Meningkatkan Okupansi Dengan Harga Promosi

Wednesday, 23 September 20 Bonita Ningsih
Hotel GranDhika Iskandarsyah Jakarta

Pariwisata merupakan salah satu industri yang paling terdampak dengan adanya pandemi COVID-19. Perhotelan yang menjadi bagian di dalamnya juga ikut merasakan dampak dari penyebaran virus Corona dengan kehilangan banyak pendapatan.

Berdasarkan laporan dari Colliers International Indonesia mengenai kinerja hotel di Jakarta pada kuartal dua tahun 2020, pada akhir April 2020 tingkat hunian hotel di Jakarta mencapai titik terendah dari beberapa tahun terakhir dengan hanya menghasilkan 15,8 persen.

“Ini jelas karena pandemi karena pendapatan hotel di Jakarta kebanyakan ditopang dengan kegiatan bisnis. Tetapi, selama pandemi, banyak kegiatan bisnis yang ditunda bahkan dibatalkan oleh perusahaan,” ujar Ferry Salanto, Head of Research Colliers International Indonesia.

Hal ini juga diperparah dengan kebijakan pemerintah setempat yang memberlakukan bekerja dari rumah saja bagi karyawan di perusahaan atau pemerintahan. Oleh karena itu, perusahaan diminta untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut dengan melakukan kegiatan bisnis secara virtual.

“Maka dari itu, kegunaan hotel sebagai sarana menginap atau rapat tidak dapat terlaksana selama pandemi. Permintaan untuk melakukan kegiatan bisnis di hotel pun turun drastis,” dia menambahkan.

Colliers International Indonesia juga mencatat pada April 2020 pemerintah sempat menghentikan sementara operasional penerbangan komersial di beberapa wilayah Indonesia. Hal tersebut juga menjadi salah satu faktor penurunan bisnis hotel yang ada di Jakarta.

Namun, pada bulan Mei 2020, pemerintah telah membuka kembali bandara di Indonesia dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Kebijakan tersebut membantu meningkatkan tingkat hunian hotel menjadi 23,1 persen pada bulan Mei.

Meskipun pada Mei 2020 tingkat hunian hotel mulai meningkat, namun tarif harian rata-rata (ADR) hanya berada di angka US$45,50. Menurut Ferry, ADR tersebut menjadi nilai terendah dalam sejarah bisnis perhotelan dan jauh lebih rendah dibandingkan nilai rata-rata pada tahun 2016 hingga 2019 yang berkisar US$72,1 dan US$80,7.

“Saat ini belum ada banyak pilihan bagi pelaku bisnis perhotelan untuk meningkatkan kinerja tingkat hunian mereka selain dari menurunkan tarif kamar hotel. Makanya, capaian tarif harian rata-rata hotel di Jakarta terbilang paling rendah,” Ferry menambahkan.

Berdasarkan laporan dari Colliers International Indonesia, harga rata-rata hotel bintang tiga di Jakarta hanya di bawah Rp400.000. Kemudian hotel bintang empat di bawah Rp750.000, dan untuk hotel bintang lima di bawah Rp1.600.000. Jumlah tersebut belum termasuk promosi yang ditawarkan langsung oleh masing-masing hotel.