Nasib Humas Hotel: Dari Escort Lady hingga Cost Center

Wednesday, 17 May 23 Bayu Hari
Bisnis Hotel

Selain memperluas jaringan dan memperbaiki struktur organisasi, mengubah paradigma fungsi humas di perhotelan menjadi tantangan yang dihadapi Himpunan Humas Hotel (H3).

Pada tahun 90an citra para pekerja di industri perhotelan dan pariwisata masih dikonotasikan negatif oleh awam, terutama bagi kaum wanita. Pasalnya, mulai dari pola kerja, gaya hidup, sampai tata busananya dinilai tak mencerminkan budaya ketimuran. 

Paradigma itu sempat dirasakan oleh Henny Puspitasari, yang ketika itu bekerja di bagian Hubungan Masyarakat (Humas) salah satu hotel berbintang di Jakarta. “Profesi humas hotel dianggap sebagai escort lady,” kata Hanny yang kini menduduki posisi Head of Secretariat Media Academy (Media Group Network). 

Untuk memperbaiki citra tersebut, Henny bersama dengan beberapa humas hotel berbintang lain kemudian sepakat untuk membentuk organisasi. Walhasil, Himpunan Humas Hotel (H3) pun lahir pada 27 November 1995. Dan Henny dipercaya menduduki posisi sebagai Ketua H3.

BACA JUGA:   Ketika Bumi Sriwijaya Bertumpu pada MICE

Dalam perjalanannya, H3 bukan saja berhasil memperbaiki citra humas hotel, melainkan turut menepis kesan negatif terhadap pekerja di sektor perhotelan. Selain itu, H3 juga menjadi wadah berkumpul, memperluas knowledge, serta membentuk jejaring ke pelbagai instansi pemerintahan, asosiasi, dan stakeholder pariwisata. 

Namun, pamor H3 tak selalu mentereng. Seiring dengan pergantian pengurus, kondisi perekonomian nasional, dan kompetisi dalam industri perhotelan membuat H3 sempat mati suri.

Alih-alih semangat menghidupkan H3 kembali muncul pada tahun ini. Yulia Maria, Ketua H3 yang baru menjadi motor penggeraknya. “Kita ingin mengembalikan fungsi H3 sebagai ajang networking dengan industri, pemerintah, dan asosiasi. Kita juga akan kembali mengadakan workshop/seminar untuk meningkatkan kemampuan,” kata Yulia. 

Selain melaksanakan fungsi H3 sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) organisasi, Yulia pun berambisi untuk melegalkan H3 sebagai organisasi yang berbadan hukum. “Tahun ini H3 ditargetkan akan berbadan hukum,” katanya.

BACA JUGA:   Kepulauan Anambas Siap Menyambut Investor Pariwisata

Lebih lanjut Yulia menjelaskan bahwa H3 pada tahun ini akan memperluas jaringan organisasinya di beberapa daerah, semisal Yogyakarta, Bandung, dan Bali. “Kami akan coba komunikasi lagi dengan humas-humas hotel di sana,” kata Yulia. 

Namun, mengajak humas hotel untuk aktif berorganisasi bukan hal yang mudah. Pasalnya, mereka harus dapat menyisihkan sedikit waktu di tengah kesibukan meningkatkan citra hotelnya. 

Selain itu, adanya kewajiban untuk membayar iuran anggota juga menjadi tantangan tersendiri. “Mereka bisa aktif jika mendapatkan support dari manajemen. Untuk itu, saya coba masuk dan berkomunikasi dengan asosiasi lain di bidang perhotelan,” katanya.

Perihal mendapat restu dari manajemen ini pun menjadi agak sedikit rumit bagi Yulia. Mafhum, beberapa manajemen hotel masih melihat kegiatan humas hanya sebagai cost center, bukan investasi. Tak heran apabila beberapa hotel di Indonesia, terutama bintang 3 ke bawah, belum memiliki SDM yang didedikasi khusus untuk menjalankan fungsi humas. 

BACA JUGA:   STP Bandung: Tujuh Windu Mencetak SDM Andal

“Harus melihatnya sebagai investasi. Jika ada 3 brand, harga sama, bagaimana konsumen memilih jika bukan karena branding,” kata Yulia.

Oleh sebab itu, merubah paradigma fungsi humas di industri perhotelan pun menjadi pekerjaan rumah bagi H3. Meluruskan paradigma bahwa fungsi humas cukup vital dalam menunjang pencapaian kinerja bisnis di industri perhotelan.