Anak dan Dunia Digital

Saturday, 04 September 21 Venue

Anak-anak dan dunia digital saat ini tidak bisa dipisahkan. Sebagian besar waktu anak-anak digunakan untuk melakukan kegiatan secara online, seperti komunikasi, belajar, menonton film, bermain game, dan lainnya.

Ratna Winahyu Utami seorang Produser & Penyiar di Radio Kosmonita Malang, mengatakan, anak-anak bahkan telah mengenali dunia digital sejak usia sangat dini. “Orangtua perlu mengingat di tengah canggihnya teknologi, gawai bukanlah solusi untuk mendiamkan anak,´kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (2/9/2021).

Anak, kata dia, tetap harus diajak beraktivitas secara fisik dan berinteraksi secara langsung agar penggunaan gawai tetap berdampak positif bukan sebaliknya. Ratna mengatakan, terdapat cara penanganan berbeda kepada anak sesuai usia. Menurutnya, terdapat dua tahapan usia anak-anak, yaitu early childhood (1-6 tahun) dan later childhood (6-12 tahun).

BACA JUGA:   Menyebarkan Budaya Indonesia Melalui Media Sosial

“Kita harus paham usia anak-anak karena cara menanganinnya berbeda-beda. Orangtua juga sudah tidak bisa lagi membandingkan kehidupannya saat kecil dengan dunia anak sekarang karena sudah tidak relevan,” tutur Ratna.

Di samping itu, lanjut dia, keburukan dunia digital juga mengintai anak-anak, seperti paparan konten negatif (pornografi, kekerasan, cyber bullying), predator anak-anak, timbulnya masalah kesehatan fisik dan mental (kecanduan, sulit berinteraksi, dan emosi yang tidak stabil).

Kecanduan, kata Ratna, menjadi salah satu masalah paling umum yang ditimbulkan akibat penggunaan gawai secara berlebih. Oleh karena itu, menurut dia, terdapat cara untuk mencegah kecanduan gawai pada anak-anak di dunia digital, yaitu:

  • Membuat aturan yang tegas dan disiplin dalam penggunaan gawai. Aturan ini bisa mengenai durasi yang disepakati oleh anak dan orangtua. Buat juga kesepakatan jika ada yang melanggar.
  • Pendampingan dari orangtua atau orang dewasa saat screen time. Orangtua bisa mengontrol konten yang diakses oleh anak.
  • Buat jadwal bermain atau aktivitas fisik yang disepakati bersama. Ratna mengatakan, peran orangtua sangat penting dalam hal ini. Dengan menjalankan aktivitas fisik, anak jadi bergerak dan menjauhi gadget.
BACA JUGA:   Menjaga Privasi di Media Sosial

Ratna mengatakan, dari sisi positif, kebaikan dunia digital mempermudah anak-anak mendapatkan dan menggali informasi. Anak bisa kenal berbagai negara beserta budayanya. Dampak positif lainnya yaitu membuka wawasan tanpa terbatas lokasi, kreatif, dan bisa belajar dari siapapun. “Misalnya, sekarang ini sekolah baik formal dan non formal menggunakan teknologi dan internet. Begitu pun dengan hiburan, seperti game, film, musik dan lainnya.”

BACA JUGA:   Membuat Kata Sandi Unik, Kuat, dan Mudah Diingat

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).