri.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><a></a><strong>Antara Euforia dan Strategi</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Rencana menambah konser K-Pop memang terdengar seperti angin segar. Namun, untuk industri <em>event</em>, ini bukan sekadar kabar hiburan, melainkan sinyal arah kebijakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya sekarang bukan lagi berapa banyak <em>idol</em> yang akan datang, tapi sejauh mana Indonesia siap naik kelas dari sekadar market menjadi hub.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena kalau tidak, diplomasi K-Pop ini akan berhenti di satu hal saja, tiket <em>sold out</em> dan <em>venue</em> penuh, tapi nilai strategisnya lewat begitu saja.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://venuemagz.com/feature/diplomasi-k-pop-prabowo-dari-meja-negosiasi-ke-panggung-konser-siapa-sebenarnya-diuntungkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">44648</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pertarungan Tiga Raksasa Pameran Bahari</title>
		<link>https://venuemagz.com/event/pertarungan-tiga-raksasa-pameran-bahari/</link>
					<comments>https://venuemagz.com/event/pertarungan-tiga-raksasa-pameran-bahari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Harry]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 07:55:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Diving Resort Travel Expo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://venuemagz.com/?p=44632</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Venuemagz.com – Jakarta di pengujung April 2026 berubah menjadi kiblat bagi para pencinta wisata bahari dan kelautan. Bayangkan saja, dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, tiga raksasa pameran wisata bahari mengepung ibu kota. Ketiga pameran tersebut adalah Diving Resort Travel Expo di ICE BSD pada 17-19 April 2026, lalu Deep and Extreme Indonesia yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Jakarta, Venuemagz.com – Jakarta di pengujung April 2026 berubah menjadi kiblat bagi para pencinta wisata bahari dan kelautan. Bayangkan saja, dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, tiga raksasa pameran wisata bahari mengepung ibu kota.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga pameran tersebut adalah Diving Resort Travel Expo di ICE BSD pada 17-19 April 2026, lalu Deep and Extreme Indonesia yang diselenggarakan di Hall B Jakarta International Convention Center pada 23-26 April 2026, serta Marine Action Expo yang diselenggarakan di Balai Kartini pada 24-26 April 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diadakannya ketiga pameran tersebut menandakan bahwa industri pameran Indonesia masih sangat sehat. Selain itu, Indonesia dengan populasi 280 juta jiwa juga menunjukkan bahwa Indonesia menjadi pasar yang sangat kuat tidak hanya di tingkat domestik, tapi juga secara internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Surga bagi Pemburu Diskon, Efisiensi bagi Wisatawan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi para pengunjung, terutama mereka yang terbang dari luar kota atau mancanegara, fenomena &#8220;pameran beruntun&#8221; ini adalah berkah efisiensi. Sekali mendayung, dua-tiga pameran terlampaui. Mereka bisa membandingkan harga regulator terbaru atau paket <em>liveaboard</em> di Raja Ampat dari satu aula ke aula lainnya dalam satu paket perjalanan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Efek samping yang paling manis tentu saja perang harga. Kedekatan lokasi memaksa para <em>exhibitor</em> untuk &#8220;berdarah-darah&#8221; memberikan promo, diskon gila-gilaan, hingga bonus tambahan. Logikanya sederhana: jangan sampai calon pembeli pindah ke pameran sebelah hanya karena beda harga tipis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kanibalisme Pengunjung dan Peserta</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di balik gemerlap lampu <em>booth</em>, ada mendung yang membayangi para peserta pameran. Penyelenggaraan yang terlalu mepet memicu risiko &#8220;kanibalisme&#8221; pengunjung. Dengan anggaran belanja yang terbatas, konsumen cenderung hanya memilih satu acara yang dianggap paling prestisius, meninggalkan pameran lainnya dengan lorong-lorong yang sepi. Imbasnya? Penjualan peserta pameran jauh dari kata maksimal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi <em>brand</em> besar, fenomena ini adalah dilema operasional. Ada semacam beban moral untuk hadir di ketiga titik sekaligus demi menjaga gengsi agar tidak dianggap &#8220;tenggelam&#8221; oleh kompetitor. Padahal, biaya sewa <em>booth</em>, mobilisasi SDM, dan logistik dalam periode yang sangat padat ini menguras kantong perusahaan cukup dalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Antara Bisnis dan Etika</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat fenomena ini, Hosea Andreas Runkat, Ketua Umum ASPERAPI, mengakui bahwa di ASPERAPI ada peraturan yang mengatur supaya <em>event organizer</em> tidak mengadakan <em>event</em> yang sama dan diadakan berdekatan. Tujuannya jelas, yaitu agar sesama penyelenggara acara tidak saling “memakan” di kategori yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Tapi kita tidak bisa memaksakan, karena di mana-mana bisnis memang seperti itu,&#8221; ujar sosok yang akrab disapa Andre ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Andre, kunci utama dari hiruk-pikuk industri pameran ini bukanlah pelarangan, melainkan kesadaran kolektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Yang penting, etikanya dijaga. Dijarakin waktu penyelenggaraannya. Itu yang kita edukasi,&#8221; tutupnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, bola panas ada di tangan penyelenggara. Apakah mereka akan terus beradu jadwal demi berebut pasar, atau mulai mengatur ritme agar industri bahari ini tetap bisa bernapas panjang tanpa harus saling menghadang?</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://venuemagz.com/event/pertarungan-tiga-raksasa-pameran-bahari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">44632</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
