Menambah Kunjungan Wisman Melalui Wisata Minat Khusus

Friday, 03 January 20 Herry Drajat
International Travel & Tourism Awards
Wisatawan menonton sesi pemberian makanan tambahan di TN Tanjung Puting. Foto: Venuemagz/Erwin

Salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia adalah dengan menyasar wisatawan yang berkualitas. Mereka biasanya dari kalangan yang secara ekonomi lebih mapan dibanding wisatawan biasa dan tentunya mempunyai spending money yang besar.

Menurut Helbert William Faulkner (1945-2002) yang dijuluki sebagai Father of Tourism Research di Australia serta pengarang buku Progressing Tourism Research And Beyond, pariwisata yang berkualitas, atau disebut juga sebagai pariwisata baru, didominasi oleh wisatawan dengan ciri-ciri antara lain berpengalaman, suka merencanakan perjalanan sendiri, dan bepergian secara mandiri.

Lebih lanjut ciri-ciri lainnya adalah bersifat spontan, luwes dalam mengatur susunan perjalanan, lebih terdorong untuk mencari obyek wisata dengan minat khusus seperti wisata air dan wisata petualangan, dan umumnya kaya dan mencari pengalaman yang asli (khas) dan perjalanan mereka singkat ke satu tujuan wisata saja.

Yang perlu digarisbawahi adalah pada hal mencari obyek wisata dengan minat khusus. Menurut Chafid Fandeli dalam buku Perencanaan Kepariwisataan Alam (2002), pariwisata minat khusus dapat terfokus pada dua aspek, yakni aspek budaya di mana wisatawan akan terfokus perhatiannya pada tarian, musik, seni, kerajinan, pola tradisi masyarakat, aktivitas ekonomi yang spesifik, arkeologi serta sejarah. Aspek yang kedua adalah aspek alam, yaitu wisatawan yang terfokus pada flora, fauna, geologi, taman nasional, hutan, sungai, danau, pantai, laut, dan perilaku ekosistem tertentu.

Pariwisata minat khusus mempunyai kaitan erat dengan petualangan yang di dalamnya terdapat aktivitas fisik. Oleh karena itu, bentuk pariwisata ini banyak terdapat di daerah terpencil, seperti kegiatan surfing, tracking, hiking, pendakian gunung, rafting di sungai, dan lainnya.

Melalui dua pendekatan tadi Indonesia mempunyai modal yang sangat besar. Beragamnya suku dan budaya yang ada di Indonesia tentunya jika dipromosikan serta dikemas dengan baik akan dapat mendatangkan wisatawan minat khusus. Selain itu, yang tak kalah penting adalah kekayaan alam Indonesia, dari mulai gunung, hutan, pantai dengan flora dan faunanya tentunya juga merupakan modal untuk mengembangkan wisata minat khusus.

Menurut I Putu Sudana, Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, pariwisata minat khusus ini juga bisa dikaitkan dengan upaya pengayaan pengalaman atau enriching bagi wisatawan yang melaksanakan perjalanan ke daerah-daerah yang masih belum terjamah atau ke daerah yang masih alami.

Untuk mengembangkan wisata minat khusus, ada beberapa kriteria yang bisa digunakan sebagai pedoman (Fandeli, 2002), yakni learning, pariwisata yang mendasar pada unsur belajar; rewarding, pariwisata yang memasukkan unsur pemberian penghargaan; enriching, pariwisata yang memasukkan peluang terjadinya pengkayaan pengetahuan antara wisatawan dengan masyarakat; dan adventuring, pariwisata yang dirancang dan dikemas sehingga terbentuk wisata petualangan.

Menurut pakar marketing Hermawan Kertajaya, wisata minat khusus memiliki target segmen wisatawan yang spesifik dengan minat yang spesifik pula. Pasarnya pun tidak massal, namun niche. Oleh karena ini, value yang ditawarkan dapat optimal karena sangat spesial.